Kisah Nyata Keberkatan Rohani dari Mengenal & Bergaul dengan Imam Zaman

SEPUCUK SURAT MAULVI ABDUL KARIM SAHIB KEPADA SEORANG TEMAN 1

Dari Abdul Karim,
Kepada saudara saya tercinta, Nasrullah Khan

Hari ini hatiku terdorong lagi untuk memperdengarkan sebuah cerita yang mengharukan. Semoga anda pun akan menjadi sahabatku untuk berbagi. Setelah sekian lama, keinginan ini pun tidak luput dari suatu dorongan karena Yang Maha Menggerakkan Hati pun tidak pernah merangsang para hamba-Nya untuk melakukan suatu pekerjaan sia-sia.

Chaudri Sahib! Aku pun seorang anak Adam yang terlahir dari seorang ibu yang lemah. Aku juga harus mengatasi segala kelemahan manusiawi, ketertarikan untuk menjalin hubungan dengan orang-orang tercinta serta kekurangan lainnya yang ada dalam diriku. Seseorang yang terlahir dari rahim seorang wanita tidak dapat menjadi keras hati jika tidak ada satu penyakit yang menjangkitinya. Ibuku sekarang masih hidup. Beliau adalah seorang yang sangat lembut hati dan sedang menderita penyakit kronis. Begitu juga ayahku dan saudara-saudaraku tercinta pun masih hidup. Aku pun memiliki hubungan-hubungan kekerabatan lainnya.

[1] Secara kebetulan mata saya tertuju pada sepucuk surat yang ditulis oleh saudara saya Maulwi Abdul Karim yang dialamatkan kepada seorang temannya. Karena isi surat tersebut berkaitan dengan buku ini, maka saya menerbitkannya di sini.

Lalu apakah aku ini berhati batu, yakni yang telah melewatkan waktu berbulan-bulan di sini duduk bagaikan seorang fakir? Apakah aku ini telah gila dan kehilangan akal sehat? Atau apakah aku mengikuti sesuatu secara membabi buta dan benar-benar bodoh akan pengetahuan samawi? Atau apakah aku dikenal di kalangan keluargaku, lingkungan sekitarku atau di kotaku sebagai seseorang yang menjalani kehidupan dengan penuh kefasikan? Atau apakah aku ini adalah seorang penipu yang senantiasa berganti samaran demi mengisi perut?

Bahwa dengan karunia Allah Ta’ala aku terbebas dari segala kelemahan seperti itu. Kemudian hal apakah yang telah menimbulkan suatu ketabahan di dalam diriku yang telah mengungguli semua daya tarik terhadap hubungan-hubungan itu? Perkara ini sangat jelas dan dapat dijelaskan dengan sebuah perkataan saja yakni: Mengenal Imam Zaman Ini.

Ya Allah, betapa perkasanya kekuatan yang terkandung di dalamnya sehingga memutuskan segala perhubungan dan ikatan itu. Anda sangat mengetahui bahwa aku beruntung memperoleh pengetahuan-pengetahuan dan rahasia-rahasia Kitab Allah sesuai dengan kemampuanku. Aku tidak mempunyai kesibukan lain di rumah selain menelaah dan mengajarkan Kitab Allah. Lalu pelajaran apakah yang aku peroleh di sini? Apakah tidak cukup untuk kepuasan ruh dan jiwaku dengan mempelajarinya di rumah dan menjadi pusat perhatian oleh suatu golongan?

Demi Allah, sekali-kali tidak! Aku menelaah Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang-orang. Aku senantiasa berdiri di atas mimbar pada hari Jum’at untuk memberikan nasehat berkenaan dengan akhlak yang sangat mengesankan, untuk memberi peringatan kepada orang-orang akan azab Ilahi dan juga untuk menekankan pada mereka agar menyelamatkan diri dari apa yang telah dilarang. Namun, hati nurani ini senantiasa mencela diriku.

Mengapa kamu menyatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. — Ash-Shaff, 61:3-4

Aku membuat orang lain menangis tetapi aku sendiri tidak menangis. Aku menjauhkan orang-orang dari pekerjaan dan perkataan yang tidak layak namun aku tidak pernah menghentikan diriku sendiri berbuat demikian. Karena aku bukanlah seorang yang riya dan tidak pula egois dan bukan pula mencari popularitas dan kekayaan menjadi tujuanku, maka tatkala aku sejenak menyendiri, datanglah pikiran-pikiran ini secara bertubi-tubi di dalam hatiku.

Namun karena aku tidak melihat suatu jalan dan arah yang lurus untuk memperbaiki diri sendiri dan keimanan pun tidak memberi peluang untuk berpuas diri atas perbuatan rendahan tersebut, pada akhirnya aku menyerah di bawah tekanan ini dan mengidap sakit jantung yang serius. Berkali-kali aku membulatkan hati untuk berhenti belajar, mengajar dan memberi nasehat namun dengan segera aku kembali menelaah kitab-kitab tentang Akhlak, kitab-kitab Tasawuf dan Tafsir-tafsir. Aku membaca Ihyā-ul-Ulūm, Awāriful Ma’ārif dan keempat jilid Fatuhat Makiyah dan banyak buku lainnya dengan penuh perhatian. Sedangkan Al-Quran Suci senantiasa merupakan makanan bagi rohku dan alhamdulillāh, kini pun masih tetap demikian.

Sejak kecil dan bahkan sejak balita, kecintaanku begitu besar kepada Kitab Suci tersebut sehingga aku pun tidak dapat menjelaskannya dengan kata-kata. Pendek kata, ilmu pun berkembang dan aku pun mendapatkan kemampuan untuk membuat majelis menjadi gembira dan untuk membumbui nasehatku dengan cerita-cerita lucu. Aku telah melihat bahwa banyak orang yang telah sembuh dari penyakitnya dengan tanganku. Akan tetapi belum ada suatu perubahan di dalam diriku. Setelah kemelut dalam pikiran, akhirnya terbukalah kepadaku bahwa selama aku belum menemukan suatu teladan yang hidup atau mencapai suatu sumber kehidupan yang dapat mensucikan segala kekotoran batin, selama itu pula segala kekotoran ini tidak akan dapat hilang.

Lihatlah bagaimana seorang Pembimbing Sempurna dan seorang Khātamul Anbiyā Saw memberikan petunjuk kepada para sahabatnya melalui tahapan perkembangan kerohanian selama 23 tahun. Al-Quran adalah khazanah ilmu, sedangkan beliau Saw. merupakan perwujudannya yang sejati. Bukanlah keagungan serta kemuliaan hukum-hukum Al-Quran dalam corak ilmu serta bahasanya yang telah meluluhkan hati orang-orang secara luar biasa. Namun adalah karena suri tauladan serta akhlak beliau Saw. yang tiada tandingannya yang didukung oleh manifestasi tanda-tanda samawi yang berkesinambungan yang telah menciptakan kesan yang tertanam secara abadi di dalam hati para pecintanya.

Karena Allah Ta’ala sangat cinta kepada Islam dan menghendaki agar Islam senantiasa tegak selama-lamanya, maka Dia tidak ingin kalau agama ini pun kelak menjadi seperti agama-agama lain di dunia yang hanya tinggal kisah-kisah dan dongeng-dongeng usang. Di setiap zaman, agama beberkat ini senantiasa memiliki seorang suri tauladan yang hidup yang melalui ilmu dan amalnya dapat mengingatkan orang-orang kembali kepada zaman Hadhrat RasulullahSaw., seorang wujud yang kepadanya Al-Quran diturunkan.

Sesuai dengan sunnah tersebut, di zaman kita sekarang ini Allah Ta’ala telah membangkitkan Hadhrat Masih Mau’ud ayyadahullāhul Wadūd di tengah-tengah kita agar beliauas. menjadi saksi atas zaman ini. Di dalam surat ini aku ingin menuliskan beberapa dalil yang menggerakkan hati untuk menegaskan perlunya seorang wujud suci Imam Shadiqas.. Namun karena beberapa alasan, Hadhrat Masih Mau’udas. sendiri telah menyelesaikan buku beliau berkenaan dengan “Perlunya seorang Imam” dan dalam waktu dekat akan segera diterbitkan. Oleh karena itu, aku pun mengurungkan niat saya dalam hal ini.

Terakhir, aku mengingatkan anda kembali tentang pertemuan kita yang penuh kebaikan, tentang niat baik anda untuk hadir dalam Daras Al-Quran, tentang pendapat anda terhadap diriku dan yang terpenting adalah tentang kebaikan hati serta persiapan suci anda dan aku menarik hati nurani dan fitrat suci anda untuk merenungkannya karena waktu berpikir buat anda sangat kritis. Di manakah suatu keimanan yang hidup yang sesuai dengan Al-Quran dan yang ingin Al-Quran nyalakan di dalam dada manusia seperti api yang membakar dosa? Seraya bersumpah atas nama Tuhan pemilik Arasy yang Agung, Aku menyakinkan anda bahwa inilah keimanan yang seseorang peroleh dengan berbaiat di atas tangan Hadhrat Masih Mau’ud as. – seorang wakil Hadhrat RasulullahSaw. – dan dengan tinggal dalam persahabatan suci bersama beliau as..

Sekarang aku khawatir bahwa dengan menunda pekerjaan mulia ini akan menyebabkan perubahan yang mengerikan di dalam hati. Tinggalkan ketakutan terhadap dunia dan lepaskanlah segala sesuatu demi Allah Ta’ala sebab segala sesuatu pasti akan diperoleh kembali.

Yang lemah,

ABDUL KARIM
Qadian, 1 Oktober 1898

Surat ini adalah lampiran dari buku Perlunya Seorang Imam karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Klik untuk unduh Perlunya Seorang Imam (PDF 2,5 Mb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.