Video Tafsir Kabir Surah Fatihah

Di zaman di mana Islam telah dikritik paling tinggi karena menghasut kekerasan, dan paling kurang karena tertinggal zaman, tampaknya para kritikus Islam maupun kaum Muslim sendiri telah menggunakan teks Alquran, yang dalam beberapa kasus sangat salah menafsirkan kitab suci ini dan ajaran-ajaran sejati Islam.

Tafsir-tafsir klasik Alquran berlimpah, tetapi mereka tidak membahas kemajuan dan jebakan dari zaman kita saat ini. Meskipun Alquran adalah sebuah kitab abadi, yang dirancang agar relevan dalam semua masa dan bagi semua budaya, tafsir-tafsir klasik tidak mengambil pengetahuan modern kita tentang sains, sejarah dan arkeologi (di antara bidang-bidang lain) dan menerapkannya pada penelaahan Al Quran. Tetapi tafsir semacam itu sangat dibutuhkan.

Masuklah Tafsir Kabir, yang menggali jauh Alquran Suci, memadukan berbagai disiplin dan pengetahuan modern dari sains dan linguistik untuk memuaskan para ilmuwan terdalam. Ditulis oleh Khalifatul Masih II Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra., kitab ini sangat penting karena ditulis oleh ‘Putera yang Dijanjikan’ dari Almasih yang Dijanjikan as. sendiri.

Dikenal oleh jutaan orang di seluruh dunia sebagai ‘Muslih Mau’ud’, atau Pembaharu yang Dijanjikan, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra. adalah putra Almasih yang Dijanjikan as., yang, sebelum kelahirannya, menubuatkan bahwa ia akan memiliki seorang putra yang akan memiliki ciri-ciri berikut ini: ‘Dia adalah Firman Allah, karena rahmat dan kehormatan Allah telah membekalinya dengan Kalam Kemuliaan. Dia akan sangat cerdas dan pengertian dan akan lemah lembut dan akan dipenuhi dengan pengetahuan zahir dan batin’. Sepanjang 52 tahun sebagai Khalifatul Masih, ia membuktikan kebenaran nubuatan ini.

Dan memang, lingkup dan kedalaman Tafsir Kabir bersaksi tentang kebenaran nubuatan ini. Berdasarkan catatan ceramah-ceramah mendalam penulis tentang Al-Qur’an yang disampaikan di seluruh India dan Pakistan di kota-kota Qadian, Rabwah, Dalhousie dan Quetta, tafsir ini adalah yang pertama memberikan penjelasan baru tentang ayat-ayat Alquran mempertimbangkan pengetahuan dan penemuan zaman modern. Hazrat Khalifatul Masih II ra. memukau para pembaca dengan menyusun dan memadukan wawasan dari banyak disiplin ilmu termasuk teologi, hukum, politik, sejarah, antropologi, filsafat, geografi, sosiologi, dan leksikografi, yang menunjukkan pengetahuan dan pemahaman luasnya atas realitas tersembunyi maupun duniawi. Karyanya bukan sekadar tambahan pada tafsir-tafsir klasik; melainkan, ia memberikan pendekatan baru kepada penelahaan tafsir-tafsir dan ilmu perbandingan agama, yang membuka jalan baru dalam bidang penelitian ini.

Hz. Muslih Mau’ud ra. menceritakan bahwa ia diajari arti dari ayat-ayat dan surah-surah Alquran oleh Allah Ta’ala sendiri, melalui wahyu-wahyu langsung, mimpi-mimpi dan ilham-ilham ilahi. Aspek-aspek yang dibahas meliputi tertib unik di mana surah-surah Al-Qur’an disusun, kesalingterkaitan setiap ayat dan surah; hubungan tema-tema berbeda dengan satu sama lain; dan fakta bahwa setiap kata telah sengaja diatur dengan cara paling tepat, logis, dan sempurna. Tafsir Kabir juga membuat rujukan eskatologis seperti isyarat bahwa surah Al-Kahfi dan surah-surah kemudian dari Al-Qur’an berhubungan dengan masa ini. Ia menyebutkan keberatan-keberatan para orientalis dan misionaris terhadap ayat-ayat tertentu Alquran dan kemudian membantah semuanya dengan ampuh. Beliau juga menyoroti ketidaktahuan para kritikus tertentu tentang ilmu bahasa Arab serta ketimpangan atau prasangka mendasar mereka yang mungkin mengaburkan penilaian mereka.

Namun, Hz. Muslih Mau’ud ra. tidak menampik kesalahan-kesalahan tak terbela yang dilakukan oleh sejumlah mufasir dan teolog Muslim terkemuka. Misalnya, beliau memberi bantahan ampuh terhadap teori nasikh-mansukh yang mereka nisbahkan kepada Al-Qur’an. Beliau juga mengungkap banyaknya teka-teki yang disebabkan oleh sebagian teolog Muslim yang telah menyisipkan ke dalam tafsir mereka hadis-hadis yang mengutip Nabi Muhammad saw. yang berasal dari sumber-sumber palsu dan dipertanyakan. Bahkan, Hz. Muslih Mau’ud ra. bersabda bahwa penyisipan itu ke dalam karya penafsiran membuat Alquran menjadi sasaran kritik berat. Beliau menangani masalah peka ini sedemikian rupa sehingga membebaskan Al-Qur’an dari keberatan para kritikus non-Muslim. Lebih jauh, beliau memperluas prinsip bahwa satu bagian dari Al-Qur’an berguna sebagai penjelasan bagi bagian lainnya dan bahwa, untuk memahami satu ayat, penting bagi pembaca untuk merenungkan makna-makna yang diberikan dalam ayat lain yang berkaitan dengan topik yang sama. Mempelajari ayat-ayat itu mempertimbangkan sabda-sabda Nabi Suci saw. dan tulisan-tulisan Almasih yang Dijanjikan as. membuka pintu perolehan khazanah kebenaran Alquran.

Sepuluh jilid Tafsir Kabir ditulis selama kurun sekitar 20 tahun, yang mencakup sekitar 6.000 halaman dalam bahasa Urdu. Itu pun, tafsir ini tidak mencakup semua surah dari Al-Qur’an; Tafsir Kabir mencakup surah-surah mulai Surah Al-Fatihah sampai Surah Al-Baqarah (dua surah pertama), kemudian dari Surah Yunus sampai Surah Al-Ankabut (surah 10-29) dan kemudian dengan kesenjangan dalam penerbitan, ia membahas Surah Al-Naba’ hingga Surah Al-Nas (surah 78-114). Ukuran font Urdu saat ini dalam jilid-jilid ini sangat kecil, tetapi jika ukuran font yang lebih lazim digunakan, maka jumlah halaman ini bahkan mungkin melebihi 10.000 hingga 12.000 halaman!

Tafsir Surah Al Fatihah

Nama surah ini yaitu, al-Fātiḥah, memiliki keistimewaan karena disebut sebagai suatu nubuatan dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Jadi, dalam Wahyu 10: 2-3, tertulis:  

‘Dia mempunyai sebuah kitab kecil yang terbuka di tangannya. Dan dia menginjakkan kaki kanannya di laut dan kaki kirinya di tanah, dan menangis dengan suara keras, seperti ketika seekor singa mengaum. Ketika dia berteriak, tujuh petir menyuarakan suara mereka.’

Nama surah ini dan jumlah ayat yang dikandungnya tercatat sebagai suatu nubuatan. Karena ketidaktahuan si penerjemah tentang hakikat nubuatan ini, kata Ibrani patuaḥ telah diterjemahkan sebagai sebuah kitab ‘yang telah dibuka’, sedangkan kata Ibrani Patuaḥ yaitu Fātiḥah – disebut sebagai nama untuk disematkan bagi surah ini. Dalam nubuatan ini, ungkapan ‘tujuh petir menyuarakan suara mereka’ sebenarnya merujuk pada ketujuh ayat Sūrahal-Fātiḥah. Para penulis Kristen mengakui bahwa kabar gaib yang merujuk pada kedatangan kedua Almasih [Yesus Kristus] terdapat dalam ayat-ayat Wahyu yang disebutkan di atas, dan memang ini adalah fakta yang mapan. Jelas dari kata-kata nubuatan ini bahwa [makna-makna sejati dari] surah ini akan tetap tertutup sampai masa kedatangan Almasih. Dengan kata lain, sebuah tafsir terperinci dari surah ini akan diwujudkan selama masa Almasih yang Dijanjikan. Oleh karena itu, tertulis dalam Wahyu bahwa Nabi mendengar suara dari langit, mengatakan: ‘Segellah hal-hal yang diucapkan oleh ketujuh petir, dan jangan tuliskan.’

Hz. Muslih Mauud ra. telah menyebutkan nama-nama Sūrahal-Fātiḥah untuk memperjelas bahwa nama-nama ini telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. sendiri. Seperti terbukti dari beberapa riwayat tentang nama-nama Sūrahal-Fatihah , Rasulullah saw.memberikan nama-nama ini berdasarkan wahyu dari Allah SWT.

Kedua, dalam mencantumkan nama-nama ini, tujuan beliau adalah untuk menunjukkan bahwa nama-nama ini menjelaskan makna-makna yang luas dan mendalam dari Sūrahal-Fātiḥah. Bahkan, sembilan nama ini menyinggung kesepuluh topik yang dijelaskan dalam Surahrah-Fātiḥah.

  1. Fātiḥatul-Kitāb [Surah Pembuka Kitab], yang berarti bahwa telah diperintahkan bahwa surah ini harus ditempatkan paling awal dari Alquran. Ini berguna sebagai kunci yang melaluinya makna-makna Al Qur’an diungkapkan.
  2. Sūrahal-Ḥamd [Surah Pujian]. Surah ini menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan dan tujuan penciptaan manusia. Dengan begitu ia mengungkap bahwa manusia telah diciptakan untuk mencapai tingkat kemajuan tertinggi, dan bahwa hubungan antara Allah SWT dan manusia adalah hubungan Rahmat dan Kasih sayang.
  3. Aṣ – Ṣalāh [Salat/Doa], yang menandakan bahwa ia mengajarkan doa yang sempurna, yang tak tertandingi.
  4. Ia juga Ummul-Kitāb [Ibu Kitab] dalam arti ia membahas umat manusia melalui semua bentuk pengetahuan dan makrifat. Lebih lanjut, kedudukan surah ini sama dengan menjadi ibu bagi Alquran. Ini menandakan bahwa doa-doa yang menyayat hati yang terkandung dalam surah ini menyebabkan wahyu Ummul-Qur’ān [Ibu Alquran] turun dari tahta Allah yang mulia.
  5. Ia juga dikenal sebagai Ummul-Qur’ān [Ibu Al-Qur’an] karena memberi manusia semua cabang ilmu yang berdampak pada kesejahteraan akhlak dan rohaninya.
  6. Ia As-Sab’ul-Mathānī [Tujuh Ayat yang Sering Diulang], karena meskipun surah ini hanya terdiri dari tujuh ayat, ia memenuhi setiap kebutuhan manusia dan jawaban atas semua pertanyaan yang berkaitan dengan kerohanian diungkap melalui ayat-ayat ini. Dus, solusi untuk segala masalah mendalam dapat ditemukan dengan berulang kali merenungkannya. Mathānī [yang sering diulang], menunjukkan bahwa surah ini harus dibaca dalam setiap raka’at salat.
  7. Ia juga Al-Qur’ānul- ‘Ażīm [Al-Qur’an Agung], yaitu, meskipun disebut Ummul-Kitab dan Ummul-Qur’ān juga merupakan bagian dari Al-Qur’an dan tidak terpisah darinya sebagaimana ada yang telah keliru menganggapnya. Surah ini disebut Alquran Agung dalam arti yang sama seperti ketika seseorang diminta untuk membaca Al-Qur’an, maksud di balik ini adalah untuk membaca sebuah surah atau bagian darinya dan bukan membaca seluruh Alquran.
  8. Sūrahal-Fātiḥah juga merupakan ‘obat’ dalam arti bahwa ia memberikan obat untuk semua keraguan yang melintasi pikiran kita mengenai iman kita.
  9. Ia Ruqyah [jimat], yang berarti bahwa, selain menjadi doa umum, pembacaannya juga melindungi manusia dari serangan Setan dan para pengikutnya, dan mengilhami hati dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga godaan Setan jadi tak berbahaya.
  10. Ia juga Kanz [harta] dalam arti arus pengetahuan tanpa batas mengalir darinya. Dalam bahasa Urdu, ada ungkapan ‘menjejalkan sebuah sungai ke dalam sebuah botol,’ yang mungkin tidak bisa diterapkan pada apa pun kecuali Sūrahal-Fātiḥah. Bahkan, bisa dikatakan tentang surah ini bahwa seluruh lautan telah diperas ke dalam sebuah botol.

Singkatnya, tujuan Hz. Muslih Mauud ra. untuk mencantumkan nama-nama ini adalah untuk menarik perhatian pembaca kepada makna-makna luas yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. melaluinya. Memang, nama-nama saja dari sebuah surah, entah itu sembilan atau bahkan seratus, tidak ada gunanya jika mereka tanpa makna. Tidak diragukan, mustahil Rasulullah saw. telah menyatakan sesuatu yang sia-sia; dan karena itu nama-nama ini, bagi semua orang yang merenungkannya, memiliki cahaya yang cemerlang dan bimbingan yang sempurna.

Keutamaan-Keutamaan Sūrahal-Fātiḥah

Banyak keunggulan dari surah ini telah disebutkan dalam Hadits, beberapa di antaranya telah disebutkan dalam nama-nama tersebut di atas. Beliau sekarang akan membahas keunggulan-keunggulan surah ini yang telah dijelaskan secara lebih rinci. Imam Nisā’ī meriwayatkan dari Ubayy bin Ka’b bahwa Rasulullah saw. bersabda:

ما أنزل الله عز وجل في التوراة ولا في الإنجيل مثل أم القرآن وهي السبع المثاني وهي مقسومة بيني وبين عبدي ولعبدي ما سأل

‘Tidak pernah dalam Taurat maupun dalam Injil Allah yang Maha Kuasa menurunkan surah seperti Ummul-Qur’ān (Sūrahal-Fātiḥah), yang juga disebut sebagai Tujuh Ayat yang Sering Diulang. Allah Yang Mahakuasa telah memberitahuku bahwa surah ini telah dibagi rata antara Aku dan hamba-Ku. Melalui surah ini setiap doa hamba-Ku pasti akan dikabulkan.’

Sifat istimewa surah ini sangat penting karena mengandung obat praktis untuk kebaikan kita, baik di dunia ini maupun di akhirat. Doa apa pun yang dipanjatkan menggunakan obat ini akan dikabulkan.

Jelas bahwa ini tidak berarti bahwa setiap doa yang dipanjatkan melalui Surahal-Fātiḥah pasti akan dikabul. Tetapi, ini berarti bahwa orang yang mengambil sarana doa yang terdapat dalam surah ini memang akan dikabulkan doanya.

Sekarang muncul pertanyaan tentang apa sarana/perantaan itu? Jelas dari kalimat surah bahwa sarana-sarana ini adalah:

  1. Bismillāh [Dengan nama Allah]
  2. al-Ḥamdu Lillāh [Segala Pujian adalah milik Allah]
  3. ar-Raḥmān [Yang Maha Pemurah]
  4. ar-Raḥim [Yang Maha Penyayang]
  5. Māliki yawmid-dīn [Pemilik/Penguasa Hari Pembalasan]
  6. Iyyāka na’budu [Hanya Engkau yang kami sembah]
  7. Iyyāka nasta’īn [Hanya Engkau yang kami mohonkan bantuan]

Sama seperti surah ini terdiri dari tujuh ayat, ada juga tujuh prinsip untuk pengabulan doa yang terkandung dalam surah ini.

Saksikan dan/atau unduh video-video Tafsir Kabir Surah Al-Fatihah di bawah ini dalam format 3GP hemat-file..


Unduh video ini (format 3GP 11,3 Mb)


Unduh video ini (format 3GP 10,6 Mb)


Unduh video ini (format 3GP 11,5 Mb)


Unduh video ini (format 3GP 11 Mb)


Unduh video ini (format 3GP 11 Mb)

Unduh video bagian 6 (format 3GP 14 Mb)

Unduh video bagian 7 (format 3GP 11,4 Mb)

Unduh video bagian 8 (format 3GP 13,7 Mb)

Unduh video bagian 9 (format 3GP 11 Mb)

Unduh video bagian 10 (format 3GP 18 Mb)