Di Dunia Ini Juga Nabi Isa as. Memperoleh Kemuliaan dan Berkat

Dan ini ada satu ayat lagi, dalam Al-Quran Suci yang mendukung Nabi Isa as.. Terjemahannya adalah: “Di dunia ini juga Nabi Isa as., dalam masa hidup beliau, akan memperoleh kemuliaan, yakni, kehormatan, martabat, keagungan dan kebesaran di pandangan orang-orang banyak; dan juga di akhirat.” (QS. Ali Imran, 3:46)

Sekarang nyatalah bahwa Nabi Isa as. tidak memperoleh suatu kehormatan pun di kawasan Herodes dan Pilatus, melainkan sangat dihinakan. Dan anggapan bahwa beliau akan datang kembali ke dunia, lalu barulah beliau akan memperoleh kehormatan dan kemuliaan, merupakan suatu kesalahpahaman tidak berdasar; yang bukan saja bertentangan dengan kehendak Kitab-kitab Allah Taala, melainkan juga bertentangan dan berlawanan dengan hukum kodrat-Nya yang berlaku sejak semula; dan kemudian merupakan suatu hal yang tidak terbukti.

Akan tetapi hal yang hakiki dan sebenarnya adalah, Nabi Isa as. telah terlepas dari tangan kaum yang bejat itu, lalu ketika beliau memberikan kehormatan pada negeri Punjab (India) ini melalui kedatangan beliau, maka Allah telah menganugerahkan kehormatan yang sangat besar kepada beliau di negeri ini. Dan setelah datang ke sini. beliau berhasil menemukan sepuluh suku Bani lsrail yang telah hilang. Diketahui bahwa Bani Israil datang ke negeri ini, lalu kebanyakan dari mereka telah masuk agama Budha, dan sebagian lagi terperangkap dalam penyembahan berhala yang sangat hina. Jadi, kebanyakan mereka telah kembali ke jalan yang benar melalui kedatangan Nabi Isa as. ke negeri ini.

Dan dikarenakan dalam imbauan Nabi Isa as. terdapat pesan untuk menerima nabi yang bakal datang berikutnya, untuk itulah kesepuluh suku tersebut ―yang tiba di negeri ini, lalu dinamakan Afghan dan Kashmiri― akhirnya semua mereka telah masuk Islam.

Ringkasnya, di negeri ini telah terbentuk kehormatan, kemuliaan besar bagi Nabi Isa a.s.. Dan baru·baru ini telah ditentukan sebuah uang logam yang diperoleh dari negeri Punjab ini juga. Di situ tertulis nama Nabi Isa a.s. dalam bahasa Pali. Dan uang logam itu berasal dari zaman Nabi Isa as..

Dari situ diyakini bahwa setelah datang ke negeri ini. Nabi Isa a.s. memperoleh kemuliaan seperti raja. Dan uang logam itu dikeluarkan oleh seorang raja yang tampaknya telah beriman kepada Nabi Isa as.. Ada sekeping uang logam lain yang telah ditemukan. Padanya terdapat gambar seorang pria Bani Israil. Secara akal dapat diketahui, bahwa itu pun merupakan gambar Nabi Isa as..

Di dalam Al-Quran Suci juga terdapat satu ayat ini, bahwa Tuhan telah memberikan berkat kepada Nabi Isa as. sedemikian rupa sehingga kemana pun beliau pergi hal itu akan beberkat.1) Jadi, dari uang-uang logam ini terbukti bahwa beliau telah memperoleh berkat yang besar dari Tuhan dan beliau tidak wafat sebelum memperoleh suatu kemuliaan sebagai raja.

1) (QS. Maryam, 19:32)

Allah Berjanji Melepaskan Nabi Isa as. Dari Tuduhan Terkutuk

Demikian pula ada sebuah ayat dalam Al-Quran Suci:

Yakni, “Wahai Isa, Aku akan membebaskan engkau dari tuduhan-tuduhan itu dan Aku akan membuktikan kesucian engkau. Dan Aku akan menjauhkan celaan-celaan yang dilontarkan oleh orang-orang Yahudi serta Nasrani terhadap engkau.” (QS. Ali Imran, 3:56)

Ini adalah suatu kabar gaib besar. Latar-belakangnya adalah, orang-orang Yahudi melontarkan celaan bahwa ―na‘udzu-billah― Nabi Isa as. telah terkutuk karena mashlũb (disalibkan sampai mati), sehingga tidak ada lagi kecintaan terhadap Allah dalam kalbu beliau. Dan sebagaimana syarat bagi makna laknat/kutukan, hati beliau jauh dari Tuhan; tidak peduli terhadap Tuhan; telah terperangkap ke dalam topan kegelapan yang luar biasa; mulai mencintai keburukan-keburukan; menentang segenap kebaikan; masuk ke bawah kerajaan syaitan setelah memutuskan hubungan dengan Tuhan; dan telah timbul permusuhan hakiki antara beliau dengan Tuhan.

Dan celaan mal’ũn (terkutuk) ini jugalah yang telah dilontarkan oleh orang-orang Nasrani. Akan tetapi karena kebodohan mereka, orang-orang Nasrani telah menyatukan dua hal yang berlawanan dalam satu tempat. Di satu sisi, mereka telah menetapkan Yesus sebagai anak Tuhan, sedangkan di sisi lain, mereka juga menetapkan Yesus sebagai orang yang terkutuk. Dan mereka sendiri mengakui bahwa orang terkutuk merupakan anak kegelapan dan anak syaitan, atau syaitan sendiri. Jadi, celaan-celaan yang sangat kotor inilah yang telah dilontarkan pada Nabi Isa as..

Dan di dalam kabar gaib “muthahhiruka” diisyarahkan bahwa bakal datang suatu zaman ketika Allah Taala akan mensucikan Nabi Isa as. dari tuduhan-tuduhan tersebut. Dan inilah zaman yang dimaksud itu.

Walaupun melalui kesaksian Nabi kita Saw., pada pandangan orang-orang berakal, pensucian [nama baik] Nabi Isa a.s. telah dilakukan dengan baik ―namun demikian tetap Rasulullah Saw. dan Al-Quran Suci telah memberikan ketegasan bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Nabi Isa a.s. semuanya dusta― akan tetapi pada pandangan orang-orang awam hal itu merupakan konsep yang rumit, untuk itulah rasa keadilan Allah Taala telah menghendaki bahwa sebagaimana penyaliban Nabi Isa a.s. itu merupakan suatu hal yang masyhur dan merupakan satu dari antara hal-hal yang secara terbuka disaksikan serta dirasakan, maka seperti itu pulalah [peristiwa] pensucian dan pembebasan [dari kematian terkutuk] ini hendaknya menjadi satu di antara hal-hal yang disaksikan dan dirasakan juga.

Jadi, sekarang, sesuai dengan itu telah terjadi demikian. Yakni, pensucian itu tidak hanya berupa konsep, melainkan juga telah dirasakan/diperagakan. Dan ratusan ribu manusia telah menyaksikan dengan kasat mata bahwa kuburan Nabi Isa a.s. ada di Srinagar, Kashmir. Dan sebagaimana Nabi Isa as. telah disalibkan di Golgota yakni di tempat Sri,2) demikian pula telah telah terbukti keberadaan kuburan beliau di tempat Sri, yakni Srinagar.3) Suatu hal yang menakjubkan bahwa pada kedua tempat terdapat kata Sri. Yakni, tempat Nabi Isa as. disalibkan bernama Golgota yaitu Sri, dan pada akhir abad ke-19 tempat yang telah terbukti sebagai kuburan Nabi Isa as. pun bernama Gilgit, yakni Sri. Dan tampaknya Gilgit yang berada di kawasan Kashmir, juga merupakan suatu isyarah terhadap kata Sri. Kemungkinan kota ini dibangun pada masa Nabi Isa as., dan sebagai kenangan terhadap lokasi peristiwa penyaliban, tempat itu dinamakan Gilgit, yakni Sri.

2) Tampaknya yang dimaksud di sini adalah Yerusalem. Yerusalem artinya tempat yang aman dan damai. Sedangkan Sri artinya kemakmuran dan keindahan –peny.

3) Srinagar artinya tempat yang makmur dan indah –peny.

Seperti Lhasa yang berarti kota tempat sesuatu yang patut disembah (Tuhan), itu merupakan kata dari bahasa Ibrani, dan ini pun dibangun pada masa Nabi Isa as..

Nabi Isa as. Mencapai Usia 125 Tahun

Dan dari riwayat yang terpercaya dalam Hadits-hadits terbukti bahwa Nabi kita Saw. bersabda bahwa umur Nabi Isa as. mencapai 125 tahun. Dan hal ini diakui oleh segenap golongan dalam Islam bahwa ada dua hal yang menyatu pada diri Nabi Isa a.s. yang tidak terdapat pada diri Nabi lainnya. Pertama, beliau mencapai usia lanjut, yakni hidup 125 tahun. Kedua, beliau mengembara ke banyak bagian bumi, untuk itulah beliau disebut Nabi Sayyah (nabi pengembara).

Sekarang nyatalah, jika dalam usia 33 tahun beliau telah diangkat ke langit, maka dalam bentuk demikian, riwayat [tentang usia] 125 tahun tidak dapat dinyatakan benar. Dan tidak dapat pula beliau mengembara [sekian jauh] dalam usia sesingkat itu. Dan hal-hal ini, tidak hanya tertulis dalam kitab-kitab Hadits yang terpercaya serta berasal dari zaman-zaman awal, melainkan juga masyhur secara mutawatir di kalangan golongan-golongan Islam, sehingga tidak dapat dibayangkan hal yang lebih [masyhur] dari itu.

Nabi Isa as. Mengembara dan Berpindah-pindah

Kanzul Ummal, yang merupakan kitab kumpulan Hadits, pada halaman 34 (Jilid II) tertera Hadits yang berasal dari Abu Hurairah r.a.:

Yakni, Allah Taala mewahyukan kepada Nabi Isa a.s.: ”Wahai Isa, berpindah-pindahlah engkau dari satu tempat ke tempat lain, yakni pergilah dari satu negeri ke negeri lain, supaya jangan ada yang mengenali engkau lalu menyiksamu.”

Kemudian di dalam kitab itu juga tertera hadits yang diriwayatkan oleh Jabar r.a.:

Yakni, Nabi Isa a.s. senantiasa mengembara, dari satu negeri menjelajahi negeri lain. Dan di suatu tempat kalau malam tiba, beliau memakan beberapa tumbuhan hutan, serta meminum air bersih. Dan di dalam Kitab itu juga terdapat riwayat dari Abdullah bin Umar r.a. yang kata-katanya sebagai berikut:

Yakni, Rasulullah Saw. bersabda, “Yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yang gharib (miskin).” Ditanyakan kepada beliau, apa yang dimaksudkan dengan kata gharib. Apakah orang-orang seperti Nabi Isa a.s. yang melarikan diri dari negerinya membawa agama/iman?

Artikel ini adalah sebagian dari isi buku Al-Masih di Hindustan karya Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar di bawah untuk mengunduh gratis buku ini (format PDF 1,7 Mb).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.