Arsip Bulanan: Agustus 2019

Sifat-Sifat Allah Ta’ala

Hendaknya diketahui bahwa Tuhan yang ke arah-Nya Al-Quran Syarif mengimbau kita, sifat-sifat-Nya telah Dia terangkan sebagai berikut:

“Dia-lah Allah, dan tiada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui segala yang gaib dan segala yang nampak. Dia-lah Yang Maha Pemurah, maha Penyayang..”(QS. Al-Hasyr, 59:23).

“Yang mempunyai Hari Pembalasan.”(QS. Al-Fatihah, 1:4).

“Maha Berdaulat, Yang Mahasuci, Sumber segala kedamaian, Pelimpah keamanan, Maha Pelindung, Mahaperkasa, Maha Penakluk, Mahaagung.”(QS. Al-Hasyr, 59:24).

“Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi segala bentuk,. Kepunyaan Dia-lah segala nama yang terindah. Segala sesuatu di seluruh langit dan bumi menyanjung Dia dan Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”(QS. Al-Hasyr, 59:25).

“Berkuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah, 2:21).

“Tuhan semesta alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang mempunyai Hari Pembalasan.”(QS. Al-Fatihah, 1:2-4).

“Aku mengabulka doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah, 2:187).

“Yang Mahahidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah, 2:256).

“Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Mahaesa, Allah, Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan, dan tidak pula Dia diperanakkan; Dan tiada seorang pun menyamai Dia.”(QS. Al-Ikhlas, 112:2-5).

Yakni, Dia itulah Tuhan Yang Esa, dan tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang patut disembah dan ditaati kecuali Dia. Hal itu dikatakan karena seandainya Dia bukan sesuatu yang tanpa sekutu mungkin saja kekuatan-Nya dapat ditaklukkan oleh kekuatan musuh-Nya, dalam keadaan demikian posisi Ketuhanan akan tetap berada dalam ancaman bahaya. Dan yang difirmankan bahwa, “Tidak ada yang patut disembah kecuali Dia”, artinya adalah Dia merupakan Tuhan Yang Maha Sempurna sedemikian rupa yang sifat-sifat, kelebihan-kelebihan serta kesempurnaan-kesempurnaan-Nya demikian tinggi dan agung, sehingga jika kita ingin memilih satu tuhan dari segala wujud yang ada berdasarkan sifat-sifatnya yang sempurna, atau kita di dalam hati membayangkan sifat-sifat tuhan yang paling indah dan paling tinggi, maka Dia-lah Yang paling tinggi, yang selain-Nya tidak ada yang dapat lebih tinggi dari Dia. Dia-lah Tuhan –yang di dalam penyembahan-Nya– menyekutukan sesuatu yang lebih rendah merupakan suatu keaniayaan. Lebih lanjut Dia berfirman bahwa hanya Dia-lah yang mengetahui tentang diri-Nya sendiri. Tidak ada satu pun yang mampu meliputi batas Zat-Nya. Kita dapat melihat matahari, bulan dan tiap makhluk seutuhnya, akan tetapi kita tidak dapat melihat Tuhan secara utuh.

Kemudian firman-Nya bahwa tak ada suatu benda pun tersembunyi dari pandangan-pandangan-Nya. Tidaklah layak apabila Dia dikatakan sebagai Tuhan lalu Dia tidak memilki pengetahuan tentang benda-benda. Dia memiliki penglihatan atas partikel-partikel alam ini, sedangkan manusia tidak memilikinya. Dia mengtahui kapan Dia akan menghancurkan tatanan alam ini dan akan mendatangkan kiamat. Dan selain-Nya tidak ada yang mengetahui kapan hal itu akan terjadi. Jadi, Dia itulah Tuhan Yang mengetahui semua waktu tersebut.

Kemudian firman-Nya: ar-rahman, yakni sebelum ada wujud makhluk-makhluk hidup dan usaha-usaha mereka –semata-mata karena Dia senang, bukan karena suatu maksud tertentu dan bukan sebagai balasan bagi suatu perbuatan– Dia telah menyediakan sarana-sarana kemudahan bagi mereka. Contohnya Dia telah menciptakan matahari, bumi, dan segala benda lainnya sebelum ada wujud serta perbuatan-perbuatan kita. Di dalam Kitab Ilahi anugerah demikian itu dinamakan Rahmãniyyat, dan karena pekerjaan-Nya itulah Allah Ta’ala disebut Ar-Rahmãn.

Kemudian firman-Nya lagi, ar-rahim, yakni Dia-lah Tuhan Yang memberikan ganjaran terbaik bagi amal perbuatan yang baik, dan Dia tidak menyia-nyiakan upaya gigih seseorang, berdasarkan pekerjaan-Nya ini Dia disebut Ar-Rahĩm, dan sifat itu disebut Rahĩmiyyat.

Kemudian firman-Nya:

“Yang mempunyai Hari Pembalasan.”(QS. Al-Fatihah, 1:4).

Yakni, Dia-lah Tuhan Yang menyimpan di Tangan-Nya balasan bagi segala sesuatu. Dia tidak memiliki petugas yang kepadanya Dia serahkan pemerintahan langit dan bumi sedangkan Dia sendiri tidak campur-tangan, duduk tanpa mengerjakan sesuatu, hanya si petugas itu saja yang memberikan segala ganjaran mau pun hukuman di alam ini atau di Hari Kemudian.

Kemudian firman-Nya:

“ Maha Berdaulat, Yang Mahasuci.” (QS. Al-Hasyr, 59:24)

Yakni Tuhan itu Raja yang tiada bernoda dan tiada bercacat. Adalah jelas bahwa kerajaan manusia tidak kosong dari keaiban. Seandainya penduduk suatu negeri meninggalkan negeri mereka beramai-ramai dan mengungsi ke negeri lain, niscaya kerajaan itu tidak akan dapat berdiri. Atau, andaikata seluruh rakyat dilanda musim kemarau, dari manakah akan diperoleh upeti bagi raja? Sekiranya rakyat mulai mempersoalkan, “Apa kelebihan engkau dari kami”, maka kekuasaan apa yang dapat dibuktikan oleh sang raja? Jadi, kerajaan Allah tidaklah demikian.

Dia dalam sekejap mata dapat menghilangkan seluruh negeri, dan Dia dapat menciptakan makhluk-makhluk. Sekiranya Dia bukan Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Kuasa maka tatanan kerajaan-Nya tidak akan dapat berjalan kecuali dengan menggunakan cara-cara keaniayaan. Sebab satu kali Dia memberikan pengampunan dan keselamatan kepada dunia maka dari mana Dia akan dapat mendatangkan dunia yang lain? Apakah orang-orang yang sudah mendapat keselamatan itu harus ditangkapi untuk diturunkan lagi ke dunia dan dengan cara aniaya Dia menarik ampunan dan keselamatan yang telah dilimpahkan-Nya? Jika demikian pasti terdapat cela pada sifat Ketuhanan-Nya dan Dia pun tidak ubahnya seperti raja-raja dunia mempunyai noda.

Raja-raja membuat undang-undang bagi dunia lalu murka pada hal-hal kecil, dan jika untuk kepentingan pribadi mereka tidak melihat cara lain kecuali berbuat aniaya maka mereka akan menganggap perbuatan aniaya itu halal bagaikan susu ibu. Misalnya, undang-undang kerajaan mengizinkan agar sebuah perahu bersama penumpang-penumpangnya dibiarkan tenggelam untuk menyelamatkan sebuah kapal. Akan tetapi ketidak-berdayaan seperti itu tidak berlaku pada Tuhan. Jadi, seandainya Tuhan bukan Penguasa penuh dan bukan Pencipta dari sesuatu yang tidak ada maka Dia akan bertindak seperti raja-raja lemah yang menggunakan keaniayaan untuk menegakkan kekuasaan, atau berlaku adil tetapi melepaskan sifat Ketuhanan-Nya. Justru bahtera Tuhan berserta segala kudrat-Nya melaju dengan anggun di atas keadilan sejati.

Kemudian firman-Nya, ……., yakni Dia-lah Tuhan yang terpelihara dari segala aib, musibah dan kesulitan. Justru Dia-lah Pemberi keselamatan. Maksudnya pun jelas, sebab seandainya Dia sendiri tertimpa musibah-musibah, dipukuli orang-orang dan rencana-rencana-Nya tidak berjaya maka dengan melihat contoh buruk itu bagaimana mungkin manusia akan merasa tenang hatinya bahwa tuhan yang semacam itulah yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah? Berkenaan dengan sembahan-sembahan palsu Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya, mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat pun, walaupun mereka itu bergabung menjadi satu untuk maksud itu. Dan jika sekiranya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sungguh sangat lemah kedua-duanya, yang mencari dan yang dicari. Mereka tidak dapat memahami sifat-sifat Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.”(QS. Al-Hajj, 22:74-75)

Mereka yang kamu anggap sebagai Tuhan keadaannya adalah demikian, jika mereka semua bersatu lalu ingin menciptakan seekor lalat sampai kapan pun mereka tidak akan dapat menciptakan, walaupun mereka saling membantu. Bahkan jika lalat itu merampas sesuatu milik mereka maka mereka tidak kuasa untuk mengambilnya kembali dari lalat itu. Orang-orang yang menyembah mereka akalnya lemah, dan yang disembahkan kekuatannya tidak berdaya. Apakah Tuhan itu demikian? Tuhan adalah Dia yang lebih perkasa dari segala yang perkasa dan unggul atas semuanya, tidak ada yang dapat menangkap-Nya mau pun memukul-Nya. Orang-orang jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan serupa itu tidaklah mengenal nilai Tuhan dan tidak tahu Tuhan itu seharusnya bagaimana.

Kemudian Dia berfirman, bahwa Tuhan adalah Sang Pemberi keamanan dan Yang menegakkan dalil-dalil tentang kesempurnaan-kesempurnaan dan Tauhid-Nya. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang beriman kepada Tuhan sejati tidak akan mendapat malu di hadapan orang banyak dan tidak pula akan mendapat malu di hadapan Tuhan. Sebab ia memiliki dalil-dalil yang kuat. Akan tetapi orang yang percaya kepada tuhan palsu berada dalam kesulitan besar. Bukannya ia mengemukakan dalil-dalil, justru ia memasukkan seluruh perkara sia-sia itu sebagai rahasia supaya jangan sampai ditertawakan, dan ia ingin menyembunyikan kekeliruan-kekeliruannya yang telah terbukti nyata.

Dan kemudian firman-Nya:

“Maha Pelindung, Mahaperkasa, Maha Penakluk, Mahaagung.” (QS. Al-Hasyr, 59:24).

Dia merupakan Pelindung bagi semua dan unggul atas segala sesuatu serta memperbaiki apa yang rusak, dan Dzat-Nya sangat berkecukupan. Dan difirmankan:

“Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi segala bentuk,. Kepunyaan Dia-lah segala nama yang terindah.”(QS. Al-Hasyr, 59:25).

Yakni, Dia adalah Tuhan Yang menciptakan tubuh dan juga Yang menciptakan ruh. Dia Yang membentuk rupa di dalam rahim. Segala nama baik yang dapat terlintas di pikiran semuanya itu hanya bagi-Nya. Kemudian firman-Nya pula:

“Segala sesuatu di seluruh langit dan bumi menyanjung Dia dan Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”(QS. Al-Hasyr, 59:25).

Yakni, para penghuni langit menyanjung nama-Nya, demikian pula parta penghuni bumi. Di dalam ayat ini diisyaratkan bahwa pada benda-benda langit ada penghuni dan mereka pun terikat dengan petunjuk-petunjuk Tuhan. Dan kemudian firman-Nya pula:

“Berkuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah, 2:21).

Yakni, Tuhan adalah Maha Kuasa. Ini merupakan ketentraman bagi para penyembah, sebab jika Tuhan itu lemah dan tidak kuasa maka apalah yang dapat diharapkan dari Tuhan seperti itu? Dan kemudian firman-Nya:

“Tuhan semesta alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang mempunyai Hari Pembalasan.”(QS. Al-Fatihah, 1:2-4).

“Aku mengabulka doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah, 2:187).

Yakni, Dia Tuhan Pemelihara seluruh alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, serta Dia sendirilah Pemilik Hari Pembalasan. Wewenang itu tidak diserahkan-Nya kepada siapa pun. Dia mendengar dan menjawab seruan setiap penyeru-Nya yakni mengabulkan doa-doa.

Kemudian firman-Nya:

“Yang Mahahidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah, 2:256).

Yakni, Dia-lah Yang Hidup selama-lamanya dan Sumber segala kehidupan serta Tumpuan segala wujud. Hal ini dikatakan karena seandainya Dia tidak kekal abadi maka berkenaan dengan hidup-Nya pun akan tetap diragukan bahwa jangan-jangan Dia telah mati sebelum kita. Dan kemudian difirmankan bahwa Dialah Tuhan Yang Esa, bukan anak siapa pun dan tidak pula Dia mempunyai anak, tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada yang sejenis dengan-Nya. Dan hendaknya diingat, mengakui secara benar Tauhid Allah Ta’ala dan tidak menambah serta menguranginya, itu merupakan sikap yang adil yang dilakukan manusia terhadap Majikan-nya Yang Hakiki. Seluruh bagian ini merupakan akhlak yang telah dipaparkan dari ajaran Al-Quran Syarif. Azas yang terdapat di dalamnya ialah Allah Ta’ala telah menyelamatkan seluruh akhlak dari batas-batas yang terlalu berlebihan dan terlalu kurang. Dan setiap akhlak baru dapat dinamakan akhlak apabila diterapkan tidak lebih dan tidak kurang dari batas-batas yang sebenarnya dan wajib.

Adalah jelas bahwa kebaikan hakiki ialah sesuatu yang dilakukan di tengah-tengah kedua batas tersebut, yakni di antara batas-batas yang terlalu berlebihan dan yang terlalu kurang. Setiap kebiasaan yang menarik orang-orang supaya berjalan di tengah-tengah dan mempertahankannya itulah yang menciptakan akhlak fadhilah. Mengenal keadaan dan kesempatan adalah suatu jalan tengah. Misalnya jika seorang petani menyemai benih sebelum waktunya atau sesudah lewat waktunya, dalam dua bentuk itu berarti ia telah meninggalkan jalan tengah.

Kebaikan, kebenaran dan kebijaksanaan semuanya berada di jalan tengah, sedangkan jalan tengah itu memperhatikan situasi. Atau, katakanlah, kebenaran itu merupakan sesuatu yang terletak di tengah dua kebatilan yang berlawanan. Dan sedikit pun tidak diragukan lagi bahwa sikap yang tepat sesuai keadaan senantiasa menempatkan manusia pada jalan tengah. Dan berkenaan dengan pengenalan terhadap Tuhan jalan tengahnya ialah tidak condong ke arah penolakan terhadap sifat-sifat-Nya dan tidak pula menyamakan Tuhan dengan benda-benda jasmani.

Cara inilah yang diterapkan Al-Quran Syarif berkenaan dengan sifat-sifat Allah Ta’ala. Demikianlah, Al-Quran Syarif juga menyatakan bahwa Tuhan itu melihat, mendengar, mengetahui, berbicara, dan bercakap-cakap, dan kemudian untuk menghindarkan kesamaan terhadap makhluk Al-Quran Syarif pun menyatakan:

“Tiada sesuatu apa pun seperti Dia.”(QS. Asy-Syura, 42:12).

“Maka janganlah kamu ciptakan sendiri persamaan-persamaan bagi Allah.”(QS. An-Nahl, 16:75).

Yakni, tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai Dia dalam hal Zat dan Sifat-sifat-Nya. Jangan ciptakan bagi-Nya persamaan-persamaan dari kalangan makhluk. Jadi, menempatkan Zat Tuhan tepat di antara batas-batas tasybih (sifat-sifat yang dapat ditamsilkan) dan tanzih (sifat-sifat asli Tuhan yang tidak dapat ditamsilkan) itulah jalan tengah. Ringkasnya, ajaran Islam adalah ajaran yang mengambil jalan tengah. Surah Al-Fatihah pun memberi petunjuk mengenai jalan tengah ini, sebab Allah Ta’ala berfirman:

“Bukan jalan mereka yang kemudiian dimurkai dan bukan pula yang kemudian sesat.”(QS. Al-Fatihah, 1:7).

Yang, dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai ialah orang-orang yang bersikap menentang Allah Ta’ala lalu mengikuti nafsu rendah. Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat ialah mereka yang mengikuti nafsu kebinatangan. Dan jalan tengah adalah apa yang disebut kata an’amta ‘alaihim (mereka yang mendapat nikmat).

Ringkasnya, bagi umat yang berbahagia ini di dalam Al-Quran Syarif terdapat petunjuk tentang jalan tengah. Di dalam Taurat Allah Ta’ala telah menekankan perkara-perkara pembalasan, dan di dalam Injil Dia telah memberikan penekanan pada pemberian maaf dan sabar. Sedangkan umat ini telah mendapat ajaran tentang ketepatan situasi dan jalan tengah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan, demikianlah Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia.”(QS. Al-Baqarah, 2:144).

“Sebaik-baik urusan ialah yang pertengahan.” Tafsir Qurtubi, jld.2, hal.154.

Yakni, Kami telah menjadikan kamu orang-orang yang mengamalkan jalan tengah dan kepada kamu telah diajarkan jalan tengah. Maka berbahagialah mereka yang mengikuti jalan tengah.

Artikel ini adalah bagian dari isi buku Filsafat Ajaran Islam karya agung Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar buku di bawah untuk mengunduh buku ini (format PDF 7 Mb)

Dalil-Dalil Adanya Tuhan

Sekarang perhatikan dalil-dalil hebat dan tidak ada bandingannya yang telah dipaparkan oleh Al-Quran Syarif secara logika tentang Wujud Tuhan sebagaimana firman-Nya pada suatu tempat:

“Tuhan kami ialah Dia Yang memberikan kepada segala sesuatu bentuk yang serasi dan kemudian Dia memberi petunjuk kepadanya untuk melaksanakan tugasnya yang murni.” (QS. Tha-Ha, 20:51).

Yakni, Tuhan adalah Dia Yang telah menganugerahkan kepada tiap sesuatu penciptaan (kelahiran) yang sesuai dengan keadaannya, kemudian menunjukinya jalan untuk mencapai kesempurnaan yang diinginkan-Nya. Kini jika memperhatikan makna ayat tersebut kita menelaah bentuk ciptaan –mulai dari manusia hingga binatang-binatang daratan dan lautan serta burung-burung– maka timbul ingatan akan kekuasaan Ilahi. Yakni, bentuk ciptaan setiap benda tampak sesuai dengan keadaannya. Para pembaca dipersilakan memikirkannya sendiri, sebab masalah ini sangat luas.

Dalil kedua mengenai adanya Tuhan ialah, Al-Quran Syarif telah menyatakan Allah Ta’ala sebagai sebab dasar dari segala sebab, sebagaimana Al-Quran Syarif menyatakan:

“Dan, bahwa pada Tuhan engkaulah terletak keputusan terakhir.”(QS. An-Najm, 53:43).

Yakni, seluruh rangkaian sebab dan akibat berakhir pada Tuhan engkau. Rancian dalil ini ialah, berdasarkan penelaahan cermat akan diketahui bahwa seluruh alam semesta ini terjalin dalam rangkaian sebab dan akibat, dan oleh karena itu di dunia ini timbul berbagai macam ilmu, karena tiada bagian ciptaan yang lepas dari tatanan (rangkaian) itu. Sebagian merupakan landasan bagi yang lain, dan sebagian lagi merupakan pengembangan-pengembangannya. Adalah jelas bahwa sesuatu sebab timbul karena zatnya sendiri, atau berlandaskan pada sebab yang lain. Kemudian sebab yang lain itu pun berlandaskan pula pada sebab yang lain lagi, dan demikian seterusnya. Tidak benar bahwa di dalam dunia yang terbatas ini rangkaian sebab dan akibat tidak mempunyai kesudahan dan tiada berhingga. Maka terpaksa diakui bahwa rangkaian ini pasti berakhir pada suatu sebab terakhir.

Jadi, puncak terakhir semuanya itu adalah Tuhan. Perhatikanlah dengan seksama betapa ayat yang dengan kata-katanya yang ringkas:

“Dan, bahwa pada Tuhan engkaulah terletak keputusan terakhir.”(QS. An-Najm, 53:43).

telah menjelaskan dalil tersebut di atas, yang artinya “puncak terakhir segala rangkai ialah Tuhan engkau.”

Kemudian satu dalil lagi mengenai adanya Tuhan ialah sebagaimana firman-Nya:

“Matahari tidak kuasa menyusul bulan, dan tidak pula malam mendahului siang. Dan semua itu terus beredar dengan lancarnya pada tempat perredarannya.”(QS. Ya-Sin, 36:41).

Yakni, matahari tidak dapat mengejar bulan dan juga malam yang merupakan penampakkan bulan tidak dapat mendahului siang yang merupakan penampakan matahari. Yakni tidak ada satu pun di antara mereka yang keluar dari batas-batas yang ditetapkan bagi mereka. Jika di balik semua itu tidak ada Wujud Sang Perencana niscaya segala rangkaian tersebut akan hancur. Dalil ini sangat bermanfaat bagi orang-orang yang gemar menelaah benda-benda langit, sebab benda-benda langit tersebut merupakan bola-bola raksasa yang tiada terhitung banyaknya, sehingga dengan sedikit saja terganggu maka seluruh dunia dapat hancur.

Betapa ini merupakan suatu kekuasaan yang hakiki, sehingga benda-benda langit itu tidak saling bertabrakan dan kecepatannya tidak berubah seujung rambut pun serta tidak aus walaupun telah sekian lama bekerja dan tidak terjadi perubahan sedikit pun. Sekiranya tidak ada Sang Penjaga, bagaimana mungkin jalinan kerja yang demikian besar ini dapat berjalan dengan sendirinya dalam waktu yang tak terhitung. Dengan mengisyaratkan kepada hikmah-hikmah itulah di tempat lain Allah Ta’ala berfirman:

“Apakah kamu dalam keraguan mengenai Allah, Pencipta seluruh langit dan bumi?”(QS. Ibrahim, 14:11).

Yakni, dapatkah Wujud Tuhan Yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi yang demikian itu diragukan?

Lalu, sebuah dalil lagi tentang keberadaan-Nya, difirmankan:

“Segala sesuatu yang ada di atas bumi ini akan binasa. Dan yang akan tetap kekal hanyalah wujud Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.”(QS. Ar-Rahman, 55:27-28).

Yakni, tiap sesuatu akan mengalami kepunahan dan yang kekal itu hanyalah Tuhan Yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan.

Kini perhatikanlah! Jika kita bayangkan dunia ini menjadi hancur-lebur dan benda-benda langit pun pecah berkeping-keping, serta bertiup angin yang melenyapkan seluruh jejak benda-benda itu, namun demikian akal mengakui serta menerima –bahkan hati nurani menganggapnya mutlak– bahwa sesudah segala kebinasaan ini terjadi pasti ada sesuatu yang bertahan yang tidak mengalami kepunahan serta perubahan-perubahan dan tetap utuh seperti keadaannya semula. Jadi, itulah Tuhan yang telah menciptakan semua wujud fana (tidak kekal), sedangkan Dia Sendiri terpelihara dari kepunahan.

Kemudian satu dalil lagi berkenaan dengan keberadaan-Nya yang Dia kemukakan di dalam Al-Quran Syarif adalah:

“Bukankah Aku Tuhan-mu?” Mereka berkata, “Ya benar.”(QS. Al-A’raf, 7:173).

Yakni, Aku berfirman kepada setiap ruh, “Bukankah Aku Tuhan kamu?” Mereka berkata, “Ya, sungguh benar!”. Di dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan dalam bentuk kisah, satu ciri khas ruh yang telah ditanamkan-Nya di dalam fitrat mereka. Ciri khas itu ialah pada fitratnya tiada satu pun ruh yang dapat mengingkari hanya karena mereka tidak menemukan apa pun di dalam pikiran mereka. Kendati pun mereka ingkar, mereka mengakui bahwa tiap-tiap kejadian pasti ada penyebabnya. Di dunia ini tidak ada orang yang begitu bodohnya –misalnya jika pada tubuhnya timbul suatu penyakit– ia tetap bersikeras menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada suatu sebab yang menimbulkan penyakit ini.

Seandainya rangkaian dunia ini tidak terjalin oleh sebab dan akibat maka tidaklah mungkin membuat prakiraan bahwa pada tanggal sekian akan datang taufan atau badai, akan terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan atau seorang yang sakit akan wafat dalam waktu tertentu, atau sampai pada waktu tertentu suatu penyakit akan muncul bersamaan dengan penyakit yang lain.

Jadi, seorang peneliti, walaupun tidak mengakui Wujud Tuhan namun dari satu segi ia telah mengakuinya. Yakni ia pun seperti halnya kita mencari-cari penyebab dari sebab-akibat. Jadi itu pun merupakan satu bentuk pengakuan, walaupun bukan pengakuan yang sempurna. Selain itu, apabila seorang yang mengingkari Wujud Tuhan dengan cara tertentu kesadarannya dihilangkan –yaitu ia sama sekali dijauhkan dari segala keinginan-rendah ini dan segala hasratnya dihilangkan, lalu diserahkan ke dalam kendali Wujud Yang Maha Tinggi– maka di dalam keadaan demikian ia akan mengakui Wujud Tuhan, tidak akan ingkar. Hal serupa itu telah dibuktikan melalui percobaan orang-orang yang berpengalaman luas. Jadi, ke arah kondisi demikianlah isyarat yang terdapat di dalam ayat itu. Dan makna ayat itu adalah bahwa pengingkaran terhadap Wujud Tuhan hanya terjadi sebatas kehidupan rendah saja, sebab fitrat yang asli dipenuhi pengakuan itu.

Artikel ini adalah bagian dari isi buku Filsafat Ajaran Islam karya agung Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar buku di bawah untuk mengunduh buku ini (format PDF 7 Mb)