Arsip Bulanan: September 2019

Kisah Nyata Keberkatan Rohani dari Mengenal & Bergaul dengan Imam Zaman

SEPUCUK SURAT MAULVI ABDUL KARIM SAHIB KEPADA SEORANG TEMAN 1

Dari Abdul Karim,
Kepada saudara saya tercinta, Nasrullah Khan

Hari ini hatiku terdorong lagi untuk memperdengarkan sebuah cerita yang mengharukan. Semoga anda pun akan menjadi sahabatku untuk berbagi. Setelah sekian lama, keinginan ini pun tidak luput dari suatu dorongan karena Yang Maha Menggerakkan Hati pun tidak pernah merangsang para hamba-Nya untuk melakukan suatu pekerjaan sia-sia.

Chaudri Sahib! Aku pun seorang anak Adam yang terlahir dari seorang ibu yang lemah. Aku juga harus mengatasi segala kelemahan manusiawi, ketertarikan untuk menjalin hubungan dengan orang-orang tercinta serta kekurangan lainnya yang ada dalam diriku. Seseorang yang terlahir dari rahim seorang wanita tidak dapat menjadi keras hati jika tidak ada satu penyakit yang menjangkitinya. Ibuku sekarang masih hidup. Beliau adalah seorang yang sangat lembut hati dan sedang menderita penyakit kronis. Begitu juga ayahku dan saudara-saudaraku tercinta pun masih hidup. Aku pun memiliki hubungan-hubungan kekerabatan lainnya.

[1] Secara kebetulan mata saya tertuju pada sepucuk surat yang ditulis oleh saudara saya Maulwi Abdul Karim yang dialamatkan kepada seorang temannya. Karena isi surat tersebut berkaitan dengan buku ini, maka saya menerbitkannya di sini.

Lalu apakah aku ini berhati batu, yakni yang telah melewatkan waktu berbulan-bulan di sini duduk bagaikan seorang fakir? Apakah aku ini telah gila dan kehilangan akal sehat? Atau apakah aku mengikuti sesuatu secara membabi buta dan benar-benar bodoh akan pengetahuan samawi? Atau apakah aku dikenal di kalangan keluargaku, lingkungan sekitarku atau di kotaku sebagai seseorang yang menjalani kehidupan dengan penuh kefasikan? Atau apakah aku ini adalah seorang penipu yang senantiasa berganti samaran demi mengisi perut?

Bahwa dengan karunia Allah Ta’ala aku terbebas dari segala kelemahan seperti itu. Kemudian hal apakah yang telah menimbulkan suatu ketabahan di dalam diriku yang telah mengungguli semua daya tarik terhadap hubungan-hubungan itu? Perkara ini sangat jelas dan dapat dijelaskan dengan sebuah perkataan saja yakni: Mengenal Imam Zaman Ini.

Ya Allah, betapa perkasanya kekuatan yang terkandung di dalamnya sehingga memutuskan segala perhubungan dan ikatan itu. Anda sangat mengetahui bahwa aku beruntung memperoleh pengetahuan-pengetahuan dan rahasia-rahasia Kitab Allah sesuai dengan kemampuanku. Aku tidak mempunyai kesibukan lain di rumah selain menelaah dan mengajarkan Kitab Allah. Lalu pelajaran apakah yang aku peroleh di sini? Apakah tidak cukup untuk kepuasan ruh dan jiwaku dengan mempelajarinya di rumah dan menjadi pusat perhatian oleh suatu golongan?

Demi Allah, sekali-kali tidak! Aku menelaah Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang-orang. Aku senantiasa berdiri di atas mimbar pada hari Jum’at untuk memberikan nasehat berkenaan dengan akhlak yang sangat mengesankan, untuk memberi peringatan kepada orang-orang akan azab Ilahi dan juga untuk menekankan pada mereka agar menyelamatkan diri dari apa yang telah dilarang. Namun, hati nurani ini senantiasa mencela diriku.

Mengapa kamu menyatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. — Ash-Shaff, 61:3-4

Aku membuat orang lain menangis tetapi aku sendiri tidak menangis. Aku menjauhkan orang-orang dari pekerjaan dan perkataan yang tidak layak namun aku tidak pernah menghentikan diriku sendiri berbuat demikian. Karena aku bukanlah seorang yang riya dan tidak pula egois dan bukan pula mencari popularitas dan kekayaan menjadi tujuanku, maka tatkala aku sejenak menyendiri, datanglah pikiran-pikiran ini secara bertubi-tubi di dalam hatiku.

Namun karena aku tidak melihat suatu jalan dan arah yang lurus untuk memperbaiki diri sendiri dan keimanan pun tidak memberi peluang untuk berpuas diri atas perbuatan rendahan tersebut, pada akhirnya aku menyerah di bawah tekanan ini dan mengidap sakit jantung yang serius. Berkali-kali aku membulatkan hati untuk berhenti belajar, mengajar dan memberi nasehat namun dengan segera aku kembali menelaah kitab-kitab tentang Akhlak, kitab-kitab Tasawuf dan Tafsir-tafsir. Aku membaca Ihyā-ul-Ulūm, Awāriful Ma’ārif dan keempat jilid Fatuhat Makiyah dan banyak buku lainnya dengan penuh perhatian. Sedangkan Al-Quran Suci senantiasa merupakan makanan bagi rohku dan alhamdulillāh, kini pun masih tetap demikian.

Sejak kecil dan bahkan sejak balita, kecintaanku begitu besar kepada Kitab Suci tersebut sehingga aku pun tidak dapat menjelaskannya dengan kata-kata. Pendek kata, ilmu pun berkembang dan aku pun mendapatkan kemampuan untuk membuat majelis menjadi gembira dan untuk membumbui nasehatku dengan cerita-cerita lucu. Aku telah melihat bahwa banyak orang yang telah sembuh dari penyakitnya dengan tanganku. Akan tetapi belum ada suatu perubahan di dalam diriku. Setelah kemelut dalam pikiran, akhirnya terbukalah kepadaku bahwa selama aku belum menemukan suatu teladan yang hidup atau mencapai suatu sumber kehidupan yang dapat mensucikan segala kekotoran batin, selama itu pula segala kekotoran ini tidak akan dapat hilang.

Lihatlah bagaimana seorang Pembimbing Sempurna dan seorang Khātamul Anbiyā Saw memberikan petunjuk kepada para sahabatnya melalui tahapan perkembangan kerohanian selama 23 tahun. Al-Quran adalah khazanah ilmu, sedangkan beliau Saw. merupakan perwujudannya yang sejati. Bukanlah keagungan serta kemuliaan hukum-hukum Al-Quran dalam corak ilmu serta bahasanya yang telah meluluhkan hati orang-orang secara luar biasa. Namun adalah karena suri tauladan serta akhlak beliau Saw. yang tiada tandingannya yang didukung oleh manifestasi tanda-tanda samawi yang berkesinambungan yang telah menciptakan kesan yang tertanam secara abadi di dalam hati para pecintanya.

Karena Allah Ta’ala sangat cinta kepada Islam dan menghendaki agar Islam senantiasa tegak selama-lamanya, maka Dia tidak ingin kalau agama ini pun kelak menjadi seperti agama-agama lain di dunia yang hanya tinggal kisah-kisah dan dongeng-dongeng usang. Di setiap zaman, agama beberkat ini senantiasa memiliki seorang suri tauladan yang hidup yang melalui ilmu dan amalnya dapat mengingatkan orang-orang kembali kepada zaman Hadhrat RasulullahSaw., seorang wujud yang kepadanya Al-Quran diturunkan.

Sesuai dengan sunnah tersebut, di zaman kita sekarang ini Allah Ta’ala telah membangkitkan Hadhrat Masih Mau’ud ayyadahullāhul Wadūd di tengah-tengah kita agar beliauas. menjadi saksi atas zaman ini. Di dalam surat ini aku ingin menuliskan beberapa dalil yang menggerakkan hati untuk menegaskan perlunya seorang wujud suci Imam Shadiqas.. Namun karena beberapa alasan, Hadhrat Masih Mau’udas. sendiri telah menyelesaikan buku beliau berkenaan dengan “Perlunya seorang Imam” dan dalam waktu dekat akan segera diterbitkan. Oleh karena itu, aku pun mengurungkan niat saya dalam hal ini.

Terakhir, aku mengingatkan anda kembali tentang pertemuan kita yang penuh kebaikan, tentang niat baik anda untuk hadir dalam Daras Al-Quran, tentang pendapat anda terhadap diriku dan yang terpenting adalah tentang kebaikan hati serta persiapan suci anda dan aku menarik hati nurani dan fitrat suci anda untuk merenungkannya karena waktu berpikir buat anda sangat kritis. Di manakah suatu keimanan yang hidup yang sesuai dengan Al-Quran dan yang ingin Al-Quran nyalakan di dalam dada manusia seperti api yang membakar dosa? Seraya bersumpah atas nama Tuhan pemilik Arasy yang Agung, Aku menyakinkan anda bahwa inilah keimanan yang seseorang peroleh dengan berbaiat di atas tangan Hadhrat Masih Mau’ud as. – seorang wakil Hadhrat RasulullahSaw. – dan dengan tinggal dalam persahabatan suci bersama beliau as..

Sekarang aku khawatir bahwa dengan menunda pekerjaan mulia ini akan menyebabkan perubahan yang mengerikan di dalam hati. Tinggalkan ketakutan terhadap dunia dan lepaskanlah segala sesuatu demi Allah Ta’ala sebab segala sesuatu pasti akan diperoleh kembali.

Yang lemah,

ABDUL KARIM
Qadian, 1 Oktober 1898

Surat ini adalah lampiran dari buku Perlunya Seorang Imam karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Klik untuk unduh Perlunya Seorang Imam (PDF 2,5 Mb)

Imam Zaman Hakiki Memiliki Ilmu Rohani dan Makrifat Alquran Terbanyak

Sahabatku yang tercinta! Bagi seorang Imam Zaman diperlukan banyak sekali persyaratan, dan setelah memenuhi syarat-syarat itu barulah ia dapat maju menantang dunia. Sahabatku penerima wahyu yang tercinta hendaknya tidak terperangkap oleh tipu daya dengan kalimat-kalimat wahyu yang seringkali turun kepadanya. Aku katakan dengan sebenarnya bahwa ada begitu banyak orang  yang seperti itu di dalam Jemaatku sehingga dapat wahyu dari beberapa orang di antara mereka dapat disusun menjadi sebuah buku.

Sayyid Amir Ali Syah mengirimkan saya satu halaman wahyu setiap minggu. Ada juga beberapa wanita yang bersaksi atas pendakwaanku dan menerima wahyu dalam bahasa Arab tanpa sebelumnya pernah mempelajari bahasa Arab. Sangat menakjubkan bahwa wahyunya memiliki kesalahan yang jauh lebih sedikit disbanding yang anda terima. Pada tanggal 28 September 1898, aku menerima beberapa wahyunya melalui sebuah surat yang disampaikan oleh saudara laki-laki kandungnya bernama Fateh Muhammad Buzdar. Banyak lagi pengikutku lainnya yang juga menerima wahyu seperti itu. Salah seorang di antaranya tinggal di Lahore. Akan tetapi, apakah wahyu tersebut dapat melepaskan seseorang dari kebutuhan untuk berbai’at kepada seorang Imam Zaman?

Aku tidak merasa keberatan untuk berbai’at kepada seseorang namun tujuan bai’at adalah untuk meraih pengetahuan rohani dan keteguhan Iman. Sekarang katakanlah, pengetahuan rohani apa yang akan anda ajarkan dan makrifat Al-Quran yang mana yang akan anda jelaskan kepada mereka yang berbai’at kepada anda? Datanglah dan perlihatkanlah mutiara imāmat anda dan barulah kami semua akan berbai’at kepada anda.

Aku berkata dengan suara bagai gendering bahwa apa pun yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepadaku merupakan tanda ke-Imam-an diriku. Aku siap berba’iat kepada seseorang yang menampilkan tanda ke-Imam-an seperti ini serta membuktikan bahwa ia mengungguli diriku dalam semua kualitas ini. Akan tetapi janji Allah Ta’ala tidak dapat berubah. Tidak ada seorang pun yang dapat menentang-Nya.

Ilham berikut ini tercatat dalam buku Brahin-e-Ahmadiyah sekitar 20 tahun silam, yakni:

Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan Al-Quran kepadamu agar engkau memperingatkan mereka yang tidak diperingatkan kepada nenek moyangnya dan supaya terbuka jalan bagi orang-orang durhaka. Katakanlah, aku diutus oleh Allah Ta’ala dan aku orang yang pertama-tama beriman.

Menurut wahyu ini, Allah Ta’ala telah memberikan kepada diriku pengetahuan Al-Quran dan telah menamai diriku Awwal Al-Mu’minin (orang yang pertama kali beriman). Dia telah memenuhi diriku dengan makrifat samawi dan kebenaran-kebenaran bagaikan samudera. Dia telah berkali-kali menurunkan wahyu kepadaku bahwa di zaman ini tidak ada suatu makrifat ilahi dan tidak pula kecintaan ilahi yang dapat menyamai makrifat dan kecintaanku.

Walhasil, demi Allah, aku berdiri di tengah arena pertandingan ini. Barangsiapa yang tidak menerimaku akan memperoleh kehinaan dalam waktu dekat setelah kematiannya. Sekarang ia berada di bawah ketetapan Allah Ta’ala.

Wahai sahabatku! Tidak ada satu hal pun baik dalam urusan duniawi maupun dalam urusan agama yang dapat menunjukkan keberhasilan tanpa suatu kecakapan. Aku teringat akan suatu kejadian bahwa suatu kali seorang anak muda dari keturunan bangsawan – yang merupakan seorang yang bodoh dan bahkan tidak faham bahasa Urdu –hadir di hadapan seorang pejabat Inggris dengan memohon agar dapat diangkat sebagai kepala wilayah. Pejabat Inggris itu berkata bahwa apabila ia menjadikan orang itu kepala wilayah, maka siapakah yang akan memutuskan perkara-perkara pengadilan yang dihadapkan kepadanya? Ia tidak dapat memberikan kepadanya suatu kedudukan apa pun kecuali sebagai seorang pesuruh dengan imbalan lima Rupee.

Demikian pula Allah Ta’ala berfirman,

Allah-lah yang mengetahui di mana risalat-Nya akan ditempatkan-Nya. — Al-An’ām, 6:125

Apakah pantas seseorang yang kepadanya datang ribuan kawan dan lawan dengan membawa berbagai pertanyaan dan keberatan serta juga memikul tanggung jawab kenabian, lalu hanya memiliki tanda  beberapa wahyu yang juga tidak terbukti? Apakah hal ini dapat memberikan kepuasan bagi Jemaatnya atau bagi para penentangnya?

Kini, aku hendak mengakhiri tulisanku. apabila di dalam tulisan ini terdapat suatu perkataan yang tidak berkenan di hati, maka aku memohon maaf kepada setiap orang terutama kepada sahabatku yang menerima ilham. Sebab aku telah menulis karangan ini dengan niat baik. Aku mencintai sahabatku ini dengan segenap jiwa ragaku dan berdoa semoga Allah Ta’ala senantiasa menyertainya.

Artikel ini adalah sebagian isi dari buku Perlunya Seorang Imam karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Klik untuk unduh Perlunya Seorang Imam (PDF 2,5 Mb)