Hikmah Yang Harus Terbuka Melalui Masih Mau’ud

Jadi, di sini saya tidak dapat mengatakan apa pun kecuali bahwa hal itu merupakan iradah Tuhan supaya pedang yang berkilauan ini serta argumentasi yang menampilkan hakikat ini, dan yang menggugurkan akidah salib, dari sejak awal sudah ditakdirkan untuk tampil di dunia ini melalui Masih Mau’ud. Sebab, Nabi Allah Muhammad Saw. telah menubuatkan Agama Salib tidak akan mengalami kemunduran dan tidak pula timbul kemerosotan pada kemajuannya selama Masih Mau’ud belum datang di dunia. Dan di tangan beliaulah akan terjadi pemecahan salib.

Dalam nubuatan tersebut terdapat isyarah bahwa pada zaman Masih Mau’ud, atas kehendak Tuhan, akan timbul sarana-sarana yang darinya bakal terbuka hakikat peristiwa penyaliban yang sebenarnya. Barulah akan berakhir, dan usia akidah tersebut akan tamat. Namun bukan melalui suatu perang atau pertempuran, melainkan melalui sarana-sarana samawi yang akan zahir dalam corak ilmu dan argumentasi.

Inilah makna hadits yang tertera pada Shahih Bukhari dan kitab·kitab lainnya. Jadi, adalah mutlak bahwa Langit tidak akan menzahirkan hal-hal, kesaksian-kesaksian, dan bukti-bukti yang telak serta pasti itu, selama Masih Mau’ud belum datang ke dunia. Dan demikianlah yang terjadi.

Sejak sekarang, ketika Mau’ud (orang yang dijanjikan) itu telah datang, mata setiap orang akan terbuka, dan para pemerhati akan menyimak. Sebab, Masih-nya Tuhan telah datang. Sekarang, pasti akan timbul cahaya dalam pemikiran-pemikiran [manusia]; timbul perhatian dalam kalbu-kalbu; timbul kekuatan dalam pena-pena (tulis-menulis); dan timbul semangat/kemampuan pada diri manusia. Dan setiap orang yang baik dan beruntung akan dianugerahi pemahaman. Setiap orang yang mendapat petunjuk akan dianugerahi akal. Sebab, benda yang bercahaya di langit pasti akan menerangi bumi juga. Beberkatlah ia yang meraih bagian dari cahaya ini. Betapa beruntungnya orang yang mendapatkan sesuatu dari cahaya ini. Sebagaimana kalian menyaksikan bahwa buah-buahan muncul pada musimnya, demikian pula cahaya tampil pada waktunya. Dan sebelum ia sendiri yang turun, maka tidak ada yang dapat menurunkannya. Dan ketika ia turun, maka tidak ada yang dapat menghalanginya. Namun, pasti timbul perselisihan dan pertentangan. Tetapi akhirnya kebenaran akan menang.

Sebab, hal ini bukan berasal dari manusia, dan bukan pula hasil karya tangan anak manusia. Melainkan berasal dari Tuhan yang merubah unsur-unsur lain yang menjalankan waktu, serta yang menimbulkan siang dari malam. Dia juga yang menciptakan kegelapan, akan tetapi yang Dia inginkan adalah cahaya. Dia juga membiarkan syirik berkembang, akan tetapi Dia mencintai Tauhid-Nya, dan tidak ingin Jalal-Nya (keperkasaan-Nya) diberikan kepada yang lain.

Tuhan Ingin Menegakkan Tauhid

Sejak manusia diciptakan, hingga punah, hukum kodrat Tuhan adalah, Dia senantiasa mendukung Tauhid. Sekian banyak nabi yang Dia utus, semuanya datang dengan tujuan untuk menghapuskan penyembahan terhadap manusia dan makhluk-makhluk lainnya, lalu menegakkan penyembahan terhadap Tuhan. Dan pengkhidmatan mereka adalah, supaya “Laa ilaha illallah”’ terang-benderang di bumi dan juga berkilauan di Langit. Jadi, yang paling besar di antara mereka itu adalah ia (Rasulullah Saw.) yang telah membuat hal itu menjadi sangat bercahaya; yang telah membuktikan kelemahan tuhan-tuhan palsu sebelumnya dan yang telah membuktikan tidak bermaknanya [tuhan-tuhan palsu] itu dari segi ilmu pengetahuan serta kekuatan. Dan ketika segala sesuatu telah terbukti, maka tanda bukti yang telah beliau wariskan perihal kemenangan besar itu untuk selamanya adalah:

Beliau tidak menyebutkan “Laa ilaha illallah” hanya sebagai pendakwaan yang tidak memiliki bukti. Melainkan, pertama-tama beliau memberikan bukti dan membongkar kepalsuan [pihak-pihak yang] batil, lalu menggiring perhatian umat manusia ke arah ini, bahwa, “Lihatlah, tidak ada tuhan selain Allah yang telah menghancurkan seluruh kekuatan kalian dan memporak-porandakan segenap kecongkakan kalian.”

Jadi, untuk mengingatkan kepada hal yang telah terbukti itu, untuk selamanya, beliau telah mengajarkan Kalimah Suci ini.

Artikel ini adalah sebagian dari isi buku Al-Masih di Hindustan karya Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar di bawah untuk mengunduh gratis buku ini (format PDF 1,7 Mb).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *