Arsip Bulanan: Oktober 2019

Di Dunia Ini Juga Nabi Isa as. Memperoleh Kemuliaan dan Berkat

Dan ini ada satu ayat lagi, dalam Al-Quran Suci yang mendukung Nabi Isa as.. Terjemahannya adalah: “Di dunia ini juga Nabi Isa as., dalam masa hidup beliau, akan memperoleh kemuliaan, yakni, kehormatan, martabat, keagungan dan kebesaran di pandangan orang-orang banyak; dan juga di akhirat.” (QS. Ali Imran, 3:46)

Sekarang nyatalah bahwa Nabi Isa as. tidak memperoleh suatu kehormatan pun di kawasan Herodes dan Pilatus, melainkan sangat dihinakan. Dan anggapan bahwa beliau akan datang kembali ke dunia, lalu barulah beliau akan memperoleh kehormatan dan kemuliaan, merupakan suatu kesalahpahaman tidak berdasar; yang bukan saja bertentangan dengan kehendak Kitab-kitab Allah Taala, melainkan juga bertentangan dan berlawanan dengan hukum kodrat-Nya yang berlaku sejak semula; dan kemudian merupakan suatu hal yang tidak terbukti.

Akan tetapi hal yang hakiki dan sebenarnya adalah, Nabi Isa as. telah terlepas dari tangan kaum yang bejat itu, lalu ketika beliau memberikan kehormatan pada negeri Punjab (India) ini melalui kedatangan beliau, maka Allah telah menganugerahkan kehormatan yang sangat besar kepada beliau di negeri ini. Dan setelah datang ke sini. beliau berhasil menemukan sepuluh suku Bani lsrail yang telah hilang. Diketahui bahwa Bani Israil datang ke negeri ini, lalu kebanyakan dari mereka telah masuk agama Budha, dan sebagian lagi terperangkap dalam penyembahan berhala yang sangat hina. Jadi, kebanyakan mereka telah kembali ke jalan yang benar melalui kedatangan Nabi Isa as. ke negeri ini.

Dan dikarenakan dalam imbauan Nabi Isa as. terdapat pesan untuk menerima nabi yang bakal datang berikutnya, untuk itulah kesepuluh suku tersebut ―yang tiba di negeri ini, lalu dinamakan Afghan dan Kashmiri― akhirnya semua mereka telah masuk Islam.

Ringkasnya, di negeri ini telah terbentuk kehormatan, kemuliaan besar bagi Nabi Isa a.s.. Dan baru·baru ini telah ditentukan sebuah uang logam yang diperoleh dari negeri Punjab ini juga. Di situ tertulis nama Nabi Isa a.s. dalam bahasa Pali. Dan uang logam itu berasal dari zaman Nabi Isa as..

Dari situ diyakini bahwa setelah datang ke negeri ini. Nabi Isa a.s. memperoleh kemuliaan seperti raja. Dan uang logam itu dikeluarkan oleh seorang raja yang tampaknya telah beriman kepada Nabi Isa as.. Ada sekeping uang logam lain yang telah ditemukan. Padanya terdapat gambar seorang pria Bani Israil. Secara akal dapat diketahui, bahwa itu pun merupakan gambar Nabi Isa as..

Di dalam Al-Quran Suci juga terdapat satu ayat ini, bahwa Tuhan telah memberikan berkat kepada Nabi Isa as. sedemikian rupa sehingga kemana pun beliau pergi hal itu akan beberkat.1) Jadi, dari uang-uang logam ini terbukti bahwa beliau telah memperoleh berkat yang besar dari Tuhan dan beliau tidak wafat sebelum memperoleh suatu kemuliaan sebagai raja.

1) (QS. Maryam, 19:32)

Allah Berjanji Melepaskan Nabi Isa as. Dari Tuduhan Terkutuk

Demikian pula ada sebuah ayat dalam Al-Quran Suci:

Yakni, “Wahai Isa, Aku akan membebaskan engkau dari tuduhan-tuduhan itu dan Aku akan membuktikan kesucian engkau. Dan Aku akan menjauhkan celaan-celaan yang dilontarkan oleh orang-orang Yahudi serta Nasrani terhadap engkau.” (QS. Ali Imran, 3:56)

Ini adalah suatu kabar gaib besar. Latar-belakangnya adalah, orang-orang Yahudi melontarkan celaan bahwa ―na‘udzu-billah― Nabi Isa as. telah terkutuk karena mashlũb (disalibkan sampai mati), sehingga tidak ada lagi kecintaan terhadap Allah dalam kalbu beliau. Dan sebagaimana syarat bagi makna laknat/kutukan, hati beliau jauh dari Tuhan; tidak peduli terhadap Tuhan; telah terperangkap ke dalam topan kegelapan yang luar biasa; mulai mencintai keburukan-keburukan; menentang segenap kebaikan; masuk ke bawah kerajaan syaitan setelah memutuskan hubungan dengan Tuhan; dan telah timbul permusuhan hakiki antara beliau dengan Tuhan.

Dan celaan mal’ũn (terkutuk) ini jugalah yang telah dilontarkan oleh orang-orang Nasrani. Akan tetapi karena kebodohan mereka, orang-orang Nasrani telah menyatukan dua hal yang berlawanan dalam satu tempat. Di satu sisi, mereka telah menetapkan Yesus sebagai anak Tuhan, sedangkan di sisi lain, mereka juga menetapkan Yesus sebagai orang yang terkutuk. Dan mereka sendiri mengakui bahwa orang terkutuk merupakan anak kegelapan dan anak syaitan, atau syaitan sendiri. Jadi, celaan-celaan yang sangat kotor inilah yang telah dilontarkan pada Nabi Isa as..

Dan di dalam kabar gaib “muthahhiruka” diisyarahkan bahwa bakal datang suatu zaman ketika Allah Taala akan mensucikan Nabi Isa as. dari tuduhan-tuduhan tersebut. Dan inilah zaman yang dimaksud itu.

Walaupun melalui kesaksian Nabi kita Saw., pada pandangan orang-orang berakal, pensucian [nama baik] Nabi Isa a.s. telah dilakukan dengan baik ―namun demikian tetap Rasulullah Saw. dan Al-Quran Suci telah memberikan ketegasan bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Nabi Isa a.s. semuanya dusta― akan tetapi pada pandangan orang-orang awam hal itu merupakan konsep yang rumit, untuk itulah rasa keadilan Allah Taala telah menghendaki bahwa sebagaimana penyaliban Nabi Isa a.s. itu merupakan suatu hal yang masyhur dan merupakan satu dari antara hal-hal yang secara terbuka disaksikan serta dirasakan, maka seperti itu pulalah [peristiwa] pensucian dan pembebasan [dari kematian terkutuk] ini hendaknya menjadi satu di antara hal-hal yang disaksikan dan dirasakan juga.

Jadi, sekarang, sesuai dengan itu telah terjadi demikian. Yakni, pensucian itu tidak hanya berupa konsep, melainkan juga telah dirasakan/diperagakan. Dan ratusan ribu manusia telah menyaksikan dengan kasat mata bahwa kuburan Nabi Isa a.s. ada di Srinagar, Kashmir. Dan sebagaimana Nabi Isa as. telah disalibkan di Golgota yakni di tempat Sri,2) demikian pula telah telah terbukti keberadaan kuburan beliau di tempat Sri, yakni Srinagar.3) Suatu hal yang menakjubkan bahwa pada kedua tempat terdapat kata Sri. Yakni, tempat Nabi Isa as. disalibkan bernama Golgota yaitu Sri, dan pada akhir abad ke-19 tempat yang telah terbukti sebagai kuburan Nabi Isa as. pun bernama Gilgit, yakni Sri. Dan tampaknya Gilgit yang berada di kawasan Kashmir, juga merupakan suatu isyarah terhadap kata Sri. Kemungkinan kota ini dibangun pada masa Nabi Isa as., dan sebagai kenangan terhadap lokasi peristiwa penyaliban, tempat itu dinamakan Gilgit, yakni Sri.

2) Tampaknya yang dimaksud di sini adalah Yerusalem. Yerusalem artinya tempat yang aman dan damai. Sedangkan Sri artinya kemakmuran dan keindahan –peny.

3) Srinagar artinya tempat yang makmur dan indah –peny.

Seperti Lhasa yang berarti kota tempat sesuatu yang patut disembah (Tuhan), itu merupakan kata dari bahasa Ibrani, dan ini pun dibangun pada masa Nabi Isa as..

Nabi Isa as. Mencapai Usia 125 Tahun

Dan dari riwayat yang terpercaya dalam Hadits-hadits terbukti bahwa Nabi kita Saw. bersabda bahwa umur Nabi Isa as. mencapai 125 tahun. Dan hal ini diakui oleh segenap golongan dalam Islam bahwa ada dua hal yang menyatu pada diri Nabi Isa a.s. yang tidak terdapat pada diri Nabi lainnya. Pertama, beliau mencapai usia lanjut, yakni hidup 125 tahun. Kedua, beliau mengembara ke banyak bagian bumi, untuk itulah beliau disebut Nabi Sayyah (nabi pengembara).

Sekarang nyatalah, jika dalam usia 33 tahun beliau telah diangkat ke langit, maka dalam bentuk demikian, riwayat [tentang usia] 125 tahun tidak dapat dinyatakan benar. Dan tidak dapat pula beliau mengembara [sekian jauh] dalam usia sesingkat itu. Dan hal-hal ini, tidak hanya tertulis dalam kitab-kitab Hadits yang terpercaya serta berasal dari zaman-zaman awal, melainkan juga masyhur secara mutawatir di kalangan golongan-golongan Islam, sehingga tidak dapat dibayangkan hal yang lebih [masyhur] dari itu.

Nabi Isa as. Mengembara dan Berpindah-pindah

Kanzul Ummal, yang merupakan kitab kumpulan Hadits, pada halaman 34 (Jilid II) tertera Hadits yang berasal dari Abu Hurairah r.a.:

Yakni, Allah Taala mewahyukan kepada Nabi Isa a.s.: ”Wahai Isa, berpindah-pindahlah engkau dari satu tempat ke tempat lain, yakni pergilah dari satu negeri ke negeri lain, supaya jangan ada yang mengenali engkau lalu menyiksamu.”

Kemudian di dalam kitab itu juga tertera hadits yang diriwayatkan oleh Jabar r.a.:

Yakni, Nabi Isa a.s. senantiasa mengembara, dari satu negeri menjelajahi negeri lain. Dan di suatu tempat kalau malam tiba, beliau memakan beberapa tumbuhan hutan, serta meminum air bersih. Dan di dalam Kitab itu juga terdapat riwayat dari Abdullah bin Umar r.a. yang kata-katanya sebagai berikut:

Yakni, Rasulullah Saw. bersabda, “Yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yang gharib (miskin).” Ditanyakan kepada beliau, apa yang dimaksudkan dengan kata gharib. Apakah orang-orang seperti Nabi Isa a.s. yang melarikan diri dari negerinya membawa agama/iman?

Artikel ini adalah sebagian dari isi buku Al-Masih di Hindustan karya Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar di bawah untuk mengunduh gratis buku ini (format PDF 1,7 Mb).

Kesaksian dari Al-Quran Suci dan Hadits Shahih Mengenai Selamatnya Nabi Isa as.

Mengenai dalil-dalil yang akan saya tuliskan dalam bab ini, secara zahir pada diri setiap orang akan timbul pendapat bahwa memaparkan alasan-alasan itu di hadapan orang-orang Kristen adalah tidak berguna. Sebab, orang-orang itu tidak dapat memahami Al-Quran Suci atau suatu Hadits sebagai dalil/hujjah bagi mereka. Akan tetapi saya menuliskannya semata-mata dengan tujuan supaya orang-orang Kristen mengetahui suatu mukjizat Al-Quran Suci dan mukjizat Nabi kita Saw.. Dan supaya hakikat ini terbuka atas mereka bahwa mengapa kebenaran-kebenaran yang sesudah ratusan tahun itu telah diuraikan dari sejak awal oleh Nabi kita Saw. dan Al-Quran Suci. Di antaranya, saya tuliskan di bawah ini dalam kadar tertentu.

Bukannya Orang-orang Yahudi Membunuh Nabi Isa as.

Allah Taala berfirman dalam Al-Quran Suci:

Yakni, bukannya orang-orang Yahudi secara benar-benar telah membunuh Nabi Isa as.; bukannya telah mematikan beliau melalui salib, melainkan pada diri mereka timbul suatu keraguan seolah-olah Nabi Isa  as. telah wafat di tiang salib. Dan mereka tidak memiliki dalil-dalil yang dapat menguatkan hati mereka mengenai hal itu. bahwa Nabi Isa as. benar-benar telah mati di tiang salib. (QS. An-Nisa 4:158)

Di dalam ayat-ayat ini Allah Taala menjelaskan, sekalipun ini benar bahwa secara zahir Nabi Isa as. telah dinaikkan ke tiang salib dan telah diniatkan untuk membunuh beliau, namun ini hanyalah suatu tipuan/ rekayasa sehingga orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen beranggapan bahwa Nabi Isa a.s. benar-benar telah mati di tiang salib. Justru Tuhan telah menciptakan sarana-sarana sedemikian rupa yang mengakibatkan beliau terhindar dari kematian di tiang salib.

Sekarang di sini tempatnya untuk bersikap bijak, bahwa apa pun yang telah diuraikan Al-Quran Suci ―bertentangan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani― akhirnya itulah yang terbukti benar. Dan melalui penelitian yang mendalam pada zaman ini telah terbukti bahwa Nabi Isa as. pada hakikatnya, telah diselamatkan dari kematian di tiang salib. Dengan menelaah buku-buku, diketahui hahwa orang-orang Yahudi selamanya tidak mampu memberikan jawaban, mengapa nyawa Nabi Isa a.s. telah melayang hanya dalam tempo dua atau tiga jam saja, tanpa pematahan tulang-tulang beliau?

Itulah sebabnya sebagian orang Yahudi telah membuat-buat satu perkara lain, yakni mereka telah membunuh Yesus dengan pedang. Padahal berdasarkan sejarah kuno kaum Yahudi tidak terbukti bahwa Yesus telah dibunuh dengan pedang.

Ini merupakan kehebatan Allah Taala, bahwa untuk menyelamatkan Nabi Isa as. telah muncul suasana gelap; timbul gempa; isteri Pilatus melihat mimpi; malam Sabat pun hampir tiba yang di dalamnya tidak dibenarkan bila orang-orang yang disalibkan tetap dibiarkan di tiang salib. Hati penguasa terpanggil untuk membebaskan Nabi Isa as. akibat mimpi yang menakutkan itu. Semua kejadian tersebut, sengaja ditimbulkan oleh Tuhan secara serentak adalah supaya nyawa Nabi Isa as. terselamatkan. Selain itu, Nabi Isa as. telah ditampilkan dalam keadaan pingsan, supaya tiap orang mengiranya mati. Dan dengan memperlihatkan Tanda-tanda yang mengerikan pada waktu itu ―gempa dan sebagainya―orang-orang Yahudi diliputi oleh sikap penakut, gentar dan khawatir akan azab. Sedangkan kegelisahan ini lain lagi, bahwa pada malam Sabat, tidak dibenarkan mayat-mayat berada di tiang salib.

Kemudian, hal ini pun terjadi bahwa orang-orang Yahudi menyaksikan Nabi Isa as. dalam keadaan pingsan, lalu menganggap beliau telah mati. Saat itu gelap, gempa, dan ketakutan. [Orang-orang] merisaukan keluarga [masing-masing], “Apa yang terjadi pada anak-anak [kami] akibat gempa dan kegelapan ini?” Dan kecemasan ini pun menyelimuti hati orang-orang. “Jika orang ini (Nabi Isa as.) pendusta serta kafir, sebagaimana yang kami anggap di dalam hati, maka mengapa pada saat penyiksaannya telah timbul Tanda-tanda menakutkan ini yang belum pernah kami saksikan sebelumnya?” Oleh sebab itu hati mereka kacau, sehingga tidak mampu memastikan dengan benar, apakah Nabi Isa as. telah mati atau bagaimana.

Namun pada hakikatnya segenap kejadian itu merupakan tadbir-tadbir (upaya) Ilahiyah untuk menyelamatkan Nabi Isa as.. Ke arah itulah ayat ini memberikan isyarah:

Yakni, orang-orang Yahudi tidak [berhasil] membunuh Nabi Isa as., akan tetapi mereka dijerumuskan ke dalam keraguan, seolah-olah mereka telah membunuh beliau. Melalui hal ini, harapan orang-orang suci terhadap karunia Allah Taala semakin meningkat, bahwa dengan cara apa pun yang Dia kehendaki, Allah menyelamatkan hamba-hamba-Nya.

Artikel ini adalah sebagian dari isi buku Al-Masih di Hindustan karya Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar di bawah untuk mengunduh gratis buku ini (format PDF 1,7 Mb).