Arsip Kategori: Uncategorized

Latar Belakang Penyamaan Budha Dengan Nabi Isa as.

Mungkin saja bahwa beberapa peristiwa serta julukan dan ajaran Nabi Isa a.s., secara sengaja atau tidak, telah dikaitkan pula kepada Gautama Budha pada zaman itu. Sebab, selamanya penulisan sejarah Hindu sangat tidak layak. Dan peristiwa-peristiwa [yang dialami] Budha, belum dituliskan hingga zaman Nabi Isa a.s.. Oleh karenanya ada peluang besar bagi para ulama Budha saat itu untuk menisbahkan kepada Budha apa saja yang mereka inginkan.

Jadi, masuk akal apabila mereka telah memperoleh informasi tentang peristiwa-peristiwa dan ajaran-ajaran moral Nabi Isa a.s., lalu mereka campurkan dengan berbagai unsur yang berasal dari mereka sendiri, kemudian mereka menisbahkan kepada Budha.1) Berikut ini akan saya berikan bukti bahwa bagian ajaran moral yang terdapat di dalam buku-buku Agama Budha, yang sangat persis dengan Injil, serta julukan-julukan Cahaya dan sebagainya seperti Nabi Isa a.s. yang diperuntukkan bagi Budha; demikian pula tentang ujian syaitan, kesemuanya ini telah dituliskan di dalam literatur-literatur Agama Budha ketika Nabi Isa a.s. berkunjung ke negeri itu setelah peristiwa penyaliban. Kemudian ada satu lagi kemiripan antara Budha dengan Nabi Isa a.s.. Di dalam [buku] Buddhism tertulis bahwa pada masa-masa Budha diuji syaitan, beliau sedang menjalani puasa, dan beliau puasa 40 hari. Dan penelaah Injil mengetahui bahwa Nabi Isa a.s. juga puasa 40 hari.

1) Saya tidak dapat mengingkari bahwa dalam agama Budha dari sejak awal sudah terdapat satu bagian besar ajaran-ajaran moral. Namun bersamaan dengan itu saya juga mengatakan bahwa di dalamnya, bagian yang persis sekali dengan ajaran-ajaran Injil, tamsil-tamsil Injil dan kalimat-kalimat Injil, telah dimasukkan ke dalam buku-buku agama Budha ketika Nabi Isaas. datang ke negeri itu.

Persamaan Ajaran Moral Budha dan Nabi Isa a.s.

Dan sebagaimana baru saja saya jelaskan, di dalam ajaran moral Budha dan Nabi Isa a.s. terdapat sekian banyak kemiripan serta kesamaan sehingga setiap orang yang memiliki pengetahuan tentang kedua ajaran tersebut akan menyaksikannya dengan penuh takjub. Misalnya, di dalam Injil-injil dituliskan, “Janganlah melawan keburukan; bersikap kasih sayanglah terhadap musuh-musuh kalian; jalanilah hidup sederhana; hindarilah takabur, dusta dan tamak.” Dan itu jugalah yang merupakan ajaran-ajaran Budha. Bahkan lebih ekstrim dari itu. Sampai-sampai membunuh setiap hewan, bahkan ulat dan serangga sekalipun termasuk dosa.

Di dalam ajaran Budha, hal paling besar yang dipaparkan adalah, “Simpati dan soliderlah terhadap [kesedihan/kedukaan] seluruh dunia; ciptakanlah kebaikan bagi segenap manusia dan hewan; dan bentuklah keharmonisan serta cinta satu sama lain,” Dan itu jugalah yang merupakan ajaran Injil.

Dan sebagaimana Nabi Isa a.s. mengutus murid-murid beliau ke berbagai negeri, serta beliau sendiri pun menempuh perjalanan ke sebuah negeri, hal-hal semacam itu juga terdapat di dalam riwayat hidup Budha Buddhism, yang ditulis oleh Sir Muir Williams, di situ tertera bahwa Budha mengutus murid-muridnya ke [berbagai belahan] dunia untuk bertabligh, dan menasihatkan kepada mereka, “Pergilah keluar, dan menyebarlah ke segala arah, dan keluarlah satu per satu dalam berbagai bentuk untuk kebaikan para dewata dan umat manusia serta untuk simpati/solidaritas dunia. Dan kumandangkan supaya orang-orang betul-betul bertakwa. Jadilah orang yang berhati suci. Dan tempuhlah Brahamcari, yakni menyendiri dan menyepi.” Dan bersabda, “Saya juga pergi untuk mengumandangkan masalah/hal itu.”2)

Dan Budha pergi ke Benares, di sana beliau memperlihatkan banyak mukjizat. Dan beliau memberikan sebuah wejangan yang sangat berkesan di sebuah bukit, sebagaimana Nabi Isa a.s. telah memberikan wejangan di sebuah bukit. Kemudian di dalam buku itu juga tertulis bahwa Budha kebanyakan memberikan wejangan dengan menggunakan tamsil-tamsil, dan benda-benda lahiriah beliau gunakan untuk memaparkan perkara-perkara rohaniah.

2) Mahawagga I.II.I; Buddhism, Sir Muir Williams (John Murray, London, 1889), h. 45 -peny.

Serapan Ajaran Nabi Isa a.s. Ketika Datang Ke Hindustan

Sekarang hendaknya disimak, ajaran moral dan cara dalam memberikan wejangan ―yakni, menjelaskan dengan menggunakan tamsil-tamsil― semua cara itu adalah cara Nabi Isa a.s.. Apabila kita mengetengahkan unsur-unsur logis lainnya di hadapan pandangan kita lalu memperhatikan cara pengajaran dan ajaran moral tersebut, maka serta merta terlintas di hati bahwa semua hal itu merupakan duplikat ajaran Nabi Isa a.s. ketika beliau datang ke Hindustan ini. Dan dimana-mana beliau juga memberikan wejangan.

Jadi, para penganut Agama Budha pada masa itu berjumpa dengan beliau, mendapatkan beliau sebagai seorang yang beberkat; lalu menuliskan hal-hal ini di dalam buku-buku mereka, bahkan menyatakan beliau sebagai Budha. Sebab, hal ini terdapat di dalam fitrat manusia, yakni di mana saja manusia menemukan hal yang baik, maka dengan segala cara dia berusaha mengambil hal yang baik itu. Sampai-sampai, apabila di dalam suatu pertemuan muncul suatu hal yang baik dari mulut seseorang, maka yang lainnya akan mengingat hal itu.

Jadi, benar-benar masuk akal bahwa warga Agama Budha telah memaparkan di dalam buku-buku mereka seluruh gambaran yang dimiliki Injil-injil. Misalnya, sebagaimana Nabi Isa a.s. puasa 40 hari, maka demikian pula Budha berpuasa. Sebagaimana Nabi Isa a.s. diuji melalui setan, seperti itu pula Budha telah diuji. Dan sebagaimana Nabi Isa a.s. tanpa ayah, demikian pula Budha. Sebagaimana Nabi Isa a.s. memberikan ajaran-ajaran moral, demikian pula yang diajarkan oleh Budha. Sebagaimana Nabi Isa a.s. mengatakan, “Aku adalah cahaya,” demikian pula yang dikatakan oleh Budha. Dan sebagaimana Nabi Isa a.s. menamakan diri beliau guru dan para Hawari sebagai murid, demikian pula yang dilakukan oleh Budha. Sebagaimana di dalam Injil Matius 10:8-9 [Nabi Isa a.s. mengajarkan]: “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu,” perintah ini jugalah yang diberikan Budha kepada murid-murid beliau. Dan sebagaimana di dalam Injil dianjurkan untuk menyendiri/ menyepi/ bersemedi, demikian pula anjuran yang terdapat di dalam ajaran Budha. Dan sebagaimana setelah peristiwa penyaliban timbul gempa bumi, demikian pula tertulis bahwa setelah kematian Budha telah timbul gempa.

Jadi, faktor sebenarnya yang menimbulkan seluruh persamaan itu adalah, orang-orang Agama Budha bernasib baik sebab Nabi Isa a.s. telah datang ke Hindustan dan tinggal bersama mereka untuk suatu masa yang panjang. Dan mereka telah memperoleh informasi tentang riwayat hidup serta ajaran suci Nabi Isa a.s.. Oleh sebab itulah, merupakan suatu hal yang mutlak bahwa banyak sekali unsur ajaran dan tradisi beliau telah masuk di kalangan mereka. Sebab, mereka sangat menghormati Nabi Isa a.s. dan menyatakan beliau sebagai Budha. Itulah sebabnya orang-orang itu menuliskan ajaran-ajaran beliau di dalam buku-buku mereka dan menisbahkan kepada Gautama Budha.

Persamaan Tamsil-tamsil Budha dan Nabi Isa a.s.

Budha memberikan pengertian kepada murid-muridnya dengan menggunakan tamsil-tamsil yang persis digunakan oleh Nabi Isa a.s., khususnya tamsil-tamsil yang terdapat di dalam Injil-injil. Ini sungguh suatu hal yang sangat menakjubkan. Di dalam sebuah tamsil Budha mengatakan, “Sebagaimana petani menyemai bibit, dan ia tidak dapat mengatakan bahwa hari ini benih akan mekar dan besok akan keluar [buah], demikian pula keadaan murid. Yakni, ia sedikit pun tidak dapat mengutarakan pendapat bahwa pertumbuhannya akan bagus ataukah seperti benih yang ditanam di tanah berbatu lalu menjadi kering.” Lihat, persis seperti itu jugalah yang terdapat di dalam Injil sampai sekarang.

Kemudian Budha memberikan sebuah tamsil lainnya, “Segerombolan rusa hidup bahagia di dalam hutan. Kemudian datang seorang manusia, dan dengan tipu daya membuka jalan yang merupakan jalan kematian bagi rusa-rusa tersebut. Yakni, ia berusaha agar rusa-rusa itu masuk ke suatu jalan yang akhirnya membuat mereka terperangkap dan menjadi mangsa maut. Kemudian datang satu orang lagi dan ia membuka sebuah jalan yang baik. Yakni, ia membuka ladang pertanian supaya [rusa-rusa] itu makan di sana. Ia, membuka parit supaya mereka minum dari situ dan menjadi senang. Demikian jugalah keadaan manusia. Mereka hidup dalam kebahagiaan. Setan datang dan membukakan delapan jalan keburukan bagi manusia supaya mereka mati.31) Barulah datang insan kamil, dan membukakan bagi mereka delapan jalan yang dipenuhi kebenaran, keyakinan dan keselamatan, supaya mereka terselamatkan.”

Di dalam ajaran Budha juga tedapat hal berikut ini, yakni, ketakwaan adalah khazanah terpelihara yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun; itu adalah suatu khazanah yang setelah kematian pun tetap menyertai manusia; itu adalah suatu khazanah yang dengan modalnya tercipta segala ilmu serta segenap kesempurnaan.

Sekarang lihatlah, ini betul-betul persis ajaran Injil. Dan hal-hal itu ditemukan di dalam buku-buku kuno Agama Budha yang masanya tidak jauh dari masa Nabi Isa a.s., bahkan pada zaman yang sama. Kemudian di dalam buku itu juga, halaman 135 tertera bahwa Budha mengatakan, “Saya adalah seseorang yang tidak dapat dinodai oleh siapa pun,” Kalimat ini juga mirip dengan ucapan Nabi Isa a.s..

Di dalam buku Buddhism halaman 45 tertulis, “Ada persamaan yang besar antara ajaran moral Budha dengan ajaran moral orang-orang Kristen.” Saya percaya hal itu. Saya percaya bahwa keduanya memaparkan kepada kita, “Janganlah mencintai dunia; jangan mencintai uang; jangan bermusuhan dengan para musuh; jangan lakukan pekerjaan-pekerjaan buruk dan kotor; taklukkanlah keburukan dengan perantaraan kebaikan; sikapilah orang-orung lain sebagaimana kalian menghendaki mereka mensikapi kalian.”

Begitu banyaknya persamaan antara ajaran Injil dan ajaran Budha sehingga tidak perlu dirinci lagi.

Artikel ini adalah sebagian dari isi buku Al-Masih di Hindustan karya Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar di bawah untuk mengunduh gratis buku ini (format PDF 1,7 Mb).

 

Kesaksian Buku-Buku Sejarah Agama Budha Tentang Selamatnya Nabi Isa as.

Hendaknya jelas bahwa saya telah memperoleh berbagai macam kesaksian dari buku-buku agama Budha, dengan menyimaknya bersamaan akan diketahui secara telak dan meyakinkan bahwa Nabi Isa a.s. pasti telah datang di negeri ini, Punjab, Kashmir dan sebagainya. Kesaksian-kesaksian tersebut saya tuliskan di bawah ini supaya setiap orang yang adil pertama-tama menyimaknya dengan seksama, kemudian menyusunnya di hati dalam suatu bentuk rangkaian yang teratur, lalu dengan sendirinya mencapai kesimpulan yang diuraikan di atas. Kesaksian-kesaksian tersebut adalah sebagai berikut.

Persamaan Budha Dengan Nabi Isa as.

Pertama, julukan yang diberikan kepada Budha menyerupai julukan-julukan kepada Nabi Isa a.s.. Demikian pula peristiwa-peristiwa yang dialami Budha juga menyerupai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kehidupan Nabi Isa a.s.. Namun yang dimaksud dengan agama Budha adalah agama yang terbatas di kawasan Tibet, yakni di Leh, Lhasa, Gilgit, Hams dan sebagainya. Yaitu yang mengenainya telah terbukti bahwa Nabi Isa a.s. pergi ke tempat-tempat tersebut.

Adanya persamaan julukan-julukan itu sudah merupakan bukti yang cukup. Misalnya, Nabi Isa a.s. menamakan diri beliau cahaya di dalam ajaran-ajaran beliau. Demikian pula Gautama telah dinamakan Budha yang dalam bahasa Sansakerta berarti cahaya.1) Dan di dalam Injil, Nabi Isa a.s. dinamakan Guru. Demikian pula Budha dinamakan Sasta, yakni guru. Begitu pula Nabi Isa a.s. di dalam Injil disebut orang yang di berkati. Dan Budha pun dinamakan Sugt, yakni orang yang diberkati. Nabi Isa a.s. dinamakan Putra Mahkota (Pangeran), sedangkan Budha juga dinamakan Pangeran. Di dalam Injil, Nabi Isa a.s. juga dinamakan sebagai orang yang mencapai tujuan kedatangannya. Begitu pula Budha di dalam buku-buku Agama Budha telah dinamakan Sidharta, artinya orang yang memenuhi tujuan kedatangannya. Di dalam Injil, Nabi Isa a.s. dinamakan sebagai pemberi perlindungan kepada orong-orong yang letih. Begitu pula di dalam buku-buku Agama Budha, Budha dinamakan Asarn Sarn, yakni pemberi perlindungan kepada orang-orang yang tidak memliki perlindungan. Di dalam Injil, Nabi Isa a.s. disebut Raja, maksudnya untuk Kerajaan Samawi. Demikian pula Sudha dinamakan Raja.

1) Lihat juga Buddhism, oleh Sir Monier Monier Williams, halaman 23

Sedangkan persamaan peristiwa-peristiwa yang dialami, contohnya ialah, di dalam Injil tertulis bahwa Nabi Isa a.s. telah diuji melalui syaitan dan syaitan mengatakan kepada beliau,

“Jika engkau bersujud kepadaku, maka harta kekayaan serta kerajaan-kerajaan seluruh dunia akan menjadi milik engkau.”

Ujian ini jugalah yang telah diberlakukan pada Budha, dan syaitan berkata kepada beliau. “Jika engkau menerima perintah aku ini ―yakni tinggalkanlah kesederhanaan itu dan kembalilah ke rumah― maka aku akan memberikan kerajaan yang megah kepada engkau.” Akan tetapi sebagaimana Nabi Isa a.s. tidak menuruti syaitan, demikian pula tertulis bahwa Budha pun tidak mematuhinya. Lihat [buku] Buddhism, oleh T. W. Rhys Davids dan Buddhism, oleh Sir Monier Monier Williams.

Sekarang, dari itu jelas bahwa berbagai macam julukan yang diberikan kepada Nabi Isa a.s. di dalam Injil, julukan-julukan itu jugalah yang telah dinisbahkan kepada Budha di dalam buku-buku Agama Budha yang ditulis jauh hari sebelumnya.

Dan sebagaimana Nabi Isa a.s. diuji melalui perantaraan syaitan, demikian pula di dalam buku-buku tersebut diungkapkan bahwa Budha juga telah diuji melalui syaitan. Bahkan di dalam buku-buku tersebut telah dikisahkan tentang ujian terhadap Budha yang lebih banyak dari itu. Yakni, ketika syaitan menawarkan harta kekayaan dan kerajaan kepada Budha, maka terpikir oleh Budha kenapa dia tidak kembali saja ke rumahnya? Akan tetapi Budha mengabaikan pemikiran tersebut.

Kemudian di suatu malam syaitan itu kembali menemui beliau dan membawa seluruh anak keturunannya, serta menakut-nakuti Budha dengan membuat bentuk-bentuk yang sangat menyeramkan. Syaitan-syaitan itu tampak seperti ular, dan dari mulut ular-ular tersebut keluar lidah api. Ular-ular itu pun mulai menyemburkan racun serta api ke arah beliau. Akan tetapi racun tersebut [berubah] menjadi bunga. sedangkan api tadi membentuk lingkaran cahaya di sekeliling Budha. Kemudian tatkala melalui cara itu tidak berhasil maka syaitan memanggil 16 orang anak perempuannya lalu memerintahkan mereka agar memperlihatkan kecantikan mereka kepada Budha. Akan tetapi dengan cara itu pun hati Budha tidak goyah. Dan syaitan tidak berhasil memenuhi kehendak-kehendaknya. Syaitan pun menggunakan cara-cara lain, namun tetap gagal di hadapan keteguhan hati Budha. Dan Budha terus saja mencapai derajat-derajat yang semakin tinggi. Dan akhirnya setelah melewati satu malam panjang ―yakni sesudah menempuh ujian-ujian yang sangat berat serta cobaan-cobaan yang panjang― Budha berhasil menaklukkan musuhnya, yakni syaitan. Dan cahaya pengetahuan telah terbuka atas diri beliau. Begitu pagi menyingsing ―yakni begitu terlepas dari ujian-ujian― beliau mengetahui seluruh hal. Dan pagi hari ketika pertempuran besar tersebut berakhir, itu merupakan hari kelahiran Agama Budha. Dan saat itu usia Gautama 35 tahun. Saat itulah beliau diberi julukan Budha, yakni nur dan cahaya. Dan pohon yang di bawahnya beliau duduk saat itu dikenal dengan nama Pohon Cahaya.

Sekarang buka dan simaklah Injil. Betapa ujian dan syaitan yang menguji Budha betul-betul serupa dengan ujian yang dialami Nabi Isa a.s.. Sampai-sampai usia Nabi Isa Nabi Isa a.s. pada masa cobaan itu kurang lebih menyamai usia Budha.

Dan sebagaimana terbukti dari buku-buku Agama Budha, syaitan pada hakikatnya tidak datang kepada Budha dalam penjelmaan sebagai manusia dan dapat dilihat oleh orang-orang, melainkan dalam suatu pemandangan khusus yang terbatas hanya pada penglihatan Budha saja. Sedangkan percakapan syaitan itu adalah dalam bentuk ilham syaitaniah.

Yakni, beriringan dengan pemandangan tersebut, syaitan memasukkan ke dalam hati Budha supaya meninggalkan cara [hidup sederhana] itu dan mengikuti perintahnya sehingga dia akan memberikan seluruh harta kekayaan dunia kepada beliau. Demikian pula para peneliti dari kalangan Kristen mengakui bahwa syaitan yang datang kepada Nabi Isa a.s. bukanlah dalam bentuk penjelmaan seperti manusia yang lewat di hadapan orang-orang Yahudi; melintasi jalan-jalan mereka lalu berjumpa dengan Nabi Isa a.s.; serta bercakap-cakap seperti manusia sehingga terdengar juga oleh orang-orang yang hadir. Melainkan, perjumpaan itu pun berlangsung dalam bentuk kasyaf (penglihatan ghaibiyah) yang terbatas hanya pada penglihatan Nabi Isa a.s. saja. Sedangkan percakapan itu berlangsung dalam corak ilhami. Yakni, sebagaimana cara-caranya yang berlaku sejak awal, syaitan memasukkan kehendak-kehendaknya ke dalam kalbu Nabi Isa a.s. dalam bentuk tiupan-tiupan yang meresahkan. Akan tetapi kalbu Nabi Isa a.s. tidak menerima ilham-ilham syaitaniah itu, bahkan menolaknya seperti yang dilakukan Budha.

Sanggahan Atas Tuduhan Orang Hindu Aria

Sekarang hendaknya dipikirkan. mengapa terjadi sekian banyak persamaan antara Nabi Isa Nabi Isa a.s. dan Budha?

Mengenai hal ini orang-orang Hindu Aria mengatakan bahwa―na’udzubillah―ketika Nabi Isa Nabi Isa a.s. mengadakan perjalanan ke Hindustan, beliau mendengar ajaran-ajaran Budha serta mengetahui tentang peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Budha. Lalu ketika kembali ke negeri beliau, persis seperti itulah beliau menyusun Injil. Dan beliau mencuri moral-moral Budha lalu menuliskan ajaran-ajaran moral tersebut. Sebagaimana Budha menamakan dirinya Cahaya dan Ilmu serta menetapkan julukan-julukan lain bagi dirinya, seluruh julukan itu jugalah yang telah dipakai Nabi Isa Nabi Isa a.s. untuk diri beliau. Sampai-sampai segenap kisah Budha mengenai telah diujinya sang Budha melalui syaitan pun beliau nyatakan sebagai kisah yang beliau alami.

Tetapi itu merupakan kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang Aria. Sama sekali tidak benar bahwa Nabi Isa Nabi Isa a.s. telah datang ke Hindustan sebelum peristiwa penyaliban. Dan tidak pula ada keperluan untuk melakukan perjalanan demikian pada waktu itu. Justru perjalanan tersebut perlu dilakukan tatkala di negeri Syam orang-orang Yahudi tidak menerima Nabi Isa Nabi Isa a.s. serta atas keangkuhan mereka beliau telah mereka salibkan, dan sebuah hikmah kebijaksanaan halus dari Allah Taala telah menyelamatkan beliau. Barulah beliau memenuhi hak tabligh dan solidaritas terhadap orang-orang Yahudi di negeri itu. Dan akibat keburukan tersebut hati orang-orang Yahudi telah menjadi keras demikian rupa sehingga tidak berkelayakan lagi untuk menerima kebenaran.

Pada waktu itu, setelah Nabi Isa Nabi Isa a.s. memperoleh pengetahuan dari Allah Taala bahwa sepuluh suku Bani Israil yang telah hilang mereka beralih ke kawasan Hindustan, barulah beliau pergi ke negeri-negeri Itu. Dan dikarenakan satu kelompok orang Yahudi telah masuk ke dalam Agama Budha, untuk itulah Nabi Shadiq (Nabi Isa) tersebut memusatkan perhatian kepada orang-orang yang beragama Budha. Jadi, para ulama Agama Budha saat itu yang menanti-nanti [kedatangan] Sang Masih Budha, memperoleh kesempatan untuk menyatakan Nabi Isa a.s. sebagai Budha setelah menyaksikan julukan-julukan dan beberapa ajaran beliau, misalnya, “Bersikap kasih-sayanglah terhadap musuh-musuh kalian; dan janganlah melawan keburukan.” Dan kemudian warna kulit Nabi Isa a.s. yang putih bersih, seperti yang dinubuatkan oleh Gautama Budha melihat semua tanda-tanda ini beliau a.s. dinyatakan sebagai Budha.

Artikel ini adalah sebagian dari isi buku Al-Masih di Hindustan karya Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. Klik gambar di bawah untuk mengunduh gratis buku ini (format PDF 1,7 Mb).