Arsip Tag: perlunya seorang imam

Kisah-Kisah Nyata Kehinaan Para Penentang Imam Zaman

Beberapa musuh kami yang kurang akal sangat bersedih hati dan berduka cita mengenai kegagalan mereka dalam perkara Dr. Clark. Meskipun telah berusaha keras namun mereka harus menemui kekalahan besar dalam perkara di Pengadilan yang dampaknya menyangkut jiwa dan kehormatan pengarang ini. Bukan saja kekalahan, bahkan suatu nubuatan ilhami mengenai perkara Pengadilan ini telah tergenapi yang telah diberitahukan kepada lebih dari dua ratus tokoh tepercaya lagi terpandang dan juga telah disiarkan secara luas sebelumnya kepada masyarakat.

Akan tetapi sayang, karena prasangka buruk dan sikap ketergesa-gesaan para penentang maka mereka menderita kekalahan lainnya juga. Yaitu, ketika pada hari-hari tersebut pengarang dikenakan pajak penghasilan secara langsung dan tanpa proses penyelidikan dari pihak Pengadilan serta dituntut untuk membayar 187,5 Rupee, maka orang-orang ini – yang tidak perlu disebutkan nama-nama mereka (karena orang-orang arif akan mengetahui dengan sendirinya) – bersukacita di dalam hati dan mereka berpikir bahwa jika sasaran mereka sebelumnya telah meleset maka ganti ruginya telah terbayar dengan kasus Pengadilan ini.

Akan tetapi sekali-kali tidak mungkin bagi orang yang berhati jahat dan egois dapat meraih keberhasilan. Tidak ada keberhasilan yang dapat dicapai melalui rencana dan tipu daya karena ada suatu Wujud yang senantiasa melihat hati manusia, memeriksa ke dalam pikiran mereka dan memberi perintah dari Langit sesuai dengan niat mereka. Jadi, Dia pun tidak akan membiarkan maksud orang-orang yang berhati busuk itu menjadi sempurna.

Setelah diadakan penyidikan menyeluruh, pajak penghasilan itu dibebaskan pada tanggal 17 September 1898. Hikmah di balik perkara Pengadilan yang terjadi secara mendadak ini adalah bahwa Allah Ta’ala ingin menunjukkan dukungan-Nya terhadap diriku yang terbukti dalam tiga hal dan tiga aspek yakni jiwaku, kehormatanku dan kekayaanku. Karena telah terbukti adanya pertolongan ilahi terhadap jiwa dan kehormatanku dalam perkara Pengadilan Dr. Clark, namun pertolongan Ilahi terhadap kekayaanku masih tersembunyi. Oleh karena itu, karunia serta kemurahan hati-Nya telah menginginkan untuk memperlihatkan dukungan-Nya terhadap kekayaanku kepada khalayak ramai. Dengan dukungan-Nya ini berarti Dia telah menyempurnakan 3 bentuk dukungan-Nya. Jadi, inilah rahasianya di balik perkara Pengadilan ini.

Sebagaimana melalui perkara Pengadilan Dr. Clark ini Allah Ta’ala tidak menyebabkan kebinasaan dan kehinaan menimpa diriku bahkan telah menzahirkan Tanda Kebesaran-Nya, begitu pula dalam hal ini. Seperti halnya Tuhanku sebelumnya telah memberikan kabar suka melalui ilham bahwa pada akhirnya aku akan dibebaskan dalam perkara Pengadilan yang menyangkut jiwa dan kehormatanku ini sedangkan para penentang akan mendapatkan kehinaan, demikian pula Dia telah memberikan kabar suka sebelumnya bahwa pada akhirnya kami akan meraih kemenangan sedangkan mereka yang menaruh dengki dan berhati jahat akan mengalami kegagalan.

Ternyata, kabar suka itu telah tersebar luas di dalam kalangan Jemaat kami sebelum putusan terakhir dijatuhkan. Sebagaimana halnya Jemaat kami telah menyaksikan suatu Tanda samawi di dalam perkara Pengadilan yang menyangkut jiwa dan kehormatanku ini, demikian pula di dalam perkara sekarang ini pun mereka telah menyaksikan suatu Tanda samawi yang menyebabkan keimanan mereka bertambah.

Sungguh aku heran bahwa meskipun Tanda demi Tanda terus bermunculan, para ulama tidak menunjukkan perhatian untuk menyambut kebenaran ini. Mereka pun tidak memperhatikan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kekalahan kepada mereka dalam setiap medan. Betapa mereka sangat mendambakan agar suatu dukungan Ilahi terbukti mengenai diri mereka. Akan tetapi, alih-alih mendapat pertolongan, kegagalan serta rasa frustasi mereka terus tampak dari hari ke hari.

Sebagai contoh, pada hari-hari ketika kalender-kalender memberitakan secara luas bahwa akan terjadi gerhana bulan dan matahari pada bulan Ramadhan yang akan datang, mulai banyak timbul di hati orang-orang bahwa mungkin ini adalah Tanda kedatangan seorang Imam yang dijanjikan. Pada saat itu mulai timbul ketakutan di dalam hati para ulama bahwa jangan sampai orang-orang condong kepadaku karena hanya akulah satu-satunya orang yang mendakwakan diri sebagai Mahdi dan Al-Masih.

Lalu untuk menyembunyikan tanda tersebut, pertama-tama beberapa di antara mereka mulai mengatakan bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan sekali-kali tidak akan terjadi di dalam bulan Ramadhan mendatang, namun akan terjadi jika Imam Mahdi mereka telah muncul. Akan tetapi, tatkala terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan pada bulan Ramadhan tersebut lalu mereka mulai beralasan bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan ini tidak sesuai dengan kata-kata hadits. Karena menurut hadits bahwa gerhana bulan akan terjadi pada malam pertama dan gerhana matahari akan terjadi pada tanggal pertengahan sedangkan yang terjadi adalah gerhana bulan terjadi pada malam ke-13 dan gerhana matahari terjadi pada tanggal 28 pada bulan tersebut.

Dijelaskan kepada mereka bahwa hadits tersebut tidak menunjuk tanggal pertama pada bulan tersebut. Dalam istilah bahasa Arab, kata bulan pada tanggal pertama disebut hilal, bukan qamar. Sedangkan di dalam hadits disebutkan kata qamar, bukan hilal. Jadi maksud hadits tersebut ialah gerhana bulan akan terjadi pada malam pertama dari antara malam-malam terjadinya gerhana bulan yakni pada tanggal 13 pada bulan tersebut. Sedangkan gerhana matahari akan terjadi pada hari pertengahan di antara hari-hari yang tetap terjadinya gerhana matahari, yakni tanggal 28.1

[1] Sesuai dengan hukum alam, gerhana bulan terjadi pada 3 malam berikut yakni tanggal 13, 14 dan 15 menurut penanggalan bulan. Gerhana bulan selalu terjadi pada malam-malam ini. Dengan demikian, berdasarkan perhitungan ini, tanggal 13 adalah malam pertama terjadinya gerhana bulan sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits tersebut. Sedangkan gerhana matahari terjadi pada tanggal 27, 28 dan 29 menurut penanggalan bulan dan berdasarkan perhitungan ini, hari pertengahan terjadinya gerhana matahari adalah tanggal 28. Dan pada tanggal itulah terjadinya gerhana matahari.

Setelah mendengar maksud yang sebenarnya dari hadits tersebut, para ulama yang kurang akal itu merasa sangat malu namun kembali muncul dengan alasan lainnya seraya mengatakan bahwa salah seorang di antara para perawi hadits ini tidak dapat dipercaya. Kemudian dijelaskan kepada mereka bahwa jika suatu nubuatan yang terkandung di dalam sebuah hadits telah tergenapi, maka segala bantahan yang hanya berlandaskan praduga tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kenyataan yang ada yang memberikan bukti kuat dalam mendukung keshahihan hadits tersebut.

Dengan kata lain, tergenapinya suatu nubuatan memberikan kesaksian bahwa ini merupakan perkataan seorang yang jujur. Kini, mengatakan bahwa ia bukanlah orang jujur melainkan seorang pendusta merupakan sebuah penolakan terhadap kebenaran yang dengan sendirinya sudah terbukti benar. Para ulama hadits senantiasa berpegang pada prinsip bahwa keraguan tidak dapat meniadakan kebenaran. Telah tergenapinya suatu nubuatan secara harfiah pada masa seseorang yang mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi merupakan suatu kesaksian yang meyakinkan bahwa apa pun ucapan yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran. Namun mengatakan bahwa mereka menaruh keberatan mengenai kepribadiannya hanyalah suatu dugaan belaka karena terkadang seorang pendusta pun berkata benar. Selain itu nubuatan ini juga terbukti dengan cara-cara yang lain dan sebagian pemuka mazhab Hanafi pun menulis tentang hal itu.

Mengingkari hal ini adalah tidak adil bahkan sama sekali curang. Setelah mendengar jawaban yang tak terbantahkan tersebut, mereka terpaksa mengakui bahwa hadits tersebut shahih dan benar-benar menerangkan tentang kedatangan seorang Imam Yang Dijanjikan dalam waktu dekat. Akan tetapi mereka mengatakan orang ini bukanlah Imam Yang Dijanjikan tersebut melainkan akan ada orang lainnya yang akan datang dalam waktu dekat. Namun jawaban mereka itu ternyata lemah dan salah karena jika ada Imam yang lain, maka ia harusnya sudah muncul pada penghujung abad ke empat belas2 sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits.

[2] Sesuai dengan kalender Islam yang dikenal dengan Kalender Hijriyah.

Akan tetapi lima belas tahun pada abad ini telah berlalu dan tidak ada seorang pun Imam mereka yang muncul. Sekarang, alasan terakhir yang mereka kemukakan adalah “Orang-orang ini adalah kafir. Jangan membaca buku mereka dan jangan bergaul dengan mereka. Janganlah mendengarkan perkataan mereka karena bisa memberikan pengaruh terhadap hati.” Hendaknya ini menjadi peringatan bagi mereka bahwa langit telah menentang mereka dan keadaan bumi saat ini pun menentang mereka. Betapa besarnya kehinaan yang menimpa mereka bahwa di satu sisi langit memberikan kesaksian yang berlawanan dengan mereka sedangkan di sisi lain pun bumi juga telah berbalik melawan mereka berkenaan dengan kekuasaan Salib (Kristen, pent). Kesaksian dari langit terdapat di dalam kitab Darul Quthni dan kitab-kitab lain bahwa di dalam bulan Ramadhan terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari. Sedangkan kesaksian dari bumi adalah kekuasaan salib yang selama masa kekuasaannya diperlukan kedatangan seorang Masih Mau’ud sebagaimana tercantum dalam hadits kitab Shahih Bukhari. Kedua kesaksian itu mendukung kami dan mendustakan mereka.

Tanda yang zahir dengan kematian Lekhram3 juga membuat mereka tidak kurang dari rasa malu. Demikian pula pada pertemuan Mahutsu4 yaitu seminar agama-agama dimana uraian kami telah unggul sebagai sebuah Tanda dan tidak sedikit menyebabkan mereka kehilangan muka. Tidak hanya uraian kami unggul pada kesempatan tersebut bahkan sebelumnya keunggulan ini pun telah dinubuatkan melalui sebuah ilham dan juga telah diterbitkan dalam berbagai selebaran.

Seandainya Atham5 masih hidup maka Mia Muhammad Hussain Batalwi dan orang-orang yang sepaham dengannya akan memiliki peluang untuk memberikan penafsiran-penafsiran yang keliru. Namun Atham pun dengan kematiannya yang cepat menjadi kehancuran bagi orang-orang ini. Ia akan tetap hidup selama ia terus tutup mulut. Akan tetapi tatkala ia membuka mulutnya, ia dibinasakan sesuai dengan persyaratan yang terkandung dalam ilham tersebut. Allah Ta’ala memberikan kepadanya umur sesuai yang digariskan oleh persyaratan di dalam ilham tersebut. Namun sejak ia mulai melanggarnya, pada saat itu juga penyakit-penyakit parah telah mencengkramnya sedemikian rupa sehingga kehidupannya segera berakhir.

[3] Pandit Lekhram merupakan seorang pemimpin Arya Samaj dari Peshawar.

[4] Mahutsu adalah konferensi yang diselenggarakan di Lahore pada bulan Desember 1896 di mana tulisanku diakui secara universal.

[5] Abdullah Atham adalah seorang Pendeta Kristen terkenal yang menggunakan kata-kata kasar terhadap Hadhrat RasulullahSaw di dalam bukunya Andruna-e-Bible.

Akan tetapi karena beberapa ulama kurang akal tersebut tidak merasakan kehinaan ini dan memandang nubuatan bersyarat ini sebagai kenakalan semata seolah-olah nubuatan tersebut tidak memiliki syarat apa pun, mereka pun tidak menarik pelajaran secara jujur dari kepanikan dan diamnya Atham dalam hari-hari yang ditentukan dalam nubuatan tersebut. Tidak pula mereka mendapatkan petunjuk dari kenyataan bahwa aku telah menghimbau Atham untuk mengambil sumpah dan ia pun dihasut oleh para pengikutnya untuk mengajukan gugatan terhadap diriku, akan tetapi ia tetap mengingkarinya seraya meletakkan tangan di telinganya.

Karena Allah Ta’ala tidak ingin membiarkan tanda-tanda-Nya diselimuti keraguan, Dia menggenapi nubuatan Lekhram yang tak bersyarat tersebut dan mengandung tanggal, hari serta cara kematiannya dengan sangat jelas. Akan tetapi sayang, para penentang sama sekali tidak mengambil faedah dari Tanda Allah Ta’ala yang sangat jelas itu. Jelaslah bahwa apabila aku seorang pendusta maka nubuatan mengenai Lekhram merupakan peluang besar untuk menghinakan diriku sebab nubuatan itu sama sekali tidak disertai suatu syarat dan aku telah menerbitkan sebuah pernyataan tertulis berkenaan dengan nubuatan tersebut bahwa jika nubuatan ini dusta belaka, maka aku adalah seorang pendusta dan layak menerima setiap hukuman dan kehinaan. Jika aku adalah seorang pendusta maka pastilah Allah Ta’ala menghinakan diriku dan menghapuskan Jemaatku sampai ke akar-akarnya tatkala aku menyatakan sumpah seraya menerbitkan nubuatan yang tidak bersyarat ini.

Tetapi Allah Ta’ala tidak berbuat demikian. Bahkan Dia menampakkan kehormatanku dan menerang hati mereka yang belum dapat memahami nubuatan tentang Atham ini karena kebodohan mereka. Bukankah ini merupakan suatu hal yang patut direnungkan bahwa mengapa Allah Ta’ala mendukung diriku dalam hal nubuatan yang tidak bersyarat ini yang bahkan akan menimbulkan kehancuran bagi diriku sendiri jika tidak tergenapi? Mengapa Allah Ta’ala menggenapi nubuatan tersebut yang dengannya menumbuhkan kecintaan yang begitu mendalam terhadap diriku di dalam hati ratusan orang sehingga menjadikan beberapa penentang sejatiku menangis dan berbai’at kepadaku? Jika nubuatan ini tidak tergenapi, maka Mia Muhammad Hussain Batalwi akan berpikir untuk menulis ulasan yang akan diterbitkan dalam Ishā’atus Sunnah untuk mendustakan diriku dan pengaruh apa yang akan timbul di dalam diri orang-orang.

Dapatkah seseorang memahami mengapa Allah Ta’ala menimpakan rasa malu serta kehinaan terhadap Hussain Batalwi beserta orang-orang yang sepaham dengannya pada kesempatan itu? Bukankah telah tercantum di dalam Al-Quran bahwa Dia senantiasa memberikan kemenangan bagi orang-orang mukmin? Lalu apakah yang terjadi pada diriku jika nubuatan – yang tidak bersyarat ini dan juga berkenaan dengan seorang penentang yang menggertakan giginya terhadapku – ternyata dusta belaka? Apakah tidak benar bahwa jika nubuatan ini ternyata dusta belaka maka tentulah Syeikh Muhammad Hussain Batalwi masih akan bergembira menyambut hari raya dan menerbitkan edisi khusus majalahnya yang memuat berbagai ejekan dan olok-olokan serta menyelenggarakan berbagai pertemuan?

Akan tetapi sekarang, apakah yang ia perbuat sejak terbuktinya kebenaran nubuatan tersebut? Apakah tidak benar bahwa ia telah mencampakkan suatu tanda agung Allah Ta’ala seperti sampah serta telah mengisyaratkan di dalam majalahnya yang terkutuk bahwa akulah yang telah membunuh Lekhram.

Maka aku katakan bahwa aku tidaklah membunuh dengan menggunakan senjata buatan manusia akan tetapi dengan senjata samawi, yakni doa. Aku mengambil jalan ini semata karena adanya desakan dan permintaan yang berulang-ulang darinya. Aku tidak ingin memanjatkan doa yang buruk terhadapnya akan tetapi ia sendirilah yang telah menginginkannya. Jadi dengan cara inilah aku dituduh telah membunuhnya sebagaimana Nabi kita Rasulullah Saw. dituduh telah membunuh raja Iran, Khusro Parvez.

Pendek kata, kasus pengadilan Lekhram ini telah menyempurnakan hujjah Allah Ta’ala terhadap Muhammad Hussain dan orang-orang yang sepaham dengannya. Sesudah itu, zahirlah tanda Allah Ta’ala di dalam perkara Pengadilan Dr. Clark dan tergenapilah nubuatan yang telah tersebar luas di kalangan ratusan orang sebelum keputusan akhir dijatuhkan. Di dalam perkara Pengadilan itu Syeikh Batalwi memperoleh kehinaan sedemikian rupa sehingga jika ia bernasib baik, ia akan langsung bertaubat tanpa ditunda-tunda lagi karena telah menjadi jelas baginya siapakah yang telah menikmati dukungan-Nya.

Hendaklah diingat bahwa di dalam perkara Pengadilan Dr. Clark, Muhammad Hussain telah berusaha mati-matian bersama orang-orang Kristen untuk membinasakanku serta tidak melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk menghinakanku. Pada akhirnya Tuhanku telah membebaskanku, namun sebaliknya ia menanggung kehinaan yang sedemikian rupa ketika meminta kursi saat persidangan berlangsung sehingga seorang yang terhormat sekalipun akan dapat menanggung malu. Hal ini terjadi karena ia telah berusaha untuk menghinakan seorang yang benar.

Tuan Deputy Commisioner telah menghardiknya ketika ia meminta kursi seraya berkata, “Tidaklah Engkau dan tidak pula Bapak engkau memiliki hak untuk duduk di atas kursi!” Ia memintanya untuk pindah ke belakang dan berdiri di sana. Lebih buruknya lagi, tatkala ia dihardik, aku yang lemah ini – yang ia inginkan untuk mendapatkan kehinaan – justru diberikan tempat duduk di dekat tuan Deputy Commisioner. Aku tidak perlu berulang-ulang menulis peristiwa ini. Kalau mau, silahkan temui dan tanyakan secara langsung kepada para pejabat dan pegawai Pengadilan yang ada.

Masalahnya sekarang ialah, Allah Ta’ala berjanji di dalam Al-Quran bahwa Dia senantiasa menolong orang-orang mukmin dan memuliakan mereka serta memberikan kehinaan kepada para pendusta dan kepada para dajal. Lalu kenapa harus ada kontradiksi bahwa dalam segala hal, rasa malu, nama buruk dan penghinaan telah banyak ditimpakan kepada Muhammad Hussain? Apakah ini adalah cara Allah Ta’ala memperlakukan para kekasih-Nya?

Sekarang, keinginan terbesar Syeikh Batalwi dalam Pengadilan kasus pajak penghasilan tersebut ialah agar dengan suatu cara aku dikenakan pajak tersebut sehingga ia dapat memperindah halaman majalahnya yaitu Ishā’atus Sunnah dengan menuliskan hal ini dengan panjang lebar dan sedemikian rupa dapat menutupi kehinaan-kehinaan sebelumnya.

Bagaimanapun juga, dalam hal ini pun ia mengalami kegagalan total dan kasus pajak tersebut telah diampuni. Allah Ta’ala telah menyerahkan perkara Pengadilan tersebut ke tangan para pejabat Pengadilan yang akan menanganinya dengan jujur dan adil. Maka orang yang bernasib buruk dan berhati busuk itu pun tetap meleset dalam perkara ini.

Aku sampaikan ribuan rasa syukur ke hadapan Allah Ta’ala karena telah membukakan kebenaran yang sebenarnya kepada para pemegang kekuasaan. Dan dalam kesempatan ini, kami hendak menyampaikan rasa terima kasih kepada Deputy Commisioner Gurdaspur, Mr. T. Dixon yang ke dalam hatinya telah disingkapkan hakikat sebenarnya. Inilah alasan kenapa sejak awal aku telah berterima kasih kepada Pemerintahan Inggris dan para pejabatnya serta telah memuji mereka karena mereka senantiasa menegakkan keadilan.

Captain Douglas, Commisioner sebelumnya dalam perkara Pidana Dr. Clark dan Mr. T. Dixon dalam perkara pajak penghasilan ini memberikan dua buah contoh keadilan dan kebenaran dari Pengadilan Inggris yang tak dapat kami lupakan seumur hidup. Sebagai contoh, kasus yang dihadapkan kepada Captain Douglas sangat sensitif di mana pihak penggugatnya adalah seorang Kristiani terpandang yang didukung oleh hampir seluruh pendeta di Punjab. Akan tetapi Commisioner ini tidak peduli siapakah yang mengajukan kasus ini. Ia tetap bertindak adil dan membebaskan diriku. Kasus yang dihadapi Mr. T. Dixon juga sangat sensitif karena pembebasan pajak mengakibatkan kerugian pada pemerintah. Maka orang tersebut belakangan ini pun bertindak semata-mata demi keadilan, peradilan dan kesetaraan.

Menurut hematku, para pejabat ini merupakan contoh cemerlang dari segi kepedulian pemerintah terhadap rakyatnya, dari niat baiknya serta dari ketegasannya dalam memegang prinsip keadilan. Dan pada kenyataanya, apa yang dipahami oleh Mr. T. Dixon mengenai keadilan sungguh benar. Oleh karena itu, kami senantiasa berterima kasih dan juga mendoakannya. Pada kesempatan ini patut disebutkan kerja keras serta penyelidikan yang dilakukan oleh Munshi Tajuddin, kepala wilayah Batala, yang dengan menjunjung tinggi keadilan dan dengan menempatkan kebenaran sesuai pada tempatnya, telah memperlihatkan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya bagaikan cermin kepada para pejabat tingginya dan dengan demikian telah membantu mereka untuk mencapai fakta-fakta sebenarnya.

Artikel ini adalah sebagian isi dari buku Perlunya Seorang Imam karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Klik untuk unduh Perlunya Seorang Imam (PDF 2,5 Mb)

Kisah Nyata Keberkatan Rohani dari Mengenal & Bergaul dengan Imam Zaman

SEPUCUK SURAT MAULVI ABDUL KARIM SAHIB KEPADA SEORANG TEMAN 1

Dari Abdul Karim,
Kepada saudara saya tercinta, Nasrullah Khan

Hari ini hatiku terdorong lagi untuk memperdengarkan sebuah cerita yang mengharukan. Semoga anda pun akan menjadi sahabatku untuk berbagi. Setelah sekian lama, keinginan ini pun tidak luput dari suatu dorongan karena Yang Maha Menggerakkan Hati pun tidak pernah merangsang para hamba-Nya untuk melakukan suatu pekerjaan sia-sia.

Chaudri Sahib! Aku pun seorang anak Adam yang terlahir dari seorang ibu yang lemah. Aku juga harus mengatasi segala kelemahan manusiawi, ketertarikan untuk menjalin hubungan dengan orang-orang tercinta serta kekurangan lainnya yang ada dalam diriku. Seseorang yang terlahir dari rahim seorang wanita tidak dapat menjadi keras hati jika tidak ada satu penyakit yang menjangkitinya. Ibuku sekarang masih hidup. Beliau adalah seorang yang sangat lembut hati dan sedang menderita penyakit kronis. Begitu juga ayahku dan saudara-saudaraku tercinta pun masih hidup. Aku pun memiliki hubungan-hubungan kekerabatan lainnya.

[1] Secara kebetulan mata saya tertuju pada sepucuk surat yang ditulis oleh saudara saya Maulwi Abdul Karim yang dialamatkan kepada seorang temannya. Karena isi surat tersebut berkaitan dengan buku ini, maka saya menerbitkannya di sini.

Lalu apakah aku ini berhati batu, yakni yang telah melewatkan waktu berbulan-bulan di sini duduk bagaikan seorang fakir? Apakah aku ini telah gila dan kehilangan akal sehat? Atau apakah aku mengikuti sesuatu secara membabi buta dan benar-benar bodoh akan pengetahuan samawi? Atau apakah aku dikenal di kalangan keluargaku, lingkungan sekitarku atau di kotaku sebagai seseorang yang menjalani kehidupan dengan penuh kefasikan? Atau apakah aku ini adalah seorang penipu yang senantiasa berganti samaran demi mengisi perut?

Bahwa dengan karunia Allah Ta’ala aku terbebas dari segala kelemahan seperti itu. Kemudian hal apakah yang telah menimbulkan suatu ketabahan di dalam diriku yang telah mengungguli semua daya tarik terhadap hubungan-hubungan itu? Perkara ini sangat jelas dan dapat dijelaskan dengan sebuah perkataan saja yakni: Mengenal Imam Zaman Ini.

Ya Allah, betapa perkasanya kekuatan yang terkandung di dalamnya sehingga memutuskan segala perhubungan dan ikatan itu. Anda sangat mengetahui bahwa aku beruntung memperoleh pengetahuan-pengetahuan dan rahasia-rahasia Kitab Allah sesuai dengan kemampuanku. Aku tidak mempunyai kesibukan lain di rumah selain menelaah dan mengajarkan Kitab Allah. Lalu pelajaran apakah yang aku peroleh di sini? Apakah tidak cukup untuk kepuasan ruh dan jiwaku dengan mempelajarinya di rumah dan menjadi pusat perhatian oleh suatu golongan?

Demi Allah, sekali-kali tidak! Aku menelaah Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang-orang. Aku senantiasa berdiri di atas mimbar pada hari Jum’at untuk memberikan nasehat berkenaan dengan akhlak yang sangat mengesankan, untuk memberi peringatan kepada orang-orang akan azab Ilahi dan juga untuk menekankan pada mereka agar menyelamatkan diri dari apa yang telah dilarang. Namun, hati nurani ini senantiasa mencela diriku.

Mengapa kamu menyatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. — Ash-Shaff, 61:3-4

Aku membuat orang lain menangis tetapi aku sendiri tidak menangis. Aku menjauhkan orang-orang dari pekerjaan dan perkataan yang tidak layak namun aku tidak pernah menghentikan diriku sendiri berbuat demikian. Karena aku bukanlah seorang yang riya dan tidak pula egois dan bukan pula mencari popularitas dan kekayaan menjadi tujuanku, maka tatkala aku sejenak menyendiri, datanglah pikiran-pikiran ini secara bertubi-tubi di dalam hatiku.

Namun karena aku tidak melihat suatu jalan dan arah yang lurus untuk memperbaiki diri sendiri dan keimanan pun tidak memberi peluang untuk berpuas diri atas perbuatan rendahan tersebut, pada akhirnya aku menyerah di bawah tekanan ini dan mengidap sakit jantung yang serius. Berkali-kali aku membulatkan hati untuk berhenti belajar, mengajar dan memberi nasehat namun dengan segera aku kembali menelaah kitab-kitab tentang Akhlak, kitab-kitab Tasawuf dan Tafsir-tafsir. Aku membaca Ihyā-ul-Ulūm, Awāriful Ma’ārif dan keempat jilid Fatuhat Makiyah dan banyak buku lainnya dengan penuh perhatian. Sedangkan Al-Quran Suci senantiasa merupakan makanan bagi rohku dan alhamdulillāh, kini pun masih tetap demikian.

Sejak kecil dan bahkan sejak balita, kecintaanku begitu besar kepada Kitab Suci tersebut sehingga aku pun tidak dapat menjelaskannya dengan kata-kata. Pendek kata, ilmu pun berkembang dan aku pun mendapatkan kemampuan untuk membuat majelis menjadi gembira dan untuk membumbui nasehatku dengan cerita-cerita lucu. Aku telah melihat bahwa banyak orang yang telah sembuh dari penyakitnya dengan tanganku. Akan tetapi belum ada suatu perubahan di dalam diriku. Setelah kemelut dalam pikiran, akhirnya terbukalah kepadaku bahwa selama aku belum menemukan suatu teladan yang hidup atau mencapai suatu sumber kehidupan yang dapat mensucikan segala kekotoran batin, selama itu pula segala kekotoran ini tidak akan dapat hilang.

Lihatlah bagaimana seorang Pembimbing Sempurna dan seorang Khātamul Anbiyā Saw memberikan petunjuk kepada para sahabatnya melalui tahapan perkembangan kerohanian selama 23 tahun. Al-Quran adalah khazanah ilmu, sedangkan beliau Saw. merupakan perwujudannya yang sejati. Bukanlah keagungan serta kemuliaan hukum-hukum Al-Quran dalam corak ilmu serta bahasanya yang telah meluluhkan hati orang-orang secara luar biasa. Namun adalah karena suri tauladan serta akhlak beliau Saw. yang tiada tandingannya yang didukung oleh manifestasi tanda-tanda samawi yang berkesinambungan yang telah menciptakan kesan yang tertanam secara abadi di dalam hati para pecintanya.

Karena Allah Ta’ala sangat cinta kepada Islam dan menghendaki agar Islam senantiasa tegak selama-lamanya, maka Dia tidak ingin kalau agama ini pun kelak menjadi seperti agama-agama lain di dunia yang hanya tinggal kisah-kisah dan dongeng-dongeng usang. Di setiap zaman, agama beberkat ini senantiasa memiliki seorang suri tauladan yang hidup yang melalui ilmu dan amalnya dapat mengingatkan orang-orang kembali kepada zaman Hadhrat RasulullahSaw., seorang wujud yang kepadanya Al-Quran diturunkan.

Sesuai dengan sunnah tersebut, di zaman kita sekarang ini Allah Ta’ala telah membangkitkan Hadhrat Masih Mau’ud ayyadahullāhul Wadūd di tengah-tengah kita agar beliauas. menjadi saksi atas zaman ini. Di dalam surat ini aku ingin menuliskan beberapa dalil yang menggerakkan hati untuk menegaskan perlunya seorang wujud suci Imam Shadiqas.. Namun karena beberapa alasan, Hadhrat Masih Mau’udas. sendiri telah menyelesaikan buku beliau berkenaan dengan “Perlunya seorang Imam” dan dalam waktu dekat akan segera diterbitkan. Oleh karena itu, aku pun mengurungkan niat saya dalam hal ini.

Terakhir, aku mengingatkan anda kembali tentang pertemuan kita yang penuh kebaikan, tentang niat baik anda untuk hadir dalam Daras Al-Quran, tentang pendapat anda terhadap diriku dan yang terpenting adalah tentang kebaikan hati serta persiapan suci anda dan aku menarik hati nurani dan fitrat suci anda untuk merenungkannya karena waktu berpikir buat anda sangat kritis. Di manakah suatu keimanan yang hidup yang sesuai dengan Al-Quran dan yang ingin Al-Quran nyalakan di dalam dada manusia seperti api yang membakar dosa? Seraya bersumpah atas nama Tuhan pemilik Arasy yang Agung, Aku menyakinkan anda bahwa inilah keimanan yang seseorang peroleh dengan berbaiat di atas tangan Hadhrat Masih Mau’ud as. – seorang wakil Hadhrat RasulullahSaw. – dan dengan tinggal dalam persahabatan suci bersama beliau as..

Sekarang aku khawatir bahwa dengan menunda pekerjaan mulia ini akan menyebabkan perubahan yang mengerikan di dalam hati. Tinggalkan ketakutan terhadap dunia dan lepaskanlah segala sesuatu demi Allah Ta’ala sebab segala sesuatu pasti akan diperoleh kembali.

Yang lemah,

ABDUL KARIM
Qadian, 1 Oktober 1898

Surat ini adalah lampiran dari buku Perlunya Seorang Imam karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.

Klik untuk unduh Perlunya Seorang Imam (PDF 2,5 Mb)