Ini satu-satunya peluang kita untuk menemukan dari satu buku bahwa Ahmadiyah bukan hanya Islam… tetapi adalah Islam sejati atau yang sesungguhnya. Dan ada satu alasan terkuat mengapa kita perlu mengenal Ahmadiyah dengan benar sebelum kita meninggalkan dunia ini...



Semua Berawal Dari Mirza Ghulam Ahmad


Lahir pada 1835 di Qadian (India), Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau'ud (Al-Masih yang Dijanjikan) dan Imam Mahdi as., senantiasa mengabdikan diri untuk mempelajari Al-Qur'an dan menjalani kehidupan penuh doa dan ibadah. Mendapati Islam telah menjadi sasaran serangan-serangan keji dari segala arah, nasib umat Islam telah berada di titik terendah, keimanan telah mengarah kepada keraguan dan agama hanya ritual kulit semata, beliau melakukan upaya menjelaskan dan membela Islam.

Dalam karya tulis beliau yang sangat luas (termasuk karya agung beliau Brahin-e-Ahmadiyya), ceramah-ceramah beliau, wacana, debat-debat agama dll, beliau menegaskan bahwa Islam adalah agama yang hidup dan satu-satunya agama yang dengan mengikutinya seseorang dapat menjalin hubungan dengan Penciptanya, masuk ke dalam jalinan hubungan yang erat kepada-Nya. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-Qur'an dan syariat Islam telah dirancang untuk kesempurnaan akhlak, intelektual dan rohani manusia.

Beliau mengumumkan bahwa Allah Swt telah mengutus beliau sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi seperti yang disebutkan dalam nubuatan-nubuatan Al-Kitab, Al-Qur'an dan Hadits. Pada 1889 beliau mulai menerima bai'at dari jamaahnya, yang sekarang telah berdiri di lebih dari 220 negara dan wilayah di dunia. Delapan puluhan buah buku beliau sebagian besar ditulis dalam bahasa Urdu, beberapa lainnya dalam bahasa Arab dan Persia.

Simak video 4,5 menit ini tentang tujuan diutusnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Unduh video ini (MP4 10 MB)


Setelah kewafatan pada 1908, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. digantikan oleh Hadhrat Maulwi Nuruddin ra., Khalifatul Masih I. Sepeninggal Hadhrat Maulwi Nuruddin ra pada 1914, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra., yang juga merupakan putra Hadhrat Masih Mau'ud as. yang dijanjikan, terpilih sebagai Khalifah II. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad memangku jabatan Khalifah ini hampir 52 tahun lamanya. Beliau wafat pada 1965 dan digantikan oleh putera sulungnya, yakni Hadhrat Mirza Nasir Ahmad rh., cucu dari Masih Mau'ud as. sebagai Khalifah III.

Setelah 17 tahun pengkhidmatannya, beliau wafat pada 1982. Beliau digantikan oleh adiknya, yakni Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rh. sebagai Khalifatul Masih IV yang memimpin Jamaah Ahmadiyah mencapai kekuatan dan pengakuan global. Beliau wafat pada 2003. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba., Khalifatul Masih V adalah pemimpin Ahmadiyah saat ini yang memiliki hubungan istimewa sebagai cicit dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.


Unduh GRATIS buku Ahmadiyah Islam Sejati


Ahmadiyah Islam Sejati karya Hz. Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra, Khalifatul Masih II, adalah versi panjang dari sebuah makalah pendek yang juga ditulis oleh penulis, untuk dibacakan dalam Konferensi Agama-Agama Yang Hidup Dalam Kekaisaran yang diadakan pada 1924 di London, Inggris.

Buku ini, setelah membahas ciri-ciri khas Jamaah Muslim Ahmadiyah dan tujuan-tujuan prinsip agama, menjelaskan seluruh luas lingkup ajaran Islam mulai keberadaan dan sifat Allah serta hubungan manusia dengan-Nya sampai kehidupan setelah mati dan di antaranya secara luas mencakup ajaran-ajaran Islam tentang hubungan-hubungan sosial, internasional dan antar-agama dalam berbagai aspeknya.

Buku ini merupakan suatu kajian menyeluruh tentang Islam dalam keindahan serta pengenalan terhadap Jamaah Muslim Ahmadiyah. Ini sama relevannya hari ini seperti ketika ia pertama diterbitkan dan merupakan sarana ampuh untuk melawan propaganda permusuhan terhadap Islam khususnya dan tema-tema agama fundamental umumnya.

Dalam risalah ini penulis secara mendalam menjelaskan masalah-masalah yang begitu penting seperti konsepsi tentang Allah, hubungan-Nya dengan manusia dan sarana pengungkapannya, serta kesadaran dan pencapaian persekutuan dengan Allah. Beliau membahas ajaran-ajaran Islam tentang akhlak dan menggambarkan sarana-sarana yang disediakan Islam untuk memperoleh akhlak-akhlak yang baik. Dalam aspek-aspek sosial, penulis menjelaskan ajaran-ajaran Islam tentang hubungan dalam berbagai bidang (keluarga, masyarakat, antara para mitra bisnis, antara pemerintah dan rakyat, antara bangsa-bangsa dan negara-negara, dll.).

Beliau menjabarkan sudut pandang Islam mengenai sifat roh manusia dan tujuan penciptaannya. Juga menjelaskan apa yang Islam ajarkan tentang kehidupan setelah kematian, ganjaran dan hukuman dari kehidupan itu serta sifat surga dan neraka. Fakta bahwa penulis dengan cermat dan luas mendukung pemaparannya tentang Islam dari teks Alqur’an dan sabda-sabda Nabi Muhammad saw. menempatkan disertasi unik ini di antara karya-karya paling otentik tentang Islam.

Sangat diharapkan bahwa buku ini akan menghapus keraguan banyak orang dan menggugah mereka dengan semangat baru terhadap penelaahan serius dan tak menyimpang terhadap ajaran-ajaran asli Islam yang diberikan kepada umat manusia untuk petunjuk dan keselamatan mereka lebih dari 1400 tahun lalu oleh Allah melalui Nabi Muhammad saw. Juga semoga ini akan menyegarkan dan menguatkan iman mukmin sejati.

Daftar Isi


SEJARAH AHMADIYAH
CIRI-CIRI KHAS AHMADIYAH
APA SEHARUSNYA TUJUAN UTAMA KONFERENSI AGAMA
TUJUAN-TUJUAN UTAMA AGAMA
TUJUAN PERTAMA AGAMA
Konsepsi Islam Tentang Allah
Hubungan Manusia dengan Allah
Jalan Manusia Dapat Mengungkapkan Hubungannya Dengan Allah
Sarana Manusia Dapat Mencapai Allah dan Perwujudan Praktis Tujuan Ini dalam Kehidupan Ini
TUJUAN KEDUA AGAMA
Akhlak-Akhlak
Tahap-Tahap Berbeda dari Sifat-Sifat Akhlak
Mengapa Sifat-Sifat Akhlak Baik dan Buruk Disebut Demikian?
Sarana Memperoleh Akhlak Baik dan Menghindari Akhlak Buruk
TUJUAN KETIGA AGAMA
Segi Sosial Islam
Hubungan Keluarga
Hubungan Orangtua-Anak
Hubungan Tetangga & Masyarakat
Kewajiban-Kewajiban Warga Bangsa/Negara
Pengentasan Anak-Anak Yatim
Hutang Piutang
Perdagangan
Perkumpulan & Pertemuan
Hubungan Antara Pemerintah dan Rakyat, Majikan dan Buruh
Kekuasaan dan Kewajiban-Kewajiban Negara Islam
Kewajiban-Kewajiban Rakyat
Hubungan Antara Majikan dan Buruh
Hubungan Antara Kaum Kaya dan Kaum Miskin, serta Kekuasaan dan Kewenangan Pejabat
Hubungan Internasional
Hubungan Antara Para Penganut Agama-Agama Berbeda
TUJUAN KEEMPAT AGAMA
Kehidupan Sesudah Mati
Sifat Ganjaran dan Hukuman Dari Kehidupan Setelah Kematian
Di Mana dan Dalam Bentuk Apa Hukuman dan Ganjaran dari Dunia Berikutnya Mewujudkan Diri
Akankah Ganjaran dan Hukuman Kekal?
Akankah Ada Amal dalam Surga atau Akankah Ia Berakhir?
Pengaruh Ajaran-Ajaran Almasih Yang Dijanjikan as. Pada Para Pengikutnya

Tentang Penulis


Putera yang Dijanjikan dari Almasih yang Dijanjikan dan Mahdi as.; Tanda nyata dari Allah SWT; Firman Allah yang kedatangannya dinubuatkan oleh Nabi Muhammad saw. dan Almasih yang Dijanjikan as. juga nabi-nabi terdahulu; sebuah Bintang dalam cakrawala rohani yang semisal itu dunia harus menunggu ratusan tahun untuk muncul; hamba Allah, yang dimahkotai dengan cahaya rohani yang memancarkan sinar yang begitu gemilang sehingga akan menanamkan kehidupan rohani ke dalam para pengikutnya serta memikat orang-orang yang tidak beruntung untuk mengikutinya; seorang orator yang demikian menakjubkan sehingga pidato-pidatonya akan membuat pendengarnya tidak beranjak selama berjam-jam, entah dalam hujan atau cerah, jauh ke peraduan malam-malam sementara kata-kata mengalir dari lidahnya laksana madu yang menetes memasuki telinga mereka mencapai kedalaman jiwa mereka mengisinya dengan ilmu dan menyegarkan iman mereka; samudera ilmu Ilahi dan duniawi; tanpa ragu jenius terbesar abad ke-20; sosok dengan kecerdasan dan ingatan yang luar biasa; lambang dari sifat-sifat kepemimpinan; sosok yang keserbabisaannya tidak dapat dipahami oleh akal—Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra. (1889-1965), Muslih Mau’ud (Pembaharu yang Dijanjikan) adalah anak sulung dan pengganti kedua (Khalifah) dari Almasih Yang Dijanjikan as.

Beliau memimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah di usia muda 24 tahun ketika Jamaah masih dalam masa pertumbuhan dan memeliharanya hingga dewasa selama lebih dari 50 tahun dengan bimbingan rohani, doa, darah, air mata dan kerja kerasnya. Tidak hanya beliau membentengi dasar-dasar Jemaat yang ditetapkan oleh Almasih Yang Dijanjikan as., tetapi mengembangkan struktur Jamaah dengan mendirikan berbagai program dan organisasi yang mengambil inspirasinya dari Almasih Yang Dijanjikan as dan di bawah bimbingan Ilahi.

Perhatian utamanya, yang untuk itu beliau mencurahkan seluruh hidupnya, adalah untuk memenuhi misi Almasih Yang Dijanjikan as.—tugas berat menyebarkan pesan Islam sejati dalam kemurniannya ke pelosok-pelosok dunia. Untuk mencapai ini, beliau memrakarsai gerakan Tahrik Jadid yang melaluinya tersebar, dan terus tersebar, usaha dakwah Jamaah ke seluruh dunia. Kecerdasannya, kecendekiawanannya yang mendalam dan luas, dan utamanya ilmunya yang diberikan Allah memungkinkan beliau menghasilkan sangat banyak tulisan, pidato dll.

Ketika Almasih Yang Dijanjikan as. secara khusyuk berdoa kepada Allah untuk memberinya suatu Tanda untuk mendukung Islam, Allah memberinya kabar suka tentang puteranya ini dan berfirman:
“… Dia akan sangat cerdas … dan akan penuh dengan ilmu duniawi dan rohani… Putera, yang menyenangkan hati, berderajat tinggi, mulia; suatu perwujudan dari yang Pertama dan yang Terakhir, dari yang Benar dan yang Tinggi; seolah-olah Allah telah turun dari langit. Lihatlah cahaya datang. Kami akan tiupkan roh kami kepadanya …” [Wahyu 20 Februari 1886]

Klik gambar buku untuk mengunduh Ahmadiyah Islam Sejati (MS Word 154 halaman 1,4 Mb)


Dengan infak/sedekah Anda hanya Rp 149.000, Anda bisa mengunduh dan menikmati buku Ahmadiyah Islam Sejati yang terilustrasi belasan banner (188 halaman) disertai 27 video dakwah format 3GP file kecil terkait Ahmadiyah untuk meyakinkan Anda bahwa Ahmadiyah dan Islam itu satu dan hal yang sama, dan Ahmadiyah adalah Islam sejati yang telah Allah tampakkan kepada dunia melalui utusan yang dijanjikan di Zaman ini.


Infak Anda yang kecil ini (yang tentu tak sebanding dengan khazanah ilmu dan makrifat yang akan Anda serap dari paket ini yang tak ternilai dan tak akan Anda temukan dari sumber-sumber lain) akan sangat bermanfaat dalam menggerakkan rantai dakwah dan pembinaan mental rohani oleh orang-orang yang awalnya menemukan kebenaran melalui Ahmadiyah dan lalu bertekad untuk berjuang hingga akhir hayat untuk menyebarkan Ahmadiyah Islam sejati melalui sistem ini, dengan mendapatkan nafkah halal dari gairah atau kecintaan untuk memperbaharui kerohanian masyarakat.

Anda akan mengunduh ke komputer atau ponsel Anda buku AIS terilustrasi disertai 27 video Islam sejati produksi Muslim Television Ahmadiyya Indonesia., dari 3 topik. Format video 3GP dengan ukuran file kecil membuat memori ponsel Anda bisa menyimpan 3-5 kali lebih banyak video dibandingkan dengan format MP4, namun tetap nyaman ditonton.

Anda menghemat banyak uang (dalam bentuk kuota) karena setelah video-video diunduh, Anda bisa menontonnya berulang-ulang dari ponsel tanpa harus mengakses Youtube lagi.

Topik terkait kebenaran Hz. Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Al-Masih yang Dijanjikan & Imam Mahdi (13 video)

1. Bukti Kebenaran Hz Mirza Ghulam Ahmad as (3GP 31 menit 18 Mb)
2. Kebenaran Hz. Masih Mauud as. Melalui Nubuatan (3GP 26 menit 15 Mb)
3. Kecintaan Hz Masih Mau'ud as kepada Rasulullah saw (3GP 27 menit 16 Mb)
4. Kenapa Hz Mirza Ghulam Ahmad as Mendakwakan diri Secara Bertahap (3GP 10 menit 4 Mb)
5. Kenapa Hz Mirza Ghulam Ahmad as tidak naik haji (3GP 7 menit 3 Mb)
6. Kereta Api dan Wabah Taun Tanda Kedatangan Masih Mauud as (3GP 24 menit 13 Mb)
7. Kewafatan Hz Mirza Ghulam Ahmad as (3GP 7 menit 3 Mb)
8. Mukjizat & Tanda Kebenaran Imam Mahdi as (3GP 33 menit 19 Mb)
9. Mukjizat Masih Mau'ud as (3GP 18 menit 8 Mb)
10. Putra Yang Dijanjikan Oleh Al-Masih Yang Dijanjikan (3GP 30 menit 17 Mb)
11. Sejarah Pendakwaan Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. (3GP 22 menit 12 Mb)
12. Tanda Kedatangan Imam Mahdi (3GP 33 menit 20 Mb)
13. Tanda tanda kedatangan Isa Al Masih ibnu Maryam (3GP 25 menit 15 Mb)

Topik terkait Ahmadiyah (6 video)

14. Baiat-Dalam-Jemaat-Muslim-Ahmadiyah (3GP 8 menit 6 Mb)
15. Islam Ahmadiyah Kebangkitan Agama 1 (3GP 18 menit 11 Mb)
16. Islam Ahmadiyah Kebangkitan Agama 2 (3GP 10 menit 17 Mb)
17. Makna Baiat Masuk ke dalam Agama (3GP 23 menit 13 Mb)
18. Sejarah Qadian Tempat Kelahiran Hz. Mirza Ghulam Ahmad as (3GP 35 menit 19 Mb)
19. Tanda Agung Allah SWT tentang Kematian Zia ul Haq (3GP 14 menit 7 Mb)

Topik terkait klarifikasi kesalahan akidah non-Ahmadiyah, fitnah & tuduhan kepada Ahmadiyah (8 video)

20. Apakah Ahmadiyah Bukan Islam Kenapa Harus Membuat Agama Baru (3GP 26 menit 12 Mb)
21. Apakah Nabi Isa as Masih Hidup di Langit (3GP 24 menit 15 Mb)
22. Apakah Syahadat Ahmadiyah Berbeda (3GP 32 menit 16 Mb)
23. Fitnah Penentang kepada Ahmadiyah (3GP 26 menit 13 Mb)
24. Kewafatan Nabi Isa as - Maksud ayat Rofa'ahullahu ilaih.3gp (3GP 25 menit 15 Mb)
25. Nabi Muhammad saw Khatamman Nabiyyin (3GP 33 menit 19 Mb)
26. Tuduhan Muslim Ahmadiyah Tidak Mau Sholat Bergabung (3GP 25 menit 10 Mb)
27. Tuduhan Tafsir Al Quran versi Ahmadiyah tidak sesuai kaidah (3GP 25 menit 11 Mb)

PERHATIAN : Mohon jangan muncul pikiran bahwa adanya infak ini berarti sistem ini menjual atau berjualan agama. Sama sekali tidak. Seperti halnya adalah halal untuk memungut biaya yang wajar dari pengadaan sarana-sarana pembelajaran agama (misalnya pencetakan buku-buku dsb) atau penuaian ibadah (misalnya ongkos penerbangan ke Tanah Suci dalam ibadah umroh dan haji), pengadaan video-video Islam sejati format 3GP di situs ini pun melibatkan kerja bernilai ekonomi. Video-video unduhan 3GP ini sendiri memberi manfaat bagi Anda dibanding dengan keberadaannya sebagai video Youtube. Misalnya, Anda sesungguhnya memiliki video-videonya karena sudah tersimpan dalam ponsel atau laptop Anda. Anda juga bisa membagi file videonya kepada para kawan dan kerabat, bukan cuma link Youtube-nya. SEMUA video 3GP ini berasal dari saluran Youtube dari Muslim Television Ahmadiyya Indonesia. Anda bisa klik link itu dan mencari dan menemukan ke-27 video tersebut di atas. Dengan software atau aplikasi pengunduh Youtube Anda bahkan bisa mengunduh semua video itu ke komputer atau ponsel Anda dalam format MP4 yang tentu berukuran file jauh lebih besar. Sepenuhnya terserah Anda...jika Anda ingin menghemat waktu, tenaga, dan biaya dalam memiliki ke-27 video dakwah ini di ponsel Anda, bukan hanya selamanya menyaksikannya di Youtube, infak Rp 149.000 tentu sangat terjangkau.

Ini satu contoh saja video MTA Indonesia di Youtube (Seruan Perdamaian Kepada Dunia oleh Khalifah Ahmadiyah) yang bisa Anda unduh format 3GP-nya…


Klik untuk unduh video ini (3GP 26 menit 15 Mb)

Klik untuk mengambil Paket AIS (Rp 149000)


Anda bisa berdakwah melalui system ini dan menerima komisi 67% (Rp 100.000) untuk tiap orang yang Anda undang ke situs ini yang lalu mengambil paket AIS (ebook + 27 video 3GP)


Bila Anda tertarik untuk mempelajari lebih jauh SEKALIGUS berjuang menyebarkan Ahmadiyah Islam sejati kepada masyarakat melalui sistem ini, sambil berpeluang mendapat nafkah yang halal & memuaskan…bergabunglah gratis. Komisi Anda Rp 100.000 dari tiap anggota yang anda sponsori yang lalu mengambil paket. Anda tidak harus mengambil paket untuk mempromosikan situs ini dan menerima komisi. Anda menerima komisi di hari yang sama anggota yang anda sponsori mengambil paket.

Untuk menarik anggota baru ke situs ini (yang berarti Anda sedang berdakwah menyebarkan Ahmadiyah Islam sejati), Anda hanya perlu secara teratur (misalnya setiap hari) membagi alat-alat promosi yang tersedia untuk anda gunakan dari khazanah ilmu Ahmadiyah di medsos (Whatsapp, Facebook dll.) disertai link situs ini.

Baik Anda mengambil paket berbayar AIS dan/atau ingin mempromosikan paket ini untuk mendapat komisi 67%, klik tombol di bawah untuk bergabung dan membuat akun di sini. Anda akan mengunduh paket yang anda ambil dalam member area. (Semua field wajib diisi, dan berikan nama lengkap anda dan nama lengkap sponsor anda. Foto diri juga harus dipasang.)

Newsfeed

  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Bagaimana mungkin kita harus menganggap suatu hal itu jahat dan harus merasa tidak jijik terhadapnya? Semua kejahatan adalah kekotoran rohani. Ketika kita melihat seorang dalam kondisi kotor atau dalam pakaian kotor, kita merasa jijik kepadanya, meskipun ia berhubungan dekat dengan kita, dan tidak ada yang akan mengecam perasaan jijik ini. Lalu, mengapa kita harus mengecam perasaan jijik rohani yang muncul saat kita menyaksikan suatu perbuatan jahat? Perasaan ini perlu dipuji, dan saat ia ditampakkan pada tempat dan kesempatannya yang tepat, ia suatu sifat akhlak yang baik. Sebenarnya semua kecaman atas rasa benci dan jijik ini disebabkan kerancuan antara kejahatan dan pelaku kejahatannya. Jelas, kita harus memedulikan dan menjaga pelaku kejahatan pun, tapi kita juga harus membenci dan tidak menyukai kejahatan. Jika kita tidak mengutuk kejahatan dari si pelaku kejahatan, kita tidak akan terdorong untuk memperbaikinya. Islam telah menunjukkan pembedaan ini. Al-Qur'an mengatakan: 'Janganlah kebencian terhadap suatu kaum menghasutmu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil, itu lebih dekat pada takwa.' (Al-Ma'idah, 5: 9) Dengan kata lain, kita harus adil bahkan terhadap para musuh kita. Lagi, Al-Qur'an mengatakan: 'Allah tidak melarang kamu untuk menunjukkan kebajikan kepada, dan memperlakukan secara adil orang-orang dari lawan-lawan agamamu yang tidak memerangimu untuk memaksamu meninggalkan agamamu dan tidak mengusirmu dari rumah-rumahmu.' (Al-Mumtahanah, 60: 9) Artinya, kebajikan diperintahkan bahkan terhadap musuh-musuh Islam. Di sisi lain, di tempat lain ia mengatakan, 'Jangan condong kepada orang-orang yang melampaui batas.’ (Hud, 11: 114) Sekarang mengambil kedua ayat ini bersama-sama maknanya jelas, yaitu, dalam urusan-urusan duniawi Anda harus menunjukkan kebajikan bahkan kepada orang-orang kafir, tetapi Anda harus merasa jijik terhadap tindakan-tindakan mereka yang bertentangan dengan kesucian dan ketakwaan. Di tempat lain Al-Qur'an mengatakan: 'Allah telah menyenangi iman bagimu dan telah membuatnya menarik bagimu, dan Dia telah menanamkan rasa jijik dalam hatimu terhadap kekafiran, kemaksiatan dan kejahatan.' (Al-Hujurat, 49: 8) Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa sementara di satu sisi, Islam memerintahkan perlakuan baik dan kebajikan terhadap pelaku kejahatan, di sisi lain ia membangkitkan jijik terhadap kejahatan. Hanya demikianlah akhlak-akhlak bisa disempurnakan.Bagaimana mungkin kita harus menganggap suatu hal itu jahat dan harus merasa tidak jijik terhadapnya? Semua kejahatan adalah kekotoran rohani. Ketika kita melihat seorang dalam kondisi kotor atau dalam pakaian kotor, kita merasa jijik kepadanya, meskipun ia berhubungan dekat dengan kita, dan tidak a...See more
    Oct 18
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Benci adalah naluri alami lainnya, lawan dari cinta. Kerja alami dari naluri ini adalah mengusir atau menghindari hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya, atau yang tidak disukai. Sebagian agama mengecam perasaan benci, dan membanggakan diri atas mengajarkan akhlak-akhlak yang tinggi. Namun, tidak ada perasaan alami boleh dikecam hanya sebagaimana adanya, sebab penggunaan dan penerapan perasaan tersebut, pada kesempatan yang tepat, yang perlu dipuji dan bukan dikecam. Yang harus dihindari adalah kelebihan atau kekurangan perasaan tersebut di atas atau di bawah standar yang tepat. Kelebihan benci akan menjadi permusuhan, yaitu, kecenderungan yang lahir dari ketidaksukaan, yang menghasut seorang pada tindak-tindak pelanggaran terhadap sasaran ketidaksukaan tersebut. Di sisi lain, kurangnya perasaan benci pada kesempatan yang tepat menandakan kurangnya harga diri, yaitu, kegagalan untuk tidak menyukai sesuatu bahkan ketika itu menyinggung rasa harga diri, martabat kita, dll. Karena itu, benci tidak dalam sendirinya amoral atau tak berakhlak; ia naluri alami belaka. Hanya penyalahgunaannyalah yang tidak diinginkan. Misalnya, Al-Qur'an berulang kali mengecam dengki atau permusuhan, dan menggambarkannya sebagai sifat orang-orang kafir dan pelampau batas, dan tidak pernah menisbahkannya kepada kaum mukmin. Di beberapa tempat permusuhan telah dinisbahkan kepada Allah dan kaum beriman, tapi di sana ia berarti balasan dari permusuhan dan bukan permusuhan sendiri. Di sisi lain, Islam, seperti halnya ia mengutuk permusuhan, tidak menyetujui ditekannya sama sekali perasaan ketidaksukaan dan benci, karena inilah dukungan yang diperlukan untuk martabat, harga diri, dll, yang diakui adalah sifat-sifat akhlak yang baik.Benci adalah naluri alami lainnya, lawan dari cinta. Kerja alami dari naluri ini adalah mengusir atau menghindari hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya, atau yang tidak disukai. Sebagian agama mengecam perasaan benci, dan membanggakan diri atas mengajarkan akhlak-akhlak yang tinggi. Namun, tidak...See more
    Oct 16
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Syarat kedua adalah bahwa cinta harus lebih memerhatikan manfaat-manfaat silam yang diterima daripada kenikmatan saat ini, atau harapan menerima manfaat-manfaat di masa depan. Dalam kondisi ini cinta terhadap anak-anak kita menjadi suatu naluri dan cinta terhadap orangtua kita menjadi suatu akhlak. Cinta orangtua kepada anak-anak mereka hanyalah perwujudan dari naluri pelestarian ras, tetapi cinta seorang anak kepada orangtuanya adalah suatu akhlak, karena orangtua itu sudah melakukan apa yang alam inginkan mereka lakukan, dan sekarang mereka hampir tidak berguna. Oleh karena itu, seorang anak yang mencintai orangtuanya mengamalkan akhlak yang baik karena ia melakukannya dalam mengenang manfaat-manfaat yang diterima olehnya dari orangtuanya selama masa kanak-kanaknya dan membalas kasih sayang itu ia menganggap kewajiban untuk memperlakukan mereka dengan baik dan memberikan setiap kenyamanan bagi mereka bahkan dengan mengorbankan kenyamanannya sendiri. Itu sebabnya Islam mengatakan, 'Surga berada di telapak kaki ibu,' dan tidak mengatakan, 'Surga berada di telapak kaki anak-anak,' karena setiap orang waras secara naluriah mencintai anak-anaknya, tapi setiap orang mungkin tidak secara naluriah mencintai orangtuanya, dan, karena itu, tidak mencintai mereka selayaknya mereka dapatkan. Contoh-contoh tidak kurang tentang orang-orang yang menelantarkan orangtua mereka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekecil-kecilnya dari anak-anak mereka. Tidak ada yang akan mengatakan bahwa ini adalah akhlak yang baik. Syarat ketiga yang diperlukan untuk mengubah cinta dari naluri menjadi akhlak adalah bahwa ia harus memerhatikan tidak hanya manfaat-manfaat dan kesenangan yang langsung tetapi juga yang jauh. Misalnya, seorang mencintai suatu hal, tetapi cinta itu melukai imannya atau akhlak-akhlaknya. Dalam kasus macam ini cinta akan menjadi insting alami tapi bukan akhlak, karena akibat-akibat dari cinta itu buruk, tidak baik. Jika seorang ibu, karena cinta kepada anaknya, tidak menegurnya atas kesalahan-kesalahannya, cintanya hanya suatu naluri dan bukan akhlak, karena andaikan itu akhlak, ibu itu akan telah mengecam anak itu atas kesalahan-kesalahannya, dan berusaha untuk memperbaikinya, karena kebaikan sejati dari anak itu adalah ditegur dalam hal itu dan tidak dibelai. Dalam hubungan ini Al-Qur'an mengatakan: 'Hai orang-orang beriman, cinta sejati adalah bahwa engkau harus menyelamatkan dirimu dan istri-istri dan anak-anakmu dari kerusakan.' (Al-Tahrim, 66: 7)Syarat kedua adalah bahwa cinta harus lebih memerhatikan manfaat-manfaat silam yang diterima daripada kenikmatan saat ini, atau harapan menerima manfaat-manfaat di masa depan. Dalam kondisi ini cinta terhadap anak-anak kita menjadi suatu naluri dan cinta terhadap orangtua kita menjadi suatu akhlak. ...See more
    Oct 15
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Naluri alami lainnya manusia adalah cinta yang lagi adalah lazim pada manusia dan hewan-hewan lainnya. Lawan cinta adalah benci. Kedua naluri alami ini dijadikan sifat akhlak dengan mengamalkannya. Kita tidak dapat mencintai segala sesuatu atau membenci segala sesuatu; kita perlu menghambat dan membatasi kerja dari naluri-naluri ini. Kita temukan bahwa kita secara alami mencintai hal-hal yang berguna bagi kita atau yang menghasilkan kenyamanan atau kesenangan pada mana pun indera kita. Tapi ini bukanlah sifat akhlak, karena perasaan cinta macam itu dapat ditemukan pada hewan-hewan juga. Cinta akan menjadi sifat akhlak, • Pertama, jika ia diamalkan dalam kadar yang tepat, yaitu, hal-hal yang layak mendapatkan bagian yang lebih besar dari cinta kita daripada hal-hal lain seharusnya menerima lebih banyak cinta itu • Kedua, jika ia lebih didasarkan pada rasa syukur atas manfaat-manfaat yang diterima di masa lalu, daripada pada harapan menerima manfaat-manfaat di masa depan, karena yang pertama itu adalah kewajiban dan yang terakhir ini hanya kepentingan diri, dan • Ketiga, jika ia memerhatikan tidak hanya manfaat manfaat dan kesenangan-kesenangan yang langsung/segera tetapi juga yang jauh. Bila diatur demikian ini naluri cinta menjadi suatu sifat akhlak, jika tidak ia gairah alami belaka. Islam menetapkan tiga syarat ini. Al-Qur'an mengatakan: 'Katakanlah jika orangtua-orangtuamu dan anak-anakmu dan saudara-saudaramu laki-laki dan saudara-saudaramu perempuan dan istri-istrimu dan suami-suamimu dan sanak keluargamu dan harta benda yang telah engkau peroleh dan usaha yang kerugiannya engkau takutkan, dan rumah-rumah tinggalmu yang engkau cintai, itu lebih engkau sayangi daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mengeluarkan keputusan tentang engkau, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang melupakan tanggung jawab mereka.’ (Al-Taubah, 9:24) Ayat ini menjelaskan urutan di mana hal-hal yang layak mendapatkan cinta kita perlu kita cintai jika cinta kita hendak menjadi suatu akhlak dan bukan naluri belaka. Masing-masing perlu dicintai sebanding dengan kedudukannya yang semestinya dalam kasih sayang kita. Tuhan perlu dicintai sepadan dengan kedudukannya, dan para nabi, sepadan dengan kedudukan mereka, dan agama dan orangtua dan anak-anak dan istri-istri dan suami-suami, sepadan dengan kedudukan mereka. Jika tidak begitu, cinta tidak akan menjadi suatu sifat akhlak tapi sekadar gairah. Misalnya, jika seorang menelantarkan orangtuanya demi istrinya, atau mengabaikan seruan tanah airnya demi harta bendanya, ia tidak bisa disebut baik karena cintanya terhadap istri atau hartanya. Dia jelas telah mencintai, tapi cintanya tidak dikendalikan oleh akalnya atau penilaiannya, dan oleh karena itu, bukan suatu akhlak.Naluri alami lainnya manusia adalah cinta yang lagi adalah lazim pada manusia dan hewan-hewan lainnya. Lawan cinta adalah benci. Kedua naluri alami ini dijadikan sifat akhlak dengan mengamalkannya. Kita tidak dapat mencintai segala sesuatu atau membenci segala sesuatu; kita perlu menghambat dan memb...See more
    Oct 14
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Bentuk kedua yang mungkin diambil pembalasan dendam dalam kasus di mana agresornya seorang yang berkuasa dan orang yang dirugikan tidak mampu atau tidak mau menyakitinya, adalah pelecehan dan mencari-cari kesalahan. Tentang ini Al-Qur'an mengatakan, "Jangan mencari kesalahan-kesalahan atau saling melecehkan.' (Al-Hujurat, 49:12) Oleh karena itu, mencari-cari kesalahan dan pelecehan dilarang dalam semua kasus, dan bahkan orang yang dirugikan jangan sampai akhirnya melakukan ini dalam pembalasan. Apa alasan yang mendasari larangan ini? Mengapa orang yang tersakiti tidak boleh menyakiti penganiayanya dengan mencari-cari kesalahannya, dan mengapa dia tidak boleh melegakan perasaannya dengan melecehkannya? Jawabannya adalah bahwa pelecehan dilarang karena ia salah dan melewati batas, dan Islam tidak menenggang kepalsuan. Fitnah dan mencari-cari kesalahan dilarang karena, bukannya memperbaiki perbuatan si agresor, ia cenderung melukainya, karena, ketika keburukan-keburukan seseorang diungkapkan secara terbuka ia kehilangan semua rasa malu dan kesopanan dan mulai mengumbarnya secara terbuka. Bentuk ketiga dari pembalasan adalah bahwa pihak yang dirugikan akan memutus semua hubungan dengan pelaku. Islam juga tidak menyetujui bentuk pembalasan ini. Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak diijinkan seorang Muslim untuk berhenti berbicara kepada saudaranya lebih dari tiga hari,' yaitu, ia harus kembali berbicara kepadanya dalam waktu tiga hari. (Bukhari dan Muslim) Bentuk keempat pembalasan adalah menuruti dengki terhadap si agresor. Ini juga dikecam oleh Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, 'Kami telah singkirkan kedengkian dari hati orang-orang yang beriman,' (Al-Hijr, 15: 48) yang artinya, seorang Muslim tidak boleh mendengki. Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Seorang Muslim tidak mendengki, dan tidak menyimpan dendam.' (Kunuzul Haqa'iq) Oleh karena itu, Islam mengizinkan hanya satu bentuk pembalasan, yaitu menghukum pelanggar dengan hukuman yang setimpal dengan kesalahan yang dilakukan olehnya, dan ini pun tunduk pada syarat bahwa jika ada suatu Pemerintah mapan di negara itu, pembalasan harus dituntut melalui tatacara yang ditunjuk oleh Pemerintah dan orang yang dirugikan itu tidak boleh menghakimi sendiri. Jika tidak ada Pemerintah, hukuman itu boleh dikenakan oleh orang yang dirugikan, tetapi harus sebanding dengan kesalahan yang diderita; dan jika pengampunan lebih mungkin memperbaiki si pelaku, ia harus diampuni. Bentuk-bentuk lain dari pembalasan, yaitu, pelecehan, mencari-cari kesalahan, menyimpan kedengkian, dll, semua dikecam oleh Islam, karena mereka cenderung menggalakan keburukan dan perselisihan, dan maksud sesungguhnya pembalasan, yaitu, perbaikan diri si pelaku, tidak tercapai.Bentuk kedua yang mungkin diambil pembalasan dendam dalam kasus di mana agresornya seorang yang berkuasa dan orang yang dirugikan tidak mampu atau tidak mau menyakitinya, adalah pelecehan dan mencari-cari kesalahan. Tentang ini Al-Qur'an mengatakan, "Jangan mencari kesalahan-kesalahan atau sa...See more
    Oct 13
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Naluri alami dendam dengan begitu menampakkan diri dalam banyak bentuk, dan menghasut orang pada berbagai tindakan. Menghambat kerja naluri ini dan menempatkannya di bawah kendali akal disebut akhlak, dan membiarkannya bekerja tak terhambat dan tak terkendali oleh akal akan tidak berakhlak (amoral). Islam menentukan pembatasan untuk dikenakan pada kerja naluri ini, yang diperlukan untuk mengubahnya menjadi suatu sifat akhlak, dalam ayat berikut: 'Jika seorang melakukan pelanggaran kepadamu, engkau boleh menimpakan padanya hukuman yang sebanding dengan itu.' (Al-Baqarah, 2: 195) Inilah kaidah umumnya dan mengatur perilaku mereka yang akal dan pertimbangannya tidak cukup maju untuk menghargai keindahan dari aturan-aturan perilaku akhlak. Bagi mereka yang akal dan pertimbangannya telah lebih maju suatu pembatasan lebih lanjut dikenakan dalam ayat: 'Pahala mereka yang memaafkan pelanggaran orang lain, dengan niat untuk perbaikan, ada di sisi Allah. Allah tidak menyukai para pelampau batas.' (Al-Syura, 42: 41) Seorang yang mengampuni, ketika pengampunan akan menggalakan kekacauan, dan orang yang menghukum ketika hukuman akan mengeraskan pelaku, adalah sama-sama pelampau batas, dan Allah tidak menyukai perilaku tersebut. Dengan kata lain, pembatasan dikenakan pada pengamalan belas kasihan, yang mengarah ke pengampunan, dan pembalasan, yang mengarah ke hukuman. Ditetapkan bahwa ketika pengampunan lebih mungkin menghasilkan kesan yang baik pada si pelaku dan menyelamatkannya dari kesalahan lebih jauh, belas kasihan perlu dibiarkan untuk berlaku dan dia seharusnya diampuni. Tapi ketika hukuman diharapkan memiliki efek jera dan reformatif pada si pelaku, maka perasaan pembalasan perlua dibiarkan bekerja, dan hukuman harus dijatuhkan, tetapi itu dalam segala hal jangan sampai melebihi kesalahan yang dilakukan. Ini mengacu pada bentuk pertama dari pembalasan, yaitu, di mana orang yang dirugikan mampu pada gilirannya menimbulkan rasa sakit pada si agresor.Naluri alami dendam dengan begitu menampakkan diri dalam banyak bentuk, dan menghasut orang pada berbagai tindakan. Menghambat kerja naluri ini dan menempatkannya di bawah kendali akal disebut akhlak, dan membiarkannya bekerja tak terhambat dan tak terkendali oleh akal akan tidak berakhlak (amoral)....See more
    Oct 12
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Saya berikutnya akan menggambarkan ajaran-ajaran Islam tentang akhlak-akhlak dengan mengacu pada sifat-sifat akhlak tertentu. Topik ini begitu luas sehingga untuk membahasnya secara rinci kita akan membutuhkan ruang yang jauh lebih besar daripada yang saya miliki di sini. Oleh karena itu, saya akan membatasi diri pada pembahasan hanya beberapa sifat akhlak melalui ilustrasi. Dalam melakukannya, saya akan tetap mengingat penggolongan yang telah saya sebutkan di atas dalam mendefinisikan akhlak, yaitu, bahwa akhlak merupakan penggunaan yang tepat atas naluri-naluri alami. Saya pertama akan membicarakan naluri-naluri alami belas kasihan dan pembalasan. Manusia, sama dengan hewan-hewan lain, memiliki naluri alami di mana ia mencoba untuk tidak menyakiti orang lain, dan penderitaan dan kemalangan orang lain memengaruhi pikirannya sedemikian rupa sehingga ia mulai ikut merasakan kesusahan mereka. Semua orang akan merasa tertarik terhadap orang sakit dan akan bersimpati padanya; kecuali mungkin mereka yang terlalu sibuk untuk memerhatikannya atau mereka yang mungkin telah menderita di tangannya. Orang terakhir ini, sangat mungkin, bukannya merasa simpati pada orang yang menderita itu, mungkin justru menikmati pemandangan penderitaannya. Perasaan yang terakhir ini disebut Naqam, atau dendam dan adalah perasaan tersendiri yang mulai bekerja ketika seseorang menderita sakit atau kerugian di tangan orang lain dan ingin menyakiti atau merugikannya sebagai balasan. Dalam kasus seperti ini perasaan balas dendam menggantikan perasaan kasihan atau kasih sayang; dan orang yang menyakiti, bukannya mengasihani orang yang tersakiti, mendapatkan kenikmatan tersendiri dari penderitaannya. Perasaan dendam, kecuali dikendalikan oleh hukum, mengambil beberapa bentuk. Kadang kala orang yang dirugikan mampu, atau membayangkan bahwa ia mampu, untuk menimbulkan rasa sakit pada si agresor, dan ia berlanjut menimbulkan, atau berusaha menimbulkan, pada si aggressor rasa sakit seperti yang telah ditimpakan si aggressor kepadanya, dengan tujuan agar si aggressor akan menderita seperti dia sendiri telah menderita. Dalam kasus lain, si agresor atau keluarga atau sukunya mungkin kebetulan lebih kuasa daripada orang yang dirugikan, atau si penderita mungkin membayangkan bahwa pembalasan yang sepadan tidak akan disetujui oleh orang-orang lain, atau karena alasan lain ia mungkin tidak mampu atau tidak mau menyakiti secara nyata si agresor, sehingga ia menggunakan senjata makian atau fitnah terhadap dirinya. Mungkin terjadi bahwa si agresor begitu kuasanya sehingga orang yang dirugikan bahkan tidak bisa berkata-kata menghadapinya. Dalam kasus seperti itu, ia mungkin berhenti mengunjungi dia dan mengakhiri semua hubungan dengannya. Dalam beberapa kasus ini pun mungkin tidak bisa dan maka orang yang dirugikan itu mungkin hanya menuruti kedengkian terhadap si agresor, dan senang melihat/ mengetahui kemalangan dan penderitaan si agresor dan tidak senang dengan keberhasilan dan keberuntungannya.Saya berikutnya akan menggambarkan ajaran-ajaran Islam tentang akhlak-akhlak dengan mengacu pada sifat-sifat akhlak tertentu. Topik ini begitu luas sehingga untuk membahasnya secara rinci kita akan membutuhkan ruang yang jauh lebih besar daripada yang saya miliki di sini. Oleh karena itu, saya akan ...See more
    Oct 11
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Rasulullah saw. menjelaskan ini dengan mengatakan: 'Jika seorang dikuasai oleh suatu pikiran jahat tapi dia meredamnya atau menyingkirkannya dari pikirannya dan tidak bertindak mengikutinya, Allah akan mengaruniainya ganjaran yang baik karena telah beramal itu.' (HR. Bukhari) Pengecualian yang berhubungan dengan akhlak-akhlak terkait individunya sendiri ini juga berlaku pada akhlak-akhlak yang memengaruhi orang-orang lain. Sebagaimana firman Allah: 'Allah akan mengganjar dengan kebaikan orang-orang yang menghindari semua jenis keburukan, besar atau kecil, dan ketika mereka hendak berbuat keburukan di bawah dorongan tiba-tiba, menahan diri dan berpaling darinya.' (Al-Najm, 53: 32-33) Artinya, jika seseorang, karena kecerobohan atau di bawah pengaruh gairah tiba-tiba, akan segera tersandung ke dalam keburukan, tetapi sesegera ia merasakan apa yang akan segera ia lakukan, menahan dirinya dan membawa dirinya pada keselamatan, ia tidak akan dihitung seorang yang buruk atau tidak berakhlak. Sebaliknya, tindakannya akan layak menerima pujian, karena ia seperti seorang yang berjuang membela negaranya meskipun ia belum mencapai kemenangan telak.Rasulullah saw. menjelaskan ini dengan mengatakan: 'Jika seorang dikuasai oleh suatu pikiran jahat tapi dia meredamnya atau menyingkirkannya dari pikirannya dan tidak bertindak mengikutinya, Allah akan mengaruniainya ganjaran yang baik karena telah beramal itu.' (HR. Bukhari) Pengecualian yang berh...See more
    Oct 9
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Lagi, seorang yang menuruti prasangka-prasangka buruk tentang orang lain, adalah tidak berakhlak, meskipun ia tidak mengungkapkan prasangka-prasangka tersebut, seperti Al-Qur'an mengatakan, ‘Beberapa pemikiran pikiran adalah dosa' (yaitu, pemikiran yang merupakan hasil dari prasangka jahat) (Al-Hujurat, 49:13) Demikian pula, niat-niat menindas, mengacau dan tidak jujur itu tak berakhlak menurut Islam meskipun orang yang menurutkannya tidak bisa melaksanakannya karena kurangnya keberanian atau kurangnya sarana. Orang macam itu tidak layak disebut baik, hanya atas dasar tindakan-tindakannya yang dapat dilihat. Sebaliknya, seorang yang meniatkan kebaikan manusia dan bersemangat untuk mengkhidmati sesamanya dan memajukan kesejahteraan mereka, menurut Islam adalah orang baik, meskipun ia mungkin tidak dapat menerjemahkan pikiran-pikiran dan keinginan-keinginannya ke dalam tindakan karena kurangnya sarana atau kesempatan untuk pengkhidmatan tersebut. Namun, ada suatu pengecualian pada kaidah umum ini. Seorang yang terserang oleh pikiran-pikiran jahat (misalnya, oleh kebanggaan, kecemburuan, kebencian atau prasangka buruk), tapi yang meredamnya, tidak dikatakan tidak berakhlak, karena orang itu benar-benar memerangi kejahatan dan layak dipuji. Sebaliknya, seorang yang mengalami gejojak tiba-tiba pikiran-pikiran yang baik atau kecenderungan mendadak untuk berbuat baik, tetapi tidak mendorong pikiran-pikiran atau kecenderungan tersebut, tidak layak disebut orang baik oleh sebab itu, karena, seperti telah dikatakan, akhlak-akhlak baik atau buruk adalah hasil dari pertimbangan dan niat, dan dalam dua contoh ini pikiran-pikiran baik dan jahat bukan hasil pertimbangan, tetapi sukarela atau tak disengaja. Al-Qur'an melukiskan prinsip ini dalam ayat: 'Allah akan menghisabmu untuk pikiran-pikiran yang merupakan hasil pertimbangan,’ (Al-Baqarah, 2: 226) dan bukan untuk yang tak disengaja dan disingkirkan sesegera ditemukan.Lagi, seorang yang menuruti prasangka-prasangka buruk tentang orang lain, adalah tidak berakhlak, meskipun ia tidak mengungkapkan prasangka-prasangka tersebut, seperti Al-Qur'an mengatakan, ‘Beberapa pemikiran pikiran adalah dosa' (yaitu, pemikiran yang merupakan hasil dari prasangka jahat) (Al-Hu...See more
    Oct 8
    0 0
  • hendyk
    hendyk uploaded 1 new photo to Akhlak album
    Akhlak-akhlak baik dan buruk dibagi lagi menjadi dua golongan, akhlak-akhlak yang memengaruhi individunya sendiri, dan akhlak-akhlak yang dapat memengaruhi orang-orang lain juga. Penggolongan ini akan menunjukkan bahwa Islam mengenakan pada akhlak-akhlak lingkup yang jauh lebih luas daripada yang dilakukan oleh agama-agama lain. Islam tidak membatasi konsepsi akhlak pada tindakan-tindakan atau kelalaian-kelalaian yang memengaruhi orang-orang lain, tetapi juga mencakup dalam konsepsi ini tindakan-tindakan atau kelalaian-kelalaian yang memengaruhi individunya sendiri. Al-Qur'an menyebutkan prinsip ini dalam ayat berikut: 'Hai orang-orang yang beriman, peliharalah kesejahteraan jiwamu, dan laksanakanlah kewajiban-kewajiban rohani yang dikenakan padamu. Apabila keselamatan orang lain dianggap mungkin dengan engkau meninggalkan jalan kejujuran dan kebajikan tetaplah berpegang pada kebajikan, karena, jika orang lain sesat karena engkau telah mendapat petunjuk dan telah mengambil kebajikan, Allah tidak akan marah padamu, dan mengharapkanmu menyelamatkan orang lain dengan menghancurkan dirimu.' (Al-Ma'idah, 5: 106) Rasulullah saw. bersabda, 'Dirimu memiliki hak atas engkau,' (HR. Bukhari) yang artinya, Anda tidak boleh hanya menjaga orang-orang lain; Anda juga harus memerhatikan kesejahteraan diri Anda sendiri, dan menyediakan sarana untuk perkembangan fisik dan rohaninya. Menurut Islam, apa yang tersembunyi itu sama bermoral atau tidak bermoralnya seperti apa yang nyata. Sehingga tidak hanya seorang yang secara terang-terangan sombong itu tidak bermoral, tapi seorang yang secara lahiriah lemah lembut dan merendah tapi memelihara kebanggaan dalam sudut-sudut kelam hatinya adalah sama tidak bermoral, karena, meskipun ia belum melukai orang lain, ia telah melukai dan menodai jiwanya sendiri. Sebagaimana Al-Qur'an mengatakan: ‘Mereka sombong dalam hati mereka dan juga sangat berlebihan.' (Al-Furqan, 25:22)Akhlak-akhlak baik dan buruk dibagi lagi menjadi dua golongan, akhlak-akhlak yang memengaruhi individunya sendiri, dan akhlak-akhlak yang dapat memengaruhi orang-orang lain juga. Penggolongan ini akan menunjukkan bahwa Islam mengenakan pada akhlak-akhlak lingkup yang jauh lebih luas daripada yang di...See more
    Oct 7
    0 0
'':
fade
slide
Rating: