Imam Zaman Hakiki Memiliki Ilmu Rohani dan Makrifat Alquran Terbanyak

Sahabatku yang tercinta! Bagi seorang Imam Zaman diperlukan banyak sekali persyaratan, dan setelah memenuhi syarat-syarat itu barulah ia dapat maju menantang dunia. Sahabatku penerima wahyu yang tercinta hendaknya tidak terperangkap oleh tipu daya dengan kalimat-kalimat wahyu yang seringkali turun kepadanya. Aku katakan dengan sebenarnya bahwa ada begitu banyak orang  yang seperti itu di dalam Jemaatku sehingga dapat wahyu dari beberapa orang di antara mereka dapat disusun menjadi sebuah buku.

Sayyid Amir Ali Syah mengirimkan saya satu halaman wahyu setiap minggu. Ada juga beberapa wanita yang bersaksi atas pendakwaanku dan menerima wahyu dalam bahasa Arab tanpa sebelumnya pernah mempelajari bahasa Arab. Sangat menakjubkan bahwa wahyunya memiliki kesalahan yang jauh lebih sedikit disbanding yang anda terima. Pada tanggal 28 September 1898, aku menerima beberapa wahyunya melalui sebuah surat yang disampaikan oleh saudara laki-laki kandungnya bernama Fateh Muhammad Buzdar. Banyak lagi pengikutku lainnya yang juga menerima wahyu seperti itu. Salah seorang di antaranya tinggal di Lahore. Akan tetapi, apakah wahyu tersebut dapat melepaskan seseorang dari kebutuhan untuk berbai’at kepada seorang Imam Zaman?

Aku tidak merasa keberatan untuk berbai’at kepada seseorang namun tujuan bai’at adalah untuk meraih pengetahuan rohani dan keteguhan Iman. Sekarang katakanlah, pengetahuan rohani apa yang akan anda ajarkan dan makrifat Al-Quran yang mana yang akan anda jelaskan kepada mereka yang berbai’at kepada anda? Datanglah dan perlihatkanlah mutiara imāmat anda dan barulah kami semua akan berbai’at kepada anda.

Aku berkata dengan suara bagai gendering bahwa apa pun yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepadaku merupakan tanda ke-Imam-an diriku. Aku siap berba’iat kepada seseorang yang menampilkan tanda ke-Imam-an seperti ini serta membuktikan bahwa ia mengungguli diriku dalam semua kualitas ini. Akan tetapi janji Allah Ta’ala tidak dapat berubah. Tidak ada seorang pun yang dapat menentang-Nya.

Ilham berikut ini tercatat dalam buku Brahin-e-Ahmadiyah sekitar 20 tahun silam, yakni:

Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan Al-Quran kepadamu agar engkau memperingatkan mereka yang tidak diperingatkan kepada nenek moyangnya dan supaya terbuka jalan bagi orang-orang durhaka. Katakanlah, aku diutus oleh Allah Ta’ala dan aku orang yang pertama-tama beriman.

Menurut wahyu ini, Allah Ta’ala telah memberikan kepada diriku pengetahuan Al-Quran dan telah menamai diriku Awwal Al-Mu’minin (orang yang pertama kali beriman). Dia telah memenuhi diriku dengan makrifat samawi dan kebenaran-kebenaran bagaikan samudera. Dia telah berkali-kali menurunkan wahyu kepadaku bahwa di zaman ini tidak ada suatu makrifat ilahi dan tidak pula kecintaan ilahi yang dapat menyamai makrifat dan kecintaanku.

Walhasil, demi Allah, aku berdiri di tengah arena pertandingan ini. Barangsiapa yang tidak menerimaku akan memperoleh kehinaan dalam waktu dekat setelah kematiannya. Sekarang ia berada di bawah ketetapan Allah Ta’ala.

Wahai sahabatku! Tidak ada satu hal pun baik dalam urusan duniawi maupun dalam urusan agama yang dapat menunjukkan keberhasilan tanpa suatu kecakapan. Aku teringat akan suatu kejadian bahwa suatu kali seorang anak muda dari keturunan bangsawan – yang merupakan seorang yang bodoh dan bahkan tidak faham bahasa Urdu –hadir di hadapan seorang pejabat Inggris dengan memohon agar dapat diangkat sebagai kepala wilayah. Pejabat Inggris itu berkata bahwa apabila ia menjadikan orang itu kepala wilayah, maka siapakah yang akan memutuskan perkara-perkara pengadilan yang dihadapkan kepadanya? Ia tidak dapat memberikan kepadanya suatu kedudukan apa pun kecuali sebagai seorang pesuruh dengan imbalan lima Rupee.

Demikian pula Allah Ta’ala berfirman,

Allah-lah yang mengetahui di mana risalat-Nya akan ditempatkan-Nya. — Al-An’ām, 6:125

Apakah pantas seseorang yang kepadanya datang ribuan kawan dan lawan dengan membawa berbagai pertanyaan dan keberatan serta juga memikul tanggung jawab kenabian, lalu hanya memiliki tanda  beberapa wahyu yang juga tidak terbukti? Apakah hal ini dapat memberikan kepuasan bagi Jemaatnya atau bagi para penentangnya?

Kini, aku hendak mengakhiri tulisanku. apabila di dalam tulisan ini terdapat suatu perkataan yang tidak berkenan di hati, maka aku memohon maaf kepada setiap orang terutama kepada sahabatku yang menerima ilham. Sebab aku telah menulis karangan ini dengan niat baik. Aku mencintai sahabatku ini dengan segenap jiwa ragaku dan berdoa semoga Allah Ta’ala senantiasa menyertainya.

Artikel ini adalah sebagian isi dari buku Perlunya Seorang Imam karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Klik untuk unduh Perlunya Seorang Imam (PDF 2,5 Mb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.