Tanggapan Kritikan Mengenai Marham Isa (Salep Isa)

Sekarang, wahai para penyelidik yang berhati bersih! Bergegaslah ke arah bukti yang mulia ini. Dan wahai orang yang bersikap adil! Cobalah sedikit perhatikan masalah ini. Apakah bukti yang terang benderang seperti ini layak untuk diabaikan? ―Apakah tepat jika kita tidak meraih cahaya matahari kebenaran ini?

Pendapat ini sama sekali sia-sia dan tidak berguna, yakni bahwa mungkin saja luka-luka itu dialami oleh Nabi Isa a.s. sebelum masa kenabian beliau, atau memang luka-luka pada masa beliau menjadi nabi, namun bukan luka akibat penyaliban, melainkan tangan dan kaki beliau itu terluka oleh penyebab lainnya. Misalnya, mungkin beliau terjatuh dari suatu atap bangunan dan marham tersebut dipersiapkan untuk penderitaan itu. Sebab, sebelum masa kenabian tidak ada para Hawari, sedangkan pada [keterangan tentang] marham tersebut ada disinggung tentang para Hawari.

Kata Syailikha yang merupakan bahasa Yunani, yang disebut Bãrã, sampai sekarang masih terdapat di dalam buku-buku itu. Dan kemudian. Sebelum masa kenabian tidak diakui adanya suatu kehebatan Yesus sehingga kenangan akan itu perlu diabadikan. Sedangkan masa kenabian beliau hanya tiga setengah tahun, dan dalam masa itu dari sejarah-sejarah mengenai Nabi Isa a.s. tidak terbukti adanya suatu peristiwa pemukulan atau terjatuh, kecuali peristiwa penyaliban.

Dan jika timbul pendapat pada seseorang bahwa mungkin saja luka-luka seperti itu dialami Nabi Isa a.s. akibat penyebab lainnya, maka merupakan tanggung-jawabnya untuk memaparkan bukti akan hal itu. Sebab, peristiwa yang saya paparkan adalah suatu peristiwa yang telah terbukti dan diakui sehingga tidak ada orang Yahudi yang mengingkarinya dan tidak pula orang-orang Kristen, yakni peristiwa penyaliban. Akan tetapi pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Isa mengalami luka-luka akibat penyebab lain, hal itu tidak terbukti dari sejarah umat mana pun. Oleh karenanya, berpikiran demikian berarti dengan sengaja meninggalkan jalan kebenaran. Ini bukanlah suatu bukti yang dapat ditolak hanya dengan menggunakan alasan-alasan tidak berguna.

Sampai sekarang beberapa buku pun masih ada, yang ditulis-tangan oleh para penulisnya. Pada saya juga terdapat sebuah naskah tulisan kuno Qanun Bu Ali Sina yang berasal dari masa itu. Jadi, ini merupakan suatu keaniayaan yang nyata dan merupakan pembunuhan terhadap kebenaran jika bukti yang demikian jelas dicampakkan begitu saja.

Simaklah hal ini berkali-kali. Dan telaahlah benar-benar mengapa buku-buku ini masih ada sampai sekarang di kalangan Yahudi, Majusi,1) Kristen, Arab, Persia, Yunani, Romawi, Jerman, Perancis dan pada perpustakaan-perpustakaan kuno di negara-negara Eropa lainnya serta di Asia? Apakah pantas apabila kita memalingkan wajah begitu saja dari bukti yang cahayanya membuat mata-keingkaran menjadi gelap? Seandainya buku-buku ini hanya tulisan orang-orang Islam saja dan hanya terdapat di kalangan warga Islam semata, maka mungkin orang yang tergesa-gesa dapat beranggapan bahwa orang-orang Islam telah menuliskan hal-hal tersebut di dalam buku-buku mereka dengan mengada-ada untuk menyerang akidah Kristen. Akan tetapi anggapan itu ―selain berdasarkan faktor yang akan saya tulis berikut ini― juga salah berdasarkan faktor bahwa orang-orang Islam dalam bentuk apa pun tidak mungkin mengada-ada. Sebab, orang-orang Islam juga, seperti halnya orang-orang Kristen, berakidah bahwa Nabi Isa a.s. telah pergi ke langit setelah peristiwa penyaliban. Bahkan orang-orang Islam juga tidak percaya bahwa Nabi Isa a.s. telah digantung di tiang salib ataupun telah mengalami luka-luka akibat penyaliban. Lalu, bagaimana mungkin dengan sengaja mereka mengada-ada seperti itu, padahal bertentangan dengan akidah mereka sendiri.

1) Majusi adalah para penyembah api, juga dikenal dengan nama Zoroaster. Peny.

Selain itu, Islam belum ada di dunia ini tatkala [buku-buku] farmakologi demikian telah dituliskan dalam bahasa Romawi atau Yunani dan lain sebagainya, serta telah dimasyhurkan di kalangan jutaan orang. Di dalamnya tertera mengenai Marham Isa dan di situ juga terdapat penjelasan bahwa marham tersebut dibuat oleh para Hawari untuk Nabi Isa a.s.. Sedangkan umat-umat ini ―Yahudi, Kristen, Islam, Majusi― dari hal agama saling bermusuhan satu sama lain. Jadi, [kenyataan] adanya pemikiran tentang marham tersebut di dalam buku-buku mereka ―bahkan adanya sikap pengabaian akidah agama masing-masing ketika menuliskan hal itu― merupakan bukti nyata bahwa marham itu adalah suatu hal masyhur yang tidak dapat diingkari oleh suatu golongan maupun umat tertentu. Ya, sampai ketika tiba saat kedatangan Masih Mau‘ud (Almasih/Isa yang dijanjikan), tidak terfikirkan oleh warga seluruh agama tersebut bahwa dari ramuan resep itu ―yang telah tertulis di dalam ratusan buku dan yang sudah terkenal di kalangan jutaan orang dari berbagai agama― dapat dihasilkan suatu manfaat sejarah.

Artikel ini adalah sebagian dari isi buku Al-Masih di Hindustan karya Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar di bawah untuk mengunduh gratis buku ini (format PDF 1,7 Mb).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *